Ungkapan Hati BJ Habibie Soal Akhirat yang Bikin Merinding

Ungkapan Hati BJ Habibie Soal Akhirat yang Bikin Merinding

LADUNI.ID, Jakarta - Presiden Republik Indonesia ke-3 Prof. Dr. Ing. H. BJ Habibie, FREng pernah memberikan pidato dalam sebuah video yang kemudian viral dan banyak diperbincangkan baik di media sosial dan dunia nyata. Bahkan, BJ Habibie juga pernah menuliskan tentang kisah hidupnya yang membuat kita merinding. Dilansir dari laman nonstopnews.id, berikut kami sajikan.

***

SAAT KEMATIAN ITU KIAN DEKAT

KALAU LAH SEMPAT? Renungan utk kita semua !!!!

BJ Habibie ketika berpidato di Kairo, beliau berpesan begini,

"Saya diberikan kenikmatan oleh Allah ilmu technology sehingga saya bisa membuat pesawat terbang, tapi sekarang saya tahu bahwa ilmu agama itu lebih bermanfaat untuk umat .Kalo saya disuruh memilih antara keduanya maka saya akan memilih ilmu Agama."

***

Sepi penghuni... Istri sudah meninggal... Tangan menggigil karena lemah... Penyakit menggerogoti sejak lama.

Duduk tak enak, berjalan pun tak nyaman. Untunglah seorang kerabat jauh mau tinggal bersama menemani beserta seorang pembantu.

Tiga anak, semuanya sukses. Berpendidikan tinggi sampai ke luar negeri.

Ada yang sekarang berkarir di luar negeri... Ada yang bekerja di perusahaan asing dengan posisi tinggi... Dan ada pula yang jadi pengusaha ... Soal Ekonomi, saya angkat dua jempol, semuanya kaya raya...

Namun...

Saat tua seperti ini dia "merasa hampa", ada "pilu mendesak" di sudut hatinya. Tidur tak nyaman. Dia berjalan memandangi foto-foto masa lalunya ketika masih perkasa dan enegik yang penuh kenangan

Di rumah yang besar dia merasa kesepian, tiada suara anak, cucu, hanya detak jam dinding yang berbunyi teratur.

Punggungnya terasa sakit, sesekali air liurnya keluar dari mulutnya. Dari sudut mata ada air yang menetes, rindu dikunjungi anak-anak nya. Tapi semua anak nya sibuk dan tinggal jauh di kota atau negara lain.

Ingin pergi ke tempat ibadah namun badan tak mampu berjalan. Sudah terlanjur melemah...

Begitu lama waktu ini bergerak, tatapannya hampa, jiwanya kosong, hanya gelisah yang menyeruak, sepanjang waktu…

Laki-laki renta itu, barangkali adalah saya... atau barangkali adalah Anda yang membaca tulisan ini suatu saat nanti_

Hanya menunggu sesuatu yang g tak pasti... yang pasti hanyalah KEMATIAN.

Rumah besar tak mampu lagi menyenangkan hatinya. Anak sukses tak mampu lagi menyejukkan rumah mewahnya yang ber AC. Cucu-cucu yang hanya seperti orang asing bila datang.

Asset-asset produktif yang terus menghasilkan, entah untuk siapa?

Kira-kira jika malaikat "datang menjemput", akan seperti apakah kematian nya nanti. Siapa yang akan memandikan? Di mana akan dikuburkan?

Sempat kah anak kesayangan dan menjadi kebanggaannya datang mengurus jenazah dan menguburkan? Apa amal yang akan dibawa ke akhirat nanti?

Rumah akan di tinggal, asset juga akan di tinggal pula. Anak-anak entah apakah akan ingat berdoa untuk kita atau tidak?

Sedang ibadah mereka sendiri saja belum tentu dikerjakan. Apa lagi jika anak tak sempat dididik sesuai tuntunan agama. Ilmu agama hanya sebagai sisipan saja.

"Kalau lah sempat" menyumbang yang cukup berarti di tempat ibadah, Rumah Yatim, Panti Asuhan atau ke tempat-tempat di jalan Allah yang lainnya.

"Kalau lah sempat" dahulu membeli sayur dan melebihkan uang pada nenek tua yang selalu datang. 

"Kalau lah sempat" memberikan sandal untuk disumbangkan ke tempat ibadah agar dipakai oleh orang yang memerlukan.

"Kalau lah sempat" membelikan buah buat tetangga, kenalan, kerabat, dan handai taulan.

Kalau lah kita tidak kikir kepada sesama, mungkin itu semua akan menjadi "Amal Penolong"-nya.

Kalau lah dahulu anak disiapkan menjadi 'Orang yang shaleh', dan 'Ilmu Agama' nya lebih diutamakan

Ibadah sedekahnya di bimbing/diajarkan dan diperhatikan, maka mungkin senantiasa akan 'Terbangun Malam', 'meneteskan air mata' mendoakan orang tuanya. Kalaulah sempat membagi ilmu dengan ikhlas pada orang sehingga bermanfaat bagi sesama.

***

KALAULAH SEMPAT

Mengapa kalau sempat?

Mengapa itu semua tidak jadi perhatian utama kita? Sungguh kita tidak adil pada diri sendiri. Kenapa kita tidak lebih serius?

Menyiapkan 'bekal' untuk menghadap-Nya dan 'Mempertanggung Jawabkan kepadaNya?

Jangan terbuai dengan 'Kehidupan Dunia' yang  bisa  melalaikan. Kita boleh saja giat berusaha di dunia, tapi jadikan itu untuk bekal kita pada perjalanan panjang & kekal di akhir hidup kita.

(bagi yang  menyebarkan catatan ini semoga menjadi sodaqoh ilmu & ladang amal shaleh)

Teruslah menjadi  "si penabur  kebajikan" selama hayat masih dikandung badan meski hanya sepotong pesan.

Semoga Bermanfaat...

(Prof. Dr. Ing. BJ. Habibie)