Memahami Pesan di Balik Nasehat Ulama Sang Warisatul Ambiya

 
Memahami Pesan di Balik Nasehat Ulama Sang Warisatul Ambiya

 

LADUNI. ID, KOLOM- Islam sangat menghormati para ulama. Sosok ulama itu merupakan umat pilihan untuk menyampaikan risalah yang telah disampaikan Rasulullah saw. Para ulama sebagai pewaris nabi. Tentu saja yang diwarisi itu bukanlah harta ataupun tahta, melainkankan ilmu.

Sebagaimana disebutkan Abu ad-Darda’. Beliau berkata, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Dan sesungghnya para ulama itu adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi itu tidak mewariskan uang dinar dan tidak juga dirham. Mereka itu hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya maka ia telah mengambil peruntungan yang sangat banyak”. (HR. Abu Dawud, no: 3641, 3642, aT-Turmudzi, no: 2683)

Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,: “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’alatidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Menanggapi hadust diatas, sebagian ulama juga menyebutkan tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi satu bentuk kejahilan dan kejahilan itu merupakan suatu ilmu. Ini semua termasuk dari terbaliknya gambaran kebenaran (kenyataan) di akhir zaman dan terbaliknya semua urusan.

Salah satu fenomena zaman now yang merupakan era industri 4.0 dihiasi situasi politik hal yang sangat kita sayangkan ulama menjadi objek cacian masyarakat dengan berbagai dalih dan alasan, padahal ini tidak perlu terjadi terlebih daging ulama itu racun dan ditakutkan diakhir hayat suul khatimah. Walaupun fenomena ini telah diungkapkan dimana akhir zaman ulama direndahkan namun tugas kita tetap berkewajiban memuliakan dan menghormatinya. Ini sebagaimana diungkapkan dalam salah satu karya ulama berbunyi:

“Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 60)

Wafatnya seorang yang alim akan menimbulkan bahaya bagi umat. Keadaan ini menunjukkan keberadaan ulama di tengah kaum muslimin akan mendatangkan rahmat dan berkah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Lebih-lebih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengistilahkan mereka dalam sebuah sabdanya:“Sebagai kunci-kunci untuk membuka segala kebaikan dan sebagai penutup segala bentuk kejahatan

Islam sangat menghormati para ulama. Sosok ulama itu merupakan umat pilihan untuk menyampaikan risalah yang telah disampaikan Rasulullah saw. Para ulama sebagai pewaris nabi. Tentu saja yang diwarisi itu bukanlah harta ataupun tahta, melainkankan ilmu.

Ini sebagaimana disebutkan Abu ad-Darda’. Beliau berkata, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Dan sesungghnya para ulama itu adalah pewaris para nabi. Dan sesungguhnya para nabi itu tidak mewariskan uang dinar dan tidak juga dirham. Mereka itu hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya maka ia telah mengambil peruntungan yang sangat banyak”. (HR. Abu Dawud, no: 3641, 3642, aT-Turmudzi, no: 2683)

Berdasarkan hadis itu jelaslah bahwa para ulama berposisi pada kedudukan Rasulullah dalam menyapaikan risalah dan ilmu kepada umat di muka bumi ini. Mereka yang mengolok-olok dan memandang rendah para ahli ilmu dan orang shalihtelah melakukan perbuatan tercela.

Dalam ayat lain juga disebutkan tentang perilaku mereka yang menghina dan mengolok-olokan ulama. Surah Al-Mukminun berbunyi, “...Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa (di dunia): “Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik. Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu menertawakan mereka. Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang”. (QS. al-Mu’minun:: 103-111].

Berkaitan dengan tafsir ayat ini, Ibnu Katsir menyebutkan: “Kemudian Allah menyebutkan dosa mereka di dunia, yaitu mereka dahulu mengolok-olok hamba-hamba Allah yang beriman dan para wali-Nya. Allah mengatakan:“Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa (di dunia): Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik. Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan,” yakni kalian malah mengolok-olok dan mengejek doa dan permohonan mereka kepada-Ku. Sampai pada firman Allah “sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku,” yakni kebencian kalian kepada mereka membuat kalian lupa kepada-Ku. Firman Allah,  “kamu selalu menertawakan mereka,” yakni menertawakan perbuatan dan amal ibadah mereka. (Kitab Al-Mishbah Al-Munir fi Tahdzib Tafsir Ibnu Katsir).

Beranjak dari itu sosok ulama sebagai pewaris nabi dan kita berkewajiban untuk menghormati dan memuliakannya serta menjauhkan diri menghina mereka, secara tidak langsung menghina mereka juga menghina baginda Nabi. Islam sebagai agama dakwah terkadang dakwah itu tidak harus dengan bahasa lisan terkadang bahasa nonlisan dari berbagai perspektif juga menjadi nasehat untuk kita, iqra'(membaca) itu tidak harus membaca ayat maqaliyah namun ayat kauniyah juga menjadi renungan untuk kita, sekali lagi mari kita muliakan dengan menuntut warisannya ilmu dan ketaulauladannya.

***Helmi Abu Bakar el-Langkawi, Penggiat Literasi asal Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga.