04 Sep 2021 · 2.533 dibaca · Kolom
Laduni.ID, Jakarta – Keluar dari lingkungan “Green Mausoleum”, kuburan Maulana Rumi yang berada di bawah payung menara biru yang menjulang ke langit itu, temanku, Hari Pebriantok, aku lihat sibuk menerima telpon entah dari siapa. Aku merasa dia ditelpon Yanuar Agung yang mungkin mengabarkan sudah sampai di daerah sekitar.
“Agung?” kataku.
“Ya, dia sudah datang dan sekarang menunggu kita di Camii Syams Tabrizi,” jawab Hari. Cami istilah untuk masjid di Turki.
Saat itu matahari sudah bergerak ke arah Barat dan mengurangi ketajaman panasnya. Udara berubah menjadi sedikit teduh. Bila nanti mega langit berubah warna menjadi kuning bercampur merah saga, udara akan berhembus lembut. Aku menyeberang jalan dan mengajak Hari mencari kafe dan duduk-duduk sebentar sambil minum teh Turki yang sedap dan menagih. Dia mengusulkan untuk minum di tempat dekat Cami Syams Tabrizi.
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+