Biografi Drs. KH. M. Imam Aziz

 
Biografi Drs. KH. M. Imam Aziz

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Masa Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau

3          Penerus Beliau
3.1       Murid-murid Beliau

4          Organisasi, dan Karier
4.1       Riwayat Organisasi
4.2       Karier Beliau

5          Penghargaan

6          Referensi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

Moh Imam Aziz dilahirkan di Pati, 29 Maret 1962. Orang tuanya bernama KH. Abdul Aziz Yasin dan Hj Fathimah. Dia anak pertama dari 5 bersaudara. Ayahnya adalah santrinya KH. Ali Maksum.

1.2       Riwayat Keluarga

Imam Aziz didampingi seorang istri yang tangguh bernama, Ning Rindang Farihah, berasal dari Jombang. Kini mereka dikaruniai empat anak. Sang istri adalah santri aktivis perempuan dan pernah menjadi ketua Mitra Wacana dan aktif di Fatayat NU DIY.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Masa Menuntut Ilmu

Ketika itu, Abdul Aziz Yasin dibawa dari Lasem ke Krapyak untuk membantu mengembangkan pondok. Ketika di Krapyak menjadi guru dan sempat mengajar KH. Ashari Marzuki dan KH. Mabarun, dua kyai yang di Yogyakarta sangat terkenal. Sang ayah juga sahabat dari ayahnya Ulil Abshor Abdalla, KH. Abdullah Rifai.

Pendidikan dasar Moh Imam ditempuh di Madrasah Ibtida’iyah (MI) dan selesai tahun 1973; pendidikan menengah tingkat tsanawiyah diselesaikannya tahun 1979. Pendidikan yang ditempuhnya itu semuanya ada di Mathaliul Falah, yang berada di bawah naungan pesantren asuhan KH. MA. Sahal Mahfudh (Rais Am PBNU sejak tahun 1999). Di lembaga pendidikan inilah Imam Aziz kecil mempelajari dasar-dasar agama, kitab kuning, bahasa Arab, dan berkomunitas dengan masyarakat pesantren. Di pendidikan ini, Moh Imam adalah kakak kelas Ulil Abshor Abdalla.

Pada tahun 1979, Imam Aziz hijrah ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan. Ketika di Yogyakarta, dia dengan tetap berpenampilan seperti santri pesantren. Pembawaannya pendiam dan sederhana. Tidak akan banyak memulai diskusi bila tidak diajak ngobrol terlebih dulu. Di Yogyakarta, Imam Aziz masuk di Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam pada Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga, yang sekarang menjadi UIN Sunan Kalijaga.

2.2       Guru-Guru Beliau

  1. KH. Abdul Aziz Yasin
  2. KH. Ali Maksum

3          Penerus Beliau

3.1       Murid-murid Beliau

  1. KH. Ashari Marzuki
  2. KH. Mabarun

4          Organisasi, dan Karier

4.1       Riwayat Organisasi

Selama menjadi mahasiswa Imam Aziz aktif di PMII dan pers mahasiswa, Arena. Untuk merampungkan kuliah, Imam Aziz menulis skripsi tentang tokoh yang memikat hatinya karena sangat dinamis dan berpengaruh dalam perjuangan menegakkan Khittah NU, yaitu KH. Achmad Shidiq. Skripsinya berjudul Pemikiran Keagamaan dan Kenegaraan KH. Achmad Shidiq.

Ketika bergiat di PMII, Imam Aziz pernah menjadi Ketua Umum PMII Cabang Yogyakarta (1986-1987) dan pemimpin umum majalah Arena (1987-1988). Dua posisi itu saja menunjukkan Imam Aziz adalah sosok aktivis yang dihormati di kalangan rekan-rekannya, terutama yang berasal dari alumni Yogyakarta. Imam Aziz juga aktif di NU dan pernah menjadi wakil sekretaris PWNU DIY (1988-1992), direktur LKPSM NU DIY pada tahun 1997, tetapi kemudian memilih berada di gerakan kultural.

Dia juga menerjemah dan mengedit beberapa buku yang diterbitkan oleh LKiS. Di antara buku yang diterjemahkan dan sangat berpengaruh di kalangan anak-anak muda pada era 90-an ke atas adalah buku Kazuo Shimogaki berjudul Kiri Islam: Antara Modernisme dan Posmodernisme (LKiS, 1993-2003), yang penerjemahannya dilakukan bersama Imam Aziz dan M. Jadul Maula. Buku ini diberi pengantar KH. Abdurrahman Wahid dengan judul “Hassan Hanafi dan Eksperimentasinya.”

Imam Aziz juga salah seorang pendiri LKiS, salah satu organisasi masyarakat sipil yang didirikan anak-anak muda NU di Yogyakarta. Imam Aziz juga pernah mengorganisir Syarikat (Masyarakat Santri untuk Advokasi Rakyat) yang berbicara soal rekonsiliasi nasional dari kalangan santri. Setelah Muktamar NU ke-32 di Makassar, nama Imam Aziz masuk kepengurusan salah satu ketua di PBNU, yang sebelumnya selama beberapa tahun menjadi tokoh kultural. Setelah Muktamar NU di Jombang, Imam Aziz juga menjadi salah satu ketua PBNU.

4.2       Karier Beliau

 Staf Khusus Wakil Presiden

5        Penghargaan

 mendapat penghargaan dari The Jeju 4.3 Peace Foundation (Yayasan Perdamaian Jeju 3 April) Korea.

6         Referensi

https://alif.id/read/nur-khalik-ridwan/siapa-muhammad-imam-aziz-yang-menjadi-staf-khusus-wapres-b224658p/

 

 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya