Sikap Rasulullah SAW Kepada Pasangan yang Ngambek

 
Sikap Rasulullah SAW Kepada Pasangan yang Ngambek
Sumber Gambar: Dok. Laduni.ID (ist)

Laduni.ID. Jakarta – Ketika sepasang manusia memilih untuk memadu kasih bersama, pastinya halangan dan rintangan pun akan menerjang langkahnya. Ketika ego dari masing-masing pasangan diuji, dan dilebur jadi satu dalam bungkus pengorbanan dan cinta. Namun terkadang masihlah ada sisa ego tersebut yang meluap menjadi amarah dan nafsu.

Sejenak untuk kita menyimak keharmonisan rumah tangga dari Rasulullah SAW, kesucian cinta yang berhasil beliau pupuk bersama istri-istrinya. Maka layaklah untuk kita jadikan pelajaran serta teladan dalam menjalankan rumah tangga.

Simpulnya, sikap Rasulullah SAW ketika menghadapi istri-istrinya yang ngambek atau marah, mencerminkan keluhuran sifatnya serta kesabaran yang tiada tara dari Rasulullah SAW.

Bak pepatah mengatakan, "Jadilah kau air yang memadamkan api amarahku ketika aku marah, begitupun aku akan memadamkan api amarahmu ketika kau marah," yang sudah Rasulullah SAW aplikasikan dalam kehidupannya.

Buktinya, kesaksian dari sahabat, dalam riwayat suatu ketika Sayyidina Umar bin Khattab memarahi istrinya atas suatu hal, bukannya malah diam, istrinya malah membalas ucapannya tersebut. Kemarahan Sayyidina Umar pun meluap, hingga ia merasa ingkar atas apa yang diperbuat istrinya. Akan tetapi istrinya malah berkata:

 فقالت: ما تنكر أن أراجعك، فوالله إن أزواج النبي صلى الله عليه وسلم ليراجعنه، وتهجره إحداهن اليوم إلى الليل

"Mengapa kau heran (atas balasanku padamu)? Sungguh istri-istri Rasulullah SAW telah melakukan hal yang sama kepadanya, sampai-sampai salah satu dari mereka mendiamkan Rasulullah SAW hingga malam, (sedang beliau tetap bersabar)." (HR. Ahmad dalam kitab Musnadnya, no: 348)

Termasuk dari kesabaran Rasulullah SAW juga, sebuah riwayat, suatu ketika Rasulullah SAW masuk ke dalam rumah. Di sana ada Sayyidah Aisyah sedang duduk bersama saudaranya. Kemudian, Rasulullah SAW mengajak Sayyidah Aisyah untuk berbicara serta menyamarkan pembicaraannya dari saudara Sayyidah Aisyah.

Setelah mendengar ucapan dari Rasulullah SAW tiba-tiba Sayyidah Aisyah mendorong dada Rasulullah SAW – ungkapan tanda marah. Hingga saudaranya (yang meriwayatkan hadits ini) pun memarahinya, seraya berkata:

ما لك يا كذا وكذا تفعلين هذا برسول الله صلى الله عليه وسلم؟

"Apa yang kau lakukan wahai A'isyah (saudaraku), apakah begini perlakuanmu kepada Rasulullah SAW?"

Rasulullah SAW hanya tersenyum, seraya bersabda:

 دعيها فإنهن يفعلن هذا وأشد من هذا

"Biarkanlah dia (A'isyah)!!, sungguh ia telah biasa melakukan ini semua, bahkan pernah melakukan perbuatan yang lebih dari itu." (HR. Al-Ajiriy, dalam kitabnya Asy-Syari'ah, no: 2407)

Satu lagi, bukti akan kesabaran Rasulullah SAW yang tiada tara, sebuah peristiwa:

"Suatu saat terjadi sedikit permasalahan (rumah tangga) antara Rasulullah SAW dengan Sayyidah A'isyah. Hingga permasalahan pun tak berujung titik temu, yang mengharuskan Rasulullah SAW memanggil Sayyidina Abu Bakar (Ayah dari Sayyidah A'isyah) sebagai penengah dalam menyelesaikan masalah ini.”

Maka Rasulullah SAW membuka percakapan, bersama istrinya seraya menawarkan:

 تكلمين أو أتكلم!!

"Kau yang ingin bicara terlebih dahulu, atau aku?"

Amarah yang telah menguap dalam diri Sayyidah Aisyah pun tak terkontrol, ia pun menjawab ucapan dari suaminya (Rasulullah SAW) dengan sedikit mengangkat suara, seraya berkata:

  بل تكلم أنت ولا تقل إلا حقا!!

"Justru kaulah yang layak untuk memulai pembicaraan, bukankah ucapan yang keluar dari lisanmu itu benar?"

Mendengar lagat yang tak pantas, yang diucapkan oleh Sayyidah A'isyah, ayahnya (Sayyidina Abu Bakar) pun secara otamatis menamparnya, atas ketidak sopanannya kepada Rasulullah SAW. Merasa takut, Sayyidina Aisyah pun berlari dan bersembunyi di belakang punggung Rasulullah SAW dan meminta perlindungan kepada Rasulullah SAW.

Karena besarnya kasih serta cinta Rasulullah SAW kepada istrinya A'isyah, Rasulullah SAW justru malah memarahi Sayyidina Abu Bakar, seraya berkata:

لم ندعك لهذا ولا أردنا منك هذا!!

"Tujuanku mengajak-mu bukan untuk ini!! Aku pun tak ingin kau lakukan ini untukku!!" (Dikutip dari kitab Ihya Ulum Ad-Diin, 3/367)

Sabar menghadapi omelan atau amarah dari pasangan, merupakan suatu hal yang diwajibkan bagi setiap suami. Sungguhlah Rasulullah SAW ialah sosok yang harus diteladani oleh setiap suami dalam menghadapi amarah dari istrinya. Sayyidina Anas bin Malik, mengakui akan kesabaran dari Rasulullah SAW dalam tuturnya:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أرحم الناس بالنساء والصبيان

"Sungguh (Rasulullah SAW) ialah sosok yang sangatlah menyayangi istri-istrinya dan anak-anak." (diuntukil dari kitab Ihya Ulum Ad-Din, 3/256)

Maka bersabar menghadapi amarah atau perilaku dari pasangan sangatlah diwajibkan oleh agama. Bahkan termasuk ajaran dari Rasulullah SAW yang telah diaplikasikan dalam kehidupannya.

Adapun kasus KDRT, menampar, serta menganiaya pasangan bukanlah termasuk dari ajaran Rasulullah SAW dan hal tersebut sangat dikecam oleh Rasulullah SAW seperti yang telah dijelaskan dalam kisah tamparan Sayyidina Abu bakar kepada putrinya.

Rasulullah SAW menghimbau kepada para suami, untuk bersikap lemah lembut kepada pasangannya, serta bersabar atasnya. Dalam haditsnya bersabda:

استوصوا بالنساء خيراً فإنما هن عوان عندكم أخذتموهن بأمانة الله واستحللتم فروجهن بكلمات الله

"Berbuatlah baik kalian semua kepada wanita (pasangan kalian)!! Sungguh mereka adalah tanggunganmu. Kalian telah menyuntingnya dengan mengemban amanah dari Allah swt. (untuk berbuat baik kepadanya), serta kalian telah menghalalkan mereka dengan ayat Allah swt." (HR. Abu Dawud, no: 185, 2/182)

Kemudian, Rasulullah SAW menerangkan akan keutamaan bersabar atas perangai serta sikap buruk istri, dalam sabdanya:

من صبر على سوء خلق امرأته أعطاه الله من الأجر مثل ما أعطى أيوب على بلائه

"Barangsiapa mau bersabar atas perangai buruk dari istrinya, maka Allah swt. akan memberinya ganjaran seperti ganjaran Nabi Ayub as. atas kesabarannya terhadap bala dan ujian (yang dihadapinya)." (Diuntukil dari kitab Ihya Ulum Ad-Diin, 2/43)

Wallahu A'lam bis Showab

Referensi:

1. Shohih Al-Muslim, Al-Imam Muslim bin Al-Hajjaj Al-Qusyairiy.

2. Sunan Abu Dawud, Al-Imam Sulaiman bin Asyats as-Sijistaniy.

3. Ihya Ulum Ad-Diin, Al-Imam Muhammad bin Muhammad Al-Ghozaliy.

4. Ad-Da'wah At-Tammah, Al-Habib Abdullah bin A'lawy Al-Haddad.

Oleh: Sibt Umar


Editor: Daniel Simatupang