Wisata Ziarah Dan Berdoa di Makam Syekh Domba di Klaten

Memperoleh Donasi Sebesar : Rp0. Donasi Sekarang
 
Wisata Ziarah Dan Berdoa di Makam Syekh Domba di Klaten
Syekh Domba tak bisa dilepaskan dengan kisah perjalanan Sunan Pandanaran (Bupati Semarang I) yang kini dimakamkan di atas bukit Jabalkat yang tak jauh dari keberadaan bukit tempat Syekh Domba dimakamkan. Syekh Domba sampai dimakamkan di bukit Cakaran diawali dari kisah sang bupati yang konon setelah bertaubat dan masuk Islam setelah disadarkan oleh Sunan Kalijaga. Sebagai wujud kepatuhan dan mendalami Islam, sang Bupati pun harus meninggalkan jabatan dan menuju Bayat, Klaten. Di Bayat inilah sang bupati akhirnya mendapat sebutan Sunan Pandanaran. Sebagaimana kisahnya, dalam perjalanannya dari Semarang menuju Bayat, sang bupati yang disertai oleh isterinya tiba-tiba dicegat perampok sewaktu sampai di daerah Salatiga. Kedua perampok berhasil mengambil harta yang secara diam-diam dibawa oleh oleh isteri sang bupati yang ditempatkan di teken gading yang menyertai perjalanannya. Sementara Syekh Domba yang waktu itu bernama Ki Sambang Dalan mendekati sang Bupati untuk meminta harta yang lebih berharga. Karena sang Bupati tidak membawa harta dan Ki Sambang Dalan terus memintanya, sang Bupati akhirnya mengeluarkan kutukan kepada Ki Sambang Dalan. Perampok ini dikutuk wajahnya seperti kambing. Aneh bin ajaib, saat itulah wajah Ki Sambang Dalan berubah wujud menjadi kambing dan akhirnya bertaubat. Ki Sambang Dalan yang akhirnya ikut sang Bupati dan masuk Islam kemudian diberi nama Syekh Domba. Tak hanya itu, sang Bupati yang kemudian berganti nama Sunan Pandanaran menjadikan Syekh Domba sebagai abdi kinasih dibanding murid lainnya. Ia diberi tugas menyiapkan air untuk wudlu dan lainnya serta azan di masjid yang dibangunnya. Karena kesaktian Syekh Domba, saat azan suaranya sampai di Demak dan didengar para wali. Selanjutnya, bukit tempat masjid itu dipotong oleh Sunan Kalijaga agar suara azannya tak sampai Demak.

Mine coins - make money: https://bit.ly/money_crypto

Alkisah 

Syekh Domba tak bisa dilepaskan dengan kisah perjalanan Sunan Pandanaran (Bupati Semarang ) yang kini dimakamkan di atas bukit Jabalkat yang tak jauh dari keberadaan bukit tempat Syekh Domba dimakamkan. Syekh Domba sampai dimakamkan di bukit Cakaran diawali dari kisah sang bupati yang konon setelah bertaubat dan masuk Islam setelah disadarkan oleh Sunan Kalijaga.

Sebagai wujud kepatuhan dan mendalami Islam, sang Bupatipun harus meninggalkan jabatan dan menuju Bayat, Klaten. Di Bayat inilah sang bupati akhirnya mendapat sebutan Sunan Pandanaran. Sebagaimana kisahnya, dalam perjalanannya dari Semarang menuju Bayat, sang bupati yang disertai oleh isterinya tiba-tiba dicegat perampok sewaktu sampai di daerah Salatiga.

Kedua perampok berhasil mengambil harta yang secara diam-diam dibawa oleh oleh isteri sang bupati yang ditempatkan di teken gading yang menyertai perjalanannya. Sementara Syekh Domba yang waktu itu bernama Ki Sambang Dalan mendekati sang Bupati untuk meminta harta yang lebih berharga. Karena sang Bupati tidak membawa harta dan Ki Sambang Dalan terus memintanya, sang Bupati akhirnya mengeluarkan kutukan kepada Ki Sambang Dalan.

Perampok ini dikutuk wajahnya seperti kambing. Aneh bin ajaib, saat itulah wajah Ki Sambang Dalan berubah wujud menjadi kambing dan akhirnya bertaubat. Ki Sambang Dalan yang akhirnya ikut sang Bupati dan masuk Islam kemudian diberi nama Syekh Domba. Tak hanya itu, sang Bupati yang kemudian berganti nama Sunan Pandanaran menjadikan Syekh Domba sebagai abdi kinasih dibanding murid lainnya.

Ia diberi tugas menyiapkan air untuk wudlu dan lainnya serta azan di masjid yang dibangunnya. Karena kesaktian Syekh Domba, saat azan suaranya sampai di Demak dan didengar para wali. Selanjutnya, bukit tempat masjid itu dipotong oleh Sunan Kalijaga agar suara azannya tak sampai Demak.
 

Lokasi Makam

Untuk menuju lokasi makam Syekh Domba memang cukup melelahkan. Lantaran untuk sampai di cungkup makam yang berada di atas bukit Cakaran, pengunjung harus melewati jalan setapak dan menanjak cukup tajam dengan jarak tempuh tak kurang 0,5 km. Meski kondisi jalan demikian, namun kenyataannya tak menyurutkan niat banyak orang untuk berziarah sekaligus tirakat di makam tersebut.