Biografi KH. Muhibbin Muhsin AH

 
Biografi KH. Muhibbin Muhsin AH

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Karier
4.1       karier Beliau

5          Metode Dakwah Beliau
5.1       Metode Konseling
5.2       Metode Personal
5.3       Metode Ceramah
5.4       Metode Keteladanan
5.5       Metode Tanya Jawab

6          Referensi

1 Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1  Lahir
KH. Muhibin Muhsin lahir 15 Maret 1949 di Desa Mranggen, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak. KH. Muhibin Muhsin adalah
putra pertama dari empat bersaudara dari pasangan H. Muhsin & Ibu Hj. Rohmah yang merupakan warga asli Mranggen. H. Muhsinpada masanya dikenal sebagai pedagang tembakau yang sukses. Karena pada masa itu tembakau menjadi komoditas perdagangan yang cukup bernilai tinggi.

1.2  Riwayat Keluarga
KH. Muhibin Muhsin, AH menikah dengan Umi Hj Nadhiroh, AHH yang berasal dari Desa Mrisi Tanggungharjo Grobogan, Putri dari bapak H. Ma’shum dan Hj. Muniroh. Dari pernikahannya dengan Umi Hj. Nadhiroh, AHH. KH. Muhibbin Muhsin, AH dikaruniai 6 orang anak, yaitu: Sa’idatul Wafiyah, Muhammad Hammam, Zahrun Muniroh, Tuhfatul Mardhiyah, Saniatul Lathoif dan Lublubatus Sakdiyah

2  Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1   Mengembara Menuntut Ilmu
KH. Muhibin Muhsin, AH memulai pendidikannya dari tingkat dasar pada Sekolah Rakyat (SR) atau setingkat SD pada tahun 1955. Karena sistem pendidikan pada masa itu belum terbentuk dengan baik, maka proses belajar di SR ini hanya dijalani kurang dari enam tahun oleh KH. Muhibbin Muhsin, AH kecil karena belum ada aturan yang mengharuskan anak yang bersekolah di SR untuk menyelasaikan pendidikanya selama 6 tahun.

Kemudian atas kecintaan pada ilmu agama dan pengaruh lingkungan sekitar di mana Mranggen merupakan sebuah wilayah yang cukup religius pada masa itu, KH. Muhibbin Muhsin, AH ingin memperdalam ilmu agamanya. Oleh sang ayah, KH. Muhibbin Muhsin, AH dikirim ke Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin, Jragung Karangawen Demak. Setelah mengkhatamkan al-Qur’an  bil  Ghoib, kemudian  meneruskan di Pondok Pesantren  Yanbu’ul  Qur’an Kudus di bawah Asuhan Al Allamah KH. Arwani Amin. Setelah dirasa mempunyai fondasi kuat dalam ilmu al-Qur’an, beliau melanjutkan belajar ilmu agama di Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang.

Dalam rangka mematangkan diri dengan ilmu al-Qur’an yang lebih baik, usai belajar di Ponpes API Tegalrejo Magelang beliau melanjutkan pendidikan al-Qur’annya di Pondok pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH. Ali Maksum. Di Pesantren Al Munawwir inilah beliau mematangkan ilmu al-Qur’anya hingga menjadi pengembaraan terakhir beliau dalam menuntut ilmu.

2.2  Guru-guru Beliau
Guru-guru beliau ketika menuntut ilmu adalah:

  1. KH. Marwan Jragung
  2. KH. Arwani Amin
  3. KH. Chudlori
  4. KH. Ali Maksum

2.3  Mendirikan dan Mengasuh Pesantren
Pondok Pesantren Al Badriyah berdiri atas prakarsa Hadhrotus Syeikh KH. Muslih bin Abdurrahman Qosidil Haq pada tahun 1976 dengan memberi amanat kepada KH. Muhibbin Muhsin AH dan Umi Hj. Nadhiroh AHH sebagai pengasuh.

Didirikanya Ponpes Al Badriyyah dilatarbelakangi oleh kurangnya sarana pendidikan non formal yang dapat menampung santri putri yang hendak menimba ilmu di daerah Mranggen, mengingat pada tahun 1976 belum banyak Ponpes putri di wilayah Mranggen dan sekitarnya.

Pembangunan sarana prasarana Pondok Pesantren Al Badriyah didirikan dengan dana pribadi KH. Muhibin Muhsin, AH dan juga bantuan swadaya dari warga sekitar. Pembangunan dengan segala keterbatasan dana dan kemampuan yang ada, akhirnya KH. Muhibbin Muhsin, AH dapat menyelesaikan pembangunan Pondok Pesantren.

Mulanya Pondok Pesantren Al Badriyah hanya memiliki satu gedung berlantai 2 yang menampung para santri untuk mukim dan belajar agama khususnya menghafal al-Qur’an. Pemberian nama Al Badriyyah yang memiliki arti bulan purnama diharapkan agar pondok tersebut dapat menjadi pelita dunia, penerang agama Islam dan dapat meneteskan benih-benih generasi penerus pejuang agama yang berakhlak mulia, berilmu barakah manfaat segalanya.

Seiring berjalanya waktu, Pondok Pesantren Al Badriyah yang mulanya khusus mengelola pendidikan untuk santri putri, atas desakan dan permintaan dari masyarakat untuk dapat juga memberikan pendidikan kepada santri putra yang ingin menimba ilmu kepada KH. Muhibbin Muhsin, AH.

Demi memenuhi permintaan masyarakat itulah KH. Muhibin Musin, AH mendirikan bangunan pondok untuk santri putra, sehingga sampai sekarang Pondok Pesantren Al Badriyah tidak hanya mendidik santri putri tetapi juga mendidik santri putra. Pembangunan Pondok Pesantren Al Badriyah putra dimulai pada tahun 2007 dan kini sudah ditempati oleh para santri putra dari berbagai daerah. Bahkan Pondok Pesantren Al Badriyyah sudah melebarkan sayap membuka cabang Pondok Pesantren Al Badriyyah 2 yang berada di Jalan Rayungkusuman II Mranggen Demak.

3  Penerus Beliau            

3.1  Anak Beliau
Muhammad Hammam

3.1  Murid-murid Beliau
Murid-murid beliau adalah para santri di pesantren Al Badriyah

4  Karier dan Karya      

4.1  Karier Beliau
Karier sesuai dengan keilmuannya beliau, posisi karier yang diduduki sebagai Pengasuh pesantren Al Badriyah

5  Metode Dakwah Beliau

Berkaitan dengan metode dakwah dalam pembinaan akhlak, agar dakwah mencapai sasaran-sasaran dakwah, maka tentunya
diperlukan suatu sistem manajerial komunikasi baik dalam penataan perkataan, maupun merbuatan yang dalam banyak hal sangat relevan dan terkait dengan nilai-nilai keislaman.

Dengan adanaya kondisi seperti itu, da‟i dituntut memahami situasi dan kondisi masyarakat yang terus mengalami perubahan, baik secara kultural maupun sosial keagamaan maka para da‟i harus mempunyai pemahaman secara mendalam, bukan menganggap bahwa dakwah itu hanya menyampaikan saja melainkan harus memenuhi beberapa syarat, diantaranya mencari materi yang cocok, mengetahui keadaan psikologis objek dakwah secara tepat, memilih metode yang representatif, menggunakan bahasa yang bijaksana dan sebagainya.

Metode dakwah semacam ini telah diperkenalkan dan dikembangkan oleh Rasulullah SAW dalam menghadapi situasi dan kondisi masyarakat Arab pada zaman jahilyah. Metode dakwah Rasulullah yang dimaksud antara lain dengan berdakwah secara sembunyi-sembunyi, terang terangan, silaturahim, menjadi contoh yang baik (uswatun hasanah) dan masih banyak lainya. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW menjadi inspirasi dakwah KH. Muhibin Muhsin, KH. Muhibin mencontoh metode dakwah yang digunakan oleh Rasullulah SAW pada jaman dahulu, Metode yang di gunakan dalam dakwah KH. Muhibin sebagai berikut
:
5.1  Metode Konseling
Metode konseling merupakan wawancara secara individual dan tatap muka antara konselor sebagai dā‟i dan klien sebagai mitra dakwah untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Konselor sebagai pendakwah akan membantu mencari pemecahan masalahnya. Dalam berdakwah KH. Muhibin Muhsin sering menggunakan metode dakwah konseling terhadap santri-santrinya maupun masyrakat yang ingin
berkonsultasi kepada KH. Muhibin, para santri yang bermasalah dalam tingkah laku diwajibkan menghadap KH. Muhibin. Dalam proses konseling ini, Kyai Muhibin tidak menghakimi kesalahan para santri, tetapi lebih memberikan nasihat-nasihat dan juga saran agar santri tersebut bisa segera membenahi perilakunya

5.2  Metode Personal
KH. Muhibin Muhsin berdakwah mendekati para santri satu persatu terutama santri yang bermasalah dengan berbagai cara, yaitu salah satunya dengan memberi perhatian kepada santri secara lebih mendalam, mengamati perkembangan santri. ketika ada kesempatan selalu mengawasi gerak-gerik santri, mengoreksi seketika perbuatan santri ketika menemukan perbuatan menyimpang yang dilakukan oleh santri nakal.

Koreksi itu dilakukan dengan mengingatkan akan buruknya perbuatan yang telah dilakukan santri kemudian memberikan nasihat-nasihat yang lembut dan persuasif agar santri tersebut maumeninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk para santri. hal inisemata-mata dilakukan untuk membenahi akhlak santri agarsesuai dengan ajaran Islam.

5.3  Metode Ceramah
Salah satu metode yang digunakan KH. Muhibin dalam dakwahnya adalah metode ceramah. Metode ini sangat efektif karena mampu memberikan motivasi santri dan masyarakat. Kiai Muhibin mengadakan ceramah agama bertempat di Aula Ponpes Al Badriyyah yang membahas tentang

1) Fiqh
Pembinaan pengetahuan dalam bidang Ilmu Fiqh ini mengenai ibadah sehari-hari, muamalat, syariat, dimana dalam pemberian
materi ini pembimbing berpegang taguh pada Al-Qur‟an dan Hadist, dalam materi Fiqh ini juga diatur tentang hubungan manusia. Di Pesantren Al Badriyyah diajarkan bagaimana merealisasikan itu semua dalam kehidupan sehari- hari, materi fiqh ini diberikan oleh KH. Muhibin Muhsin. Buku atau kitab yang dipakai untuk rujukan adalah Ushul Fiqh, Fiqh Sunah.

2) Motivasi
Dalam materi ini, KH. Muhibin Muhsinmemberikan motivasi- motivasi bertujuan agar santri-santri semangat dalam belajar dan mendekatkan diri kepada Allah, supaya kelak menjadi yang sukses menjadi generasi penerus bangsa.Yang mempunyai semangat beragama dan semangat berprestasi, dapat menjaga diri, serata mempunyai jiwa kepemimpinan. Beliau memberikan motivasi yang diselaraskan dengan perkembangan zaman saat ini.

3) Majelis Taklim
KH. Muhibin rutin mengadakan Majelis Taklim untuk sarana berbagi ilmu-ilmu agama kepada jamaah ibu-ibu di lingkungan Mranggen Pada hari senin pukul 10.00 sampai dengan pukul 12.00 yang di selenggarakan di rumah KH Muhibin Muhsin. Tema yang beliau bahas bersama ibu-ibu itu berkaitan dengan masalah keseharian dalam ibadah, sesekali beliau menceritakan pengalaman-pengalamannya kepada para jamaah.

4) Metode Halaqoh atau Membaca Al-Qur‟an diselingi dengan Ceramah
Mengingat Ponpes Al Badriyyah merupakan pesantren berbasis al-Qur‟an maka beliau melakukan tahsin al-Qur‟an dengan
Metode halaqoh yaitu biasanya beliau membacakan ayat Al-Qur‟an, sementara santri mendengarkan, lalu membaca bersama. Jadi dalam metode ini beliau membaca Al-Qur‟an terlebih dahulu kemudian para santri menirukan apa yang dibaca kiai.

Dengan diaplikasikannya metode ini diharapkan agar mad‟u yang kurang dalam membaca dapat menirukan apa yang dibaca da‟i terutama dalam membaca dapat menirukan apa yang dibaca da‟i terutama dalam membaca huruf hijaiyah, makhroj huruf, dan panjang pendek bacaan, dan hukum tajwid.

Meskipun mad‟u umumnya sudah bisa membaca al-Qur‟an, tetapi akan lebih baik mengulas kembali agar lebih fasih. Metode ini juga diselingi dengan metode ceramah. Jadi setelah da'i membaca dan mad‟u menirukan apa yang akan dibaca da‟i kemudian dilanjutkan dengan penjelasan tafsir tentang ayat yang beliau baca dan uraian yang sedang dibahas disampaikan da‟i dengan ceramah biasanya disajikan dalam metode halaqoh ini adalah tafsir dan hadits. Dalam metode halaqoh ini, KH. Muhibin Muhsinmenyempatkan waktu khusus seminggu sekali yaitu pada hari kamis jam 16.00-17.00 WIB di Aula Pondok Pesantren Al Badriyyah.

5.4  Metode Keteladanan
Yang dimaksud keteladanan adalah teladan yang ada pada diri KH Muhibin Muhsin, di mana para santri dapat melihat secara langsung bagaimana sifat, sikap dan perilaku KH. Muhibin dalam kesehariannya. Bagi KH. Muhibin yang terpenting adalah, mampu mengatur dirinya sendiri terlebih dahulu, sesuatu yang paling sulit diperangi atau dikendalkan adalah mengendalikan dirinya sendiri.

Orang bisa mengatur segala sesuatu akan tetapi belum bisa mengatur dirinya sendiri itu sama saja tidak ada gunanya antara badan, pikiran, dan hati haruslah stabil, apabila sudah stabil atau Istiqamah dalam melaksanakan apapun akan maksimal seperti contoh kecil yang diberikan KH. Muhibin apa bila mengatakan akan bertemu hari senin, berusaha menepati hari senin tidak boleh berubah menjadi hari lainnya, apa bila berubah maka belajar membohongi diri sendiri, maka hal itu akan memberikan contoh akhlak yang buruk sehingga orang lain tidak akan percaya pada kiata karena diri kita sendiri.

KH. Muhibin apabila mengatakan sesuatu selalu berusaha ditepati atau komitmen dengan ucapannya, Dalam menjalankan segala sesuatu yang alangkah lebih baiknya dipikirkan terlebih dahulu dalam mengucapkan segala sesuatu. Contoh dalam sikap sehari-hari orang yang berkomiten selalu tepat waktu, sehingga orang tersebut tidak menegcewakan orang lain, sehingga orang-orang yang ada disekitar akan mempercayai apa yang kita ucapkan.

5.5  Metode Tanya Jawab
Metode ini adalah metode pelengkap dari metode ceramah dan biasanya dibawakan ketika beliau selesai memberikan ceramah.
Untuk para santri diberikan waktu oleh KH. Muhibin untuk bertanya, bilamana ada materi yang diberikan terdapat ketidakpahaman yang mendengarkan. Dengan adanya metode dapat menjalin komunikasi efektif dan lebih akrab kepada para santri. Metode ini di maksudkan untuk melayani masyarakat atau santri yang sedang mendengarkan ceramah beliau agar paham dengan ceramah yang dibawakan beliau.

Sebab dengan bertanya berarti orang ini mengerti dan dapat mengamalkannya. Oleh karena itu jawaban pertanyaan sangat diperlukan kejelasan dan pembahasan sedalam- dalamnya metode ini sering juga dilakukan oleh Rasulullah SAW dengan malaikat Jibril AS. Dalam metode ini biasanya suka bertanya mengenai sesuatu. Masalah yang belum dimengerti ketika seorang da‟i menjelaskan materi, dan yang menjawab pertanyaan adalah da‟i yang menyampaikan materi tersebut. Metode Tanya jawab ini diaplikasikan untuk melayani
kebutuhan jama‟ah dan menjelaskan tentang hal-hal yang berkenaan dengan materi yang sedang dibahas, juga untuk
mengurangi kesalahpahaman jama‟ah.

6  Referensi

Metode Dakwah KH. Muhibin Muhsin AH Dalam Membentuk Santri yang Berakhlak Qur'ani di Pondok Pesantren Al Badriyyah Suburan Mranggen Demak
Profil Pondok Pesantren Al-Badriyyah Mranggen Demak

 

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya