Biografi KH. M. Basori Alwi Murtadlo

 
Biografi KH. M. Basori Alwi Murtadlo

Daftar Isi Profil KH. M Basori Alwi Murtadlo

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Mendirikan Pesantren
  5. Kiprah KH. M Basori Alwi Murtadlo
  6. Karya-Karya

Kelahiran

KH. Muhammad Basori Alwi Murtadlo adalah putra dari pasangan KH. Alwi Murtadlo dengan Nyai Riwati. Beliau lahir di Singosari, Malang, Jawa Timur pada 15 April 1927.

Wafat

KH. Muhammad Basori Alwi Murtadlo wafat pada umur 93 tahun atau lebih tepatnya pada Senin 23 Maret 2020. Beliau dikabarkan meninggal dunia pukul 15.30 karena penyakit jantung koroner. 

Beliau di salatkan di Masjid Hizbullah Jl Masjid Singosari dan dimakamkan di komplek pemakaman Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ), pada Selasa 24 Maret 2020 pukul 12.00 WIB, setelah salat duhur. 

Pendidikan

Semasa kecil, KH. Muhammad Basori Alwi Murtadlo belajar al-Qur’an langsung di bawah bimbingan ayahnya. Kemudian melanjutkan pendidikanya kepada KH. Muhith, seorang penghafal Al-Qur’an dari Pesantren Sidogiri (Pasuruan). Setelah itu, beliau melanjutkan lagi dengan belajar kepada kakak kandung beliau, KH. Abdus Salam.

Tidak cukup kepada kakaknya, beliau juga belajar kepada Kiai Yasin Thoyyib (Singosari), Kiai Dasuqi (Singosari) dan Kiai Abdul Rosyid (Palembang).

Pada tahun 1946-1949, beliau kembali melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Madrasah Aliyah dan mondok di Pon-Pes Salafiyah Solo.

Di Solo, beliau belajar al-Qur’an langsung kepada Sayyid Abdur Rahman bin Syihab Al-Habsyi. Selain di Solo beliau juga pernah belajar kepada guru-guru dari berbagai daerah juga, diantaranya, Syaikh Ismail dari Banda Aceh, dan Kiai Abdullah bin Nuh dari Bogor.

Kecintaannya untuk memperdalam al-Qur’an tidak dibatasi oleh usianya, karena, ketika sudah berkeluarga dan tinggal di Gresik, beliau masih menyempatkan diri untuk mengaji kepada KH. Abdul Karim.

Kecintaannya kepada al-Qur’an membuat beliau ingin terus memperdalam kajian tentang al-Qur’an terutama lagam atau lagu-lagu al-Quran. Untuk mengetahui lagam al-Qur’an beliau melanjutkan pendidikannya kepada KH. Damanhuri (Malang) dan KH. Raden Salimin (Yogya). Selanjutnya, beliau juga memperdalam lagu al-Qur’an melalui kaset rekaman para qari’ Mesir, khususnya Syaikh Shiddiq Al-Minsyawi dan Syaikh Mahmud Al-Ayyubi dari Iraq.

Hingga menghantarkan beliau menjadi Dewan Hakim pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) tingkat Nasional

Selain itu, pada  tahun 1950 beliau menjadi pengajar di SMI Surabaya dan PGA Negeri Surabaya (1950-1953) dan di PGAA Negeri Surabaya (1953-1958). Sejak itulah, jiwa keguruannya beliau semakin terasah.

Mendirikan Pesantren

Setelah lama merantau, pada tahun 1958, beliau kembali ke Singosari. Di sini beliau meneruskan tradisi mengajarnya dengan menjadi guru di PGAA Negeri Malang (1958-1960), kemudian menjadi dosen Bahasa Arab di IAIN Malang (1960-1961, sekarang UIN Malang).

Di samping mengajar di lembaga formal, beliau aktif mengajar bacaan dan lagu al-Qur’an di berbagai tempat. Sampai akhirnya, pada 1978, beliau mendirikan Pesantren yang dinamainya Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) di Singosari, Malang, Jawa Timur,

Kiprah KH. M Basori Alwi Murtadlo

Kiprah dan andil besar KH. Muhammad Basori Alwi Murtadlo di bidang pendidikan al-Qur’an sungguh luar biasa. Benar, jika beliau disebut pakar al-Qur’an karena memang tidak berhendti untuk mengajar al-Qur’an dan mendakwahkannya.

Beliau sudah bisa diibarat dengan seorang pendekar yang sudah malang-melintang di dunia tilawah. Bersama dua qari’ nasional lainnya, Ustadz Abdul Aziz Muslim dan (alm.) Fuad Zain, beliau pernah diundang untuk membaca Al-Qur’an di 11 negara Asia Afrika (Arab Saudi, Pakistan, Irak, Iran, Siria, Lebanon, Mesir, Palestina, Aljazair dan Libya). Hal itu berlangsung selepas peristiwa pemberontakan G30S PKI tahun 1965. “Saat berkunjung ke Saudi, kami berkesempatan melakukan ibadah haji, dan itu adalah haji pertama saya” kata beliau.

Tak pelak lagi, beliau  tercatat sebagai tokoh kaliber nasional dan internasional di bidang Tilawatil Qur’an. Beliau salah satu pendiri Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadh (Organisasi para qari’ dan penghafal al-Qur’an), sekaligus salah satu pencetus ide Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat internasional pada Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) tahun 1964. Beliau juga termasuk penggagas MTQ tingkat nasional.

Sampai sekarang, beliau tidak pernah absen menjadi juri, baik pada MTQ dan STQ Nasional, maupun MTQ tingkat provinsi. Di samping itu, beliau dipercaya menjadi juri MTQ tingkat internasional di Brunei Darussalam (1985), Mesir (1998) dan Jakarta (2003).Selain terjun di dunia pendidikan, Ustadz Basori adalah sosok aktivis organisasi kemasyarakatan yang ulet dan selalu konsen pada dunia dakwah islamiyah. Tercatat, beliau pernah memegang tampuk kepemimpinan Gerakan Pemuda Ansor (1955-1958).

Karya-karya

KH. Muhammad Basori Alwi Murtadlo bisa dibilang, adalah sosok ulama yang komplit. Fasih berceramah dan penulis yang produktif. Beliau banyak menulis buku dan risalah ringkas, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia. Karya-karya beliau, antara lain:

  1. Mabadi’ Ilm At-Tajwid (Pokok-Pokok Ilmu Tajwid) dilengkapi Kamus “Miftahul Huda” (Panduan Waqaf dan Ibtida’)
  2. Madarij Ad-Duruus Al-Arabiyah (Pelajaran Bahasa Arab, 4 Jilid)
  3. Dalil-Dalil Hukum Islam (Terjemahan Matan Ghayah Wat Taqrib, 2 Jilid)
  4. Al-Ghoroib Fii Ar-Rasm Al-Utsmany (Seputar bacaan dan tulisan asing dalam Mushaf Rasm Utsmany)
  5. Ahadiits Fi Fadhailil Qur’an Wa Qurra’ihi (Hadis-hadis tentang keutamaan Al-Qur’an dan para pembacanya)
  6. Terjemahan Syari’atullah Al-Khalidah (Karangan Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki)
  7. Pedoman Tauhid (Terjemahan Aqidatul Awwam)
  8. Pengantar Waraqaat Imam Al-Haramain
  9. Membahas kekuasaan (Terjemahan Al-Nasaih al-Diniyah Wa Al-Washaya Al-Imaniyah)
  10. Al-Miqat Al-Jawwi Li Hajji Indonesia (Miqat Udara bagi Haji Indonesia)
  11. Manasik Haji
  12. Pedoman Singkat Imam dan Khotib Jum’at
  13. Kumpulan khutbah Jum’at
  14. At-Tadlhiyah, Petunjuk singkat tentang qurban
  15. At-Tartil Waa Al-Lahn, risalah tentang Tepat dan Salah Baca dalam Al-Qur’an
  16. Bina Ucap (Mahraj dan Sifat Huruf)
  17. Bina Ucap (Hamzah Washol dan Hamzal Qotho’)
  18. Dzikir Ba’da Shalat Jum’at
  19. Zakat dan Penggunaannya
  20. Hukum Talqin dan Tahlil
  21. Tarawih dan Dasar Hukumnya
  22. Dan beberapa kitab dan risalah lainnya.

Dari sekian banyak karya ilmiah Ustadz Basori, dapat disimpulkan, bahwa pemikiran beliau amat dinamis dan berwawasan luas, mencakup berbagai bidang kehidupan umat beragama.

Dengan berkembangnya dunia tehnologi modern, beliaupun tak ketinggalan zaman. beliau beserta para santrinya melahirkan rekaman melalui kaset, MP3, VCD dan DVD yang memuat panduan pembelajaran al-Qur’an, praktek metode pengajaran, teori-teori ilmu tajwid dan sebagainya. Semua produk itu di buat di studio milik pesantren.

Dengan demikian, KH. Muhammad Basori Alwi Murtadlo memang layak menyandang predikat kiai. Keikhlasan, amal ibadah dan perilaku beliau sehari-hari mendukung ke-kiai-annya. Dan jika seorang kiai disyaratkan memiliki kiprah yang kongkret di masyarakat, seperti pesantren atau pengajian-pengajian, Kiai Basori Alwi memiliki semuanya.

KH. Muhammad Basori Alwi Murtadlo dan pesantrennya, PIQ, telah menjadi salah kiblat yang penting dalam hal tilawah. PIQ menjadi pusat pembinaan para qari dan qariah dari kota dan kabupaten di seluruh Jawa Timur.

Tak hanya itu, KH. Muhammad Basori Alwi Murtadlo, sejak dulu juga menjadi rujukan untuk Qira’ah Bit-Tartil atau membaca al-Qur’an yang baik dan benar, khususnya di beberapa tempat di Jawa Timur. Baik masyarakat umum, maupun masyarakat pesantren merasa perlu datang kepadanya untuk memintanya mengoreksi (mentashih) bacaan mereka dalam hal fasohah (pengucapan makhraj dan sifat huruf).

Paling tidak, ada tiga pesantren yang mempercayakan para gurunya untuk digembleng bacaan al-Qur’annya oleh beliau, yang selanjutnya mereka tularkan kepada para santrinya. Ketiga pesantren itu adalah Pondok Sidogiri (Pasuruan), Ponpes As-Salafiyah Asy-Syafi’iyah Asembagus (Situbondo), dan pesantren di Lumajang. Selain itu, beliau rutin mengajar masyarakat umum di kota Probolinggo, Leces, Pacet (Mojokerto), Blitar, Sidoarjo, dan Malang.