Wisata Ziarah Kaliwungu dan Bertafakur di Makam Sunan Katong

Wisata Ziarah Kaliwungu dan Bertafakur di Makam Sunan Katong
Silsilah Sunan Katong Kaliwungu
 
Sunan Katong merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam penyebaran agama Islam dan juga dalam sejarah Kendal, tepatnya di Kecamatan Kaliwungu. Saat ini makamnya terletak di Desa Protomulyo Kaliwungu Selatan Kabupaten Kendal. Untuk mengenang jasanya dalam penyebaran agama Islam di Kendal banyak masyarakat yang datang untuk berziarah di makamnya
 
Dari beberapa penemuan para pencatat sejarah akhirnya bisa dimengerti bahwa Sunan Katong adalah seorang Wali yang masih ada hubungan nasab dengan Prabu Brawijaya V. Para penulis sejarah tidak ada yang beda pendapat, dan mereka sepakat bahwa Sunan Kathong yang makamnya di pemakaman Protomulyo itu memang berasal dari Ponorogo.
 
Kira-kira lengkap silsilahnya adalah sebagai berikut: Prabu Kertabhumi atau Prabu Brawijaya V berputera Bhatara Katong. Dan Bhatara Katong berputera seorang puteri yang menjadi istri Adipati Unus atau Suryapati Unus putera Raden Fatah. Dari Perkawinan itu, lahir Kyai Katong, dan kemudian terkenal dengan nama Sunan Katong.
 
 
Komplek Makam Sunan Katong
 
Komplek pemakaman Sunan Katong itu kalau dipandangi secara cermat membentuk seekor burung yang sedang terbang ke arah barat. Rasanya memang aneh dan itu mungkin sudah kehendak Tuhan. Dikemudian hari perbukitan itu disebut dengan Astana Kuntul Nglayang. Disebut demikian karena pada akhirnya bukit itu menjadi peristirahatan terakhir para leluhur Kaliwungu atau keturunan Pangeran Djoeminah.
 
Astana Kuntul Nglayang menjadi saksi bahwa bumi Kaliwungu itu dulu ditempati oleh orang-orang besar kerajaan. Berikut ini peta lokasi makam dan situs Sunan Katong. Di ujung barat, disebutnya sebagai letak kepala burung kuntul.

 
Di belahan barat itu beristirahat secara abadi leluhur Mataram keturunan Panembahan Djoeminah. Para leluhur itu antara lain:
 
1. Panembahan Djoeminah Putra Panembahan Senopati Sutawijaya.
2. Kanjeng Raden Tumenggung Ronggo Hadimenggolo I, Bupati Kaliwungu
3. Kanjeng Raden Tumenggung Ronggo Hadimenggolo II, Bupati Kaliwungu
4. Kanjeng Raden Tumenggung Ronggo Hadimenggolo III, Bupati Kaliwungu
5. Kanjeng Raden Tumenggung Ronggo Hadimenggolo IV, Bupati Kaliwungu
6. Kanjeng Raden Tumenggung Ronggo Ronodiwiryo, Bupati Batang
7. Kanjeng Raden Tumenggung Hadinegoro, Bupati Kaliwungu dan Demak
8. Kanjeng Raden Tumenggung Sumodiwiryo, Bupati Kaliwungu
9. Raden Tumenggung Reksonegoro
10. Kanjeng Raden Tumenggung Hadinegoro, Bupati Demak, dll
 
Sedangkan bagian dada Astana Kuntul Nglayang ditempati antara lain:
 
1. Kanjeng Sunan Katong keturunan Prabu Brawijaya dari Majapahit
2. Raden Tumenggung Notohamijoyo, Bupati Kendal
3. Raden Tumenggung Notohamiprojo, Bupati Kendal
4. Raden Mas Arinotoprojo, Bupati Kendal
5. Raden Mas Notonagoro, Bupati Kendal, dll
 
Bagian sayap kiri Astana Kuntul Nglayang ditempati antara lain:
 
1. Raden Tumenggung Mandurarejo, Bupati Pekalongan
2. Kyai Asy’ari atau Kyai Guru
3. Kyai Puger atau Kyai Pakpak atau Kyai Papak, dll.
 
Bagian sayap kanan ditempati Astana Kuntul Nglayang ditempati antara lain:
 
1. Kyai Haji Rukyatullah
2. Kyai Haji (wali) Musyafak
3. Kyai Haji Musthofa
4. Kyai Haji Abu Choir 64
5. Drs. H. Djoemadi, Bupati Kendal ke 36, dll
 
Sedangkan bagian ekor Astana kuntul Nglayang ditempati oleh Empu Pakuwaja.
 
Peziarah yang datang ke makam Sunan Katong setiap harinya mencapai rata-rata 150 orang, tetapi apabila pada bulan-bulan tertentu, peziarah ini lebih banyak dibandingkan hari-hari biasa. Misalnya peziarah akan membeludak jumlahnya apabila datang pada bulan Maulid, Ruwah dan setelah tujuh hari raya Idul Fitri (Syawalan) dan juga pada hari Idul Adha.

Jumlah pengunjung pada hari ini akan mencapai 1000 orang tiap harinya. Pengunjung yang datang ke makam Sunan Katong menandakan rasa terima kasih dan penghargaan terhadap Sunan Katong dan tokoh-tokoh penyiar agama Islam di wilayah Kaliwungu yang telah berjuang dalam mengajarkan agama Islam. Juga sebagai wujud rasa cinta terhadap Sunan Katong dan para tokoh penyebar agama Islam dalam mengusir penjajah dari bumi pertiwi.
 
Pelaksanaan peziarah terhadap makam Sunan Katong yang dilakukan oleh para peziarah sampai sekarang pada mulanya dilakukan oleh para santri yang mondok di pesantren wilayah Kaliwungu, dengan tujuan untuk mengenang jasa mereka dalam menyebarkan agama Islam. Akan tetapi berjalan dengan perkembangan masyarakat Islam di wilayah Kaliwungu dan untuk menghargai tokoh yang telah berjasa tersebut dalam kehidupan masyarakat Kaliwungu pada khususnya dan masyarakat Islam pada umumnya, yang mana ziarah kubur tersebut dilakukan bukan saja dari pihak golongan para Kyai dan para santrinya Kaliwungu, melainkan dari seluruh lapisan masyarakat dari berbagai daerah.
 
Makam Sunan Katong dari waktu ke waktu nampaknya semakin ramai dikunjungi oleh sebagian umat Islam, dan menurut pengamatan penulis bahwa ziarah yang dilakukan oleh umat muslimin dalam tatacaranya, mereka harus menggunakan aturan pengurus makam, diantaranya adalah:
 
1. Setiap pengunjung disarankan untuk mensucikan diri dulu dengan berwudlu di tempat yang telah disediakan.
2. Para peziarah dilarang membawa sesuatu yang dilarang seperti kemenyan atau dupa, hal ini sengaja dilakukan untuk menghindari dari perbuatan yang menyimpang dari ajaran Islam.
3. Para pengunjung atau peziarah tidak boleh melakukan perbuatan yang dilarang dalam syariat Islam, seperti duduk-duduk dan menciumi batu nisan.
4. Biasanya para pengunjung yang meminta bantuan kepada juru kunci dalam melakukan ritual ziarah harus sesuai dengan ajaran Islam, apabila tujuan dari peziarah menyimpang dari ajaran Islam, biasanya juru kunci memberi nasehat dan meluruskannya.
5. Apabila peziarah dalam melakukan kunjungan dengan niat yang tidak baik, maka juru kunci dan pengurus makam Sunan Katong tidak bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
 
Maka apabila pengunjung belum pernah sama sekali ziarah ke makam Sunan Katong sebaiknya menemui juru kunci terlebih dahulu. Adapun mengenai persiapan ziarah terhadap makam Sunan Katong, pada mulanya peziarah biasanya mensucikan hadats di tempat yang telah disediakan, setelah itu peziarah mendatangi juru kunci makam Sunan Katong.
 
Dalam pelaksanaan ziarah ini, para pengunjung biasanya ditanyai oleh juru kunci, apakah dalam pelaksanaan ziarah kubur melalui juru kunci atau oleh mereka sendiri. Dalam hal ini jika peziarah datang dengan rombongan, maka rombongan tersebut dalam pelaksanaan ziarahnya memakai ketua rombongan, akan tetapi jika pengunjung datang secara individu, maka mereka di dalam pelaksanaan ziarah kuburnya banyak memakai jasa juru kunci makam tersebut.
 
 
Lokasi Menuju Makam Sunan Kathong

Desa Protomulyo kecamatan Kaliwungu kabupaten Kendal, Kurang lebih kilometer dari Kota Semarang Jawa Tengah dan dapat ditempuh selama satu jam dengan memakai kendaraan. Secara geografis makam Sunan Katong terletak tidak jauh dari laut jawa, makam Sunan Katong tersebut berada satu komplek dengan tokoh-tokoh Ulama besar Kaliwungu dan juga menjadi istana terakhir para pembesar Mataram yang tinggal di Kaliwungu.
 

yang Sudah Mengunjungi Wisata Ziarah Kaliwungu dan Bertafakur di Makam Sunan Katong