DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
Nyai Hj. Nur Khodijah lahir pada 23 Februari tahun 1897 di Tambakberas tepatnya di Pondok Pesantren Bahrul Ulum dari pasangan KH. Hasbullah Said dengan Nyai Lathifah
Aktivitas “ngopi” sering kali dipandang sebagai rutinitas biasa. Identiknya, aktivitas ini hanya soal secangkir kopi, sedikit obrolan, dan suasana santai. Namun dalam pandangan Gus Baha, kebiasaan sederhana ini justru bisa dinilai memiliki makna spiritual yang dalam. Lebih dari sekadar perkara mubah.
Kita semua harus berusaha menjauhi hal-hal yang tidak penting dan hal-hal yang tidak bermanfaat dari kesibukan urusan duniawi. Demikianlah nasihat Habib Umar yang jika benar-benar diperhatikan, maka hati akan menjadi bersih dan bersinar terang dipenuhi cahaya.
Pondok pesantren Amanatul Ummah yang didirikan oleh Kiai Asep padatahun 1988 bermula dari sang Kiai sendiri yang memiliki inisiatif untuk mendirikan sebuah pondok pesantren
Gus Baha berulang kali menegaskan bahwa salah satu kunci rumah tangga yang harmonis justru adalah rileks dan penuh canda, bukan sibuk membahas masalah setiap saat. Beliau menyebutnya sebagai mula’abah, yaitu komunikasi ringan yang akrab dan penuh kegembiraan, bukan obrolan kaku dan serius melulu.
Kalimat Laa ilaaha illallaah yang diamalkan itu sebagaimana sabda Kanjeng Nabi Muhammad SAW, "man kana awwalu kalamihi Laa ilaaha illallaah wa akhiru kalamihi Laa ilaaha illallaah dakholal jannah".
Pondok Pesantren Al-Mubarokah adalah sebuah pesantren yang terletak di daerah Cirebon Jawa Barat tepatnya di batas wilayah terletak sekitar 52 km sebelah timur kabupaten cirebon
Gus Baha selalu menegaskan pentingnya menyebut sanad, karena tanpa sanad, agama ini bisa dibajak oleh siapa saja. Beliau tegas menyindir keras orang yang menolak peran ulama.
Para sultan itulah yang memiliki kekuasaan penuh terhadap wilayah-wilayah tertentu yang dikuasainya. Maka, Indonesia yang kita kenal hari ini merupakan satu-kesatuan kesultanan di seluruh Indonesia, kemudian melebur menjadi satu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Jika seorang nonmuslim saja bisa melakukan hal yang demikian mulia, bukankah justru sebagai seorang yang Muslim dan Mukmin dapat melakukan hal itu sebagaimana teladan Baginda Nabi Muhammad SAW?