Peran Agama dalam Mengontrol Tubuh Manusia

 
Peran Agama dalam Mengontrol Tubuh Manusia
Sumber Gambar: Pinterest, Ilustrasi: laduni.ID

Laduni.ID, Jakarta - Seorang filsuf kenamaan kontemporer berkata, “Sebelum ngomong soal ideologi, saya benar-benar ingin tahu, bukankah kita akan lebih materialis lagi seandainya tubuh dan dampak kekuasaan terhadapnyalah yang pertama kali kita kaji.” (Michel Foucault, Power/Knowladge, 1980)

Ungkapan Faucault ini menarik untuk kita kaji dan refleksikan kembali dalam konteks agama dan masyarakat. Esensi agama yang menjadi inti dari proses penghambaan dalam kehidupan sehari-hari kita tentu membutuhkan kajian-kajian kembali. Masalah-masalah semacam kejahatan, amoral-asusila, dan kekerasan yang belakangan ini sering diberitakan (khususnya dalam kasus kekerasan seksual anak usia dini) merupakan persoalan yang juga menyangkut masalah agama, khususnya dalam lingkup lembaga sosial terkecil seperti keluarga.

Asumsi dasar dari persoalan tersebut di atas perlu memperhitungkan tentang kaitan antara agama dan dimensi kepentingan tubuh manusia dalam kehidupan masyarakat. Bryan S. Turner (1991) dalam Religion and Social Theory pernah menekankan bahwa dalam sistem religius, tubuh adalah penyampai “kemahasucian ilahi” sekaligus juga simbol dari kejahatan.

Tubuh manusia di mana kepentingan ada merupakan tempat jiwa belajar dan sekaligus merupakan penghalang keselamatan (salvation). Kesehatan jasmani seseorang dan keselamatan dari tindakan destruktif itu saling terkait. Begitupun dengan jasmani yang sakit bisa juga menjadi pertanda cobaan religius atau malah bukti laknat yang menimpanya.

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN