Biografi KH. Abdul Hamid Chasbullah

 
Biografi KH. Abdul Hamid Chasbullah

Daftar Isi Profil KH. Abdul Hamid Chasbullah

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Menjadi Pengasuh Pesantren
  6. Teladan

Kelahiran

KH. Abdul Hamid Chasbullah dilahirkan di dusun Tambakberas, Jombang, tepatnya di Pesantren Tambakberas. Beliau merupakan putra ke dua dari delapan bersaudara, dari pasangan KH. Casbullah said dengan nyai Lathifah.

Saudara-saudara beliau diantaranya, Abdul Wahab, Khodijah, Abdur rohim, Fatimah, Sholihah, Zuhriyah dan Aminatur Rokhiyah.

Kakaknya yang bernama KH. Abdul Wahab Chasbullah merupakan tokoh sentral pendiri dan penggerak NU. Sedang adiknya yang bernama nyai khodijah merupakan istri KH. Bisri Syansuri (juga salah satu pendiri NU dan pendiri Pesantren Denanyar Jombang). Adapun adiknya lagi yang bernama KH. Abdurrohim memperistri Nyai Mas Wardliyah Yogyakarta (keponakan KH. Ahmad dahlan pendiri muhammadiyah). Adik KH. Hamid yang lainnya, yakni Nyai Fatimah diperistri oleh KH. Hasyim Kapas Jombang.

Wafat

KH. Abdul Hamid Chasbullah wafat pada tanggal 8 ramadhan tahun 1956 M. Beliau meninggal dunia pada saat ngajar ngaji para santrinya.

Keluarga

KH. Abdul Hamid Chasbullah melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai Zaenab dari Sepanjang Sidoarjo. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai satu orang anak.

Setelah itu, KH. Abdul Hamid Chasbullah menikah kembali dengan Nyai Khodijah dari Cepoko Nganjuk. Buah dari pernikahannya yang kedua, beliau dikaruniai Lima putra.

Kemudian, KH. Abdul Hamid Chasbullah menikah lagi  dengan Nyai Mu’minah dari Sambong Jombang. Buah dari pernikahannya yang ketiga, beliau dikaruniai tiga putra.

Pendidikan

Masa kecil KH. Abdul Hamid Chasbullah dihabiskan untuk mondok dari pesantren ke pesantren, diantaranya Pesantren Bangkalan Madura yang diasuh oleh KH. Kholil Bangkalan, Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Tebuireng dibawah bimbingan KH. Hasyim Asy'ari, Pesantren Krapyak Yogyakarta dibimbing langsung oleh Mbah KH. Munawwir. Selanjutnya, KH. Abdul Hamid Chasbullah menuntut ilmu di Makkah al Mukarromah.

Menjadi Pengasuh Pesantren

Setelah sekian lama malang-melintang mengembara mencari ilmu, KH. Abdul Hamid Chasbullah kembali ke kampung halamannya untuk mengabdikan hidupnya dalam melanjutkan perjuangan ayahnya, yakni mengembangkan Pesantren Tambakberas, bersama mbah Wahab dan mbah Abdurrohim.

Beliau bertiga berkolaborasi untuk membesarkan Pesantren Tambakberas dengan pembagian tugas yang sangat dinamis. Mbah Wahab konsentrasi di luar untuk membesarkan NU dan terlibat perpolitikan nasional, sedangkan mbah Abdurrohim mengurusi perkembangan madrasah, adapun KH. Abdul Hamid Chasbullah mengurusi pengajian pondok dan sholat lima waktu.

KH. Abdul Hamid Chasbullah terkenal sebagai sosok kiai yang zuhud, wira’, sederhana, daimul wudlu dan istiqomah dalam berkhidmat di pesantren. Beliau lulusan terbaik ilmu al quran di pesantren Krapyak. Kitab yang sering dibaca beliau antara lain kitab Shahih Bukhori, Shahih Muslim dan tafsir al-Quran, dalam bidang al-Qur’an KH. Abdul Hamid Chasbullah termasuk sosok yang diakui kepakarannya, salah satu peninggalan beliau adalah mushaf al Qur'an 30 juz dengan tulisan tangan beliau sendiri.

Teladan

Teladan yang dapat ditiru dari KH. Abdul Hamid Chasbullah adalah dengan sosok yang sangat sederhana, bahkan hanya untuk memenuhi kebutuhan dapur tidak jarang beliau mengalami kesulitan.

Selain itu, beliau juga sosok pengabdi yang ikhlas untuk mengayomi dan ngopeni para santri, baik santri yang tinggal di Pesantren Tambakberas maupun santri yang tinggal di Pesantren Sambong, sekaligus menemani istri ketiga beliau yang mukim di Pesantren Sambong, pembagian waktu mengaji ini dilakukan KH. Abdul Hamid Chasbullah setiap hari senin pagi sampai selasa sore.

Beliau juga mempunyai rutinan ngaji dan istighotsah di desa Kalijaring. Jemaahnya adalah para orang tua dan kiai kiai kampung yang biasa dilaksanakan setiap hari kamis malam jumat, yang biasanya dilaksanakan di atas jam 10 malam.