Refleksi 10 November 2021: Menjadi Pahlawan Zaman Now

 
Refleksi 10 November 2021: Menjadi Pahlawan Zaman Now
Sumber Gambar: dok. pribadi/FB Rakimin Al-Jawiy

Laduni.ID, Jakarta – Menjadi pahlawan adalah kemuliaan di mata manusia dan kemuliaan di sisi Allah SWT, sebagaimana dengan firman-Nya:

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ فَاُولٰۤىِٕكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَالصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰۤىِٕكَ رَفِيْقًا

Artinya: “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa: 69)

Pahlawan adalah sosok pejuang yang berani mengorbankan pikiran, waktu, tenaga, harta bahkan nyawanya untuk tegaknya kebenaran dan kepentingan orang banyak.

اِنْفِرُوْا خِفَافًا وَّثِقَالًا وَّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Artinya: “Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah: 41)

Atau dalam Islam, pahlawan itu adalah orang yang menegakkan agama Islam, kemuliaan Islam dan kemaslahatan umat Islam.

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Rekamlah kehidupan jejak kepahlawanan para Nabi dan Rasulullah SAW, para sahabat, para syuhada, mujahidin dan sholihin. Tak seorangpun di antara mereka yang sepi dari perjuangan dan pengorbanan, baik dalam bentuk moril maupun material, spiritual dan finansial, jiwa dan harta. Mereka telah menyerahkan secara all out seluruh potensi yang mereka miliki untuk kejayaan Islam dan kaum Muslimin.

فَجَعَلْنٰهَا نَكَالًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِيْنَ

Artinya: “Maka Kami jadikan (yang demikian) itu peringatan bagi orang-orang pada masa itu dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 66)

Karena setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda, maka di setiap zaman pasti mempunyai pahlawan dan medan perjuangan tersendiri. Bung Karno juga berkata, "Jangan sekali-sekali melupakan sejarah." (Jasmerah)

Kita lihat sejarah, Khadijah mengorbankan jiwa dan hartanya untuk mensupport misi suaminya, Abu Bakar menyerahkan seluruh hartanya untuk Islam, Ali bin Abi Thalib berani mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah.

Imam Malik dipenjara, diikat, dan dicambuk oleh penguasa yang zhalim hingga ruas-ruas tulangnya nyaris putus. Imam Syafii dimasukkan ke balik jeruji karena fitnah ulama jahat, bahkan beliau diperintah berjalan kaki di terik padang pasir (selama) dua bulan lamanya, dari Yaman ke Baghdad. Imam Nawawi penyusun kitab hadis Arbain dan Riyadhus Shalihin diusir dari tanah kelahirannya Syam, karena berpegang teguh pada aturan Allah dan menentang kebijakan penguasa yang serakah dan represif.

Imam Abu Hanifah tewas karena dipaksa minum racun, setelah sebelumnya dipenjara dalam keadaan dirantai besi yang berat pada lehernya. Imam Ahmad Ibnu Hambal disiksa dan dipenjara bertahun-tahun lamanya karena keteguhan sikapnya dalam mempertahankan aqidah, beliau menolak Al Quran disebut makhluk (ciptaan) karena firman Allah Al Khaliq adalah Allah SWT. Sayyid Qutub yang terkenal di Indonesia dengan karya spektakulernya Tafsir Fi Zhilalil Quran dan Abdul Aziz Badri yang terkenal karyanya Ulama dan Penguasa keduanya syahid di tiang gantungan.

Mengutip kata-kata Bung Karno, pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 1961, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.” Untuk menghargai jasa para pahlawan, maka kita harus mewujudkan cita-cita para pahlawan. Setidaknya dari perkataan Bung Karno tersebut mengandung spirit kepahlawanan di zaman now yang saya sebut dengan 3B, yakni:

1. Bersyukur

Atas jasa para pahlawan dan senantiasa merawat nikmat kemerdekaan dengan pembangunan berkelanjutan. Dengan pintar bersyukur maka Allah SWT akan menambah nikmat berkelimpahan bagi bangsa Indonesia.

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

2. Berakhlak Mulia

Menjadi bangsa yang santun dan bermartabat serta menjunjung tinggi nilai-nilai kepahlawanan agar bisa diteladani. “Sebaik-baik kalian adalah yang paling mulia akhlaknya.” (HR. Bukhari-Muslim)

3. Berperadaban

Menjadikan akhir perjuangan pahlawan sebagai tonggak pertama untuk mewujudkkan cita-cita para pahlawan kita.

Semoga uraian dan momentum hari pahlawan tahun ini, dapat memantik semangat untuk menjadi pahlawan di zaman now.

Oleh: Rakimin Al-Jawiy, Dosen Psikologi Islam Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


Editor: Daniel Simatupang