DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
“Suatu ketika, seorang Yahudi berkata kepada temannya: ‘Mari kita temui Nabi itu.’ (Setelah bertanya dan mendapatkan jawaban dari Rasulullah SAW)…., mereka mencium tangan dan kaki beliau seraya berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau adalah seorang Nabi.’”
Mencium tangan itu diartikan sebagai penghormatan kepada orang yang dicium atas dasar kealiman yang Allah SWT titipkan kepadanya, karena hal itu telah dilakukan pada zaman dahulu.
Buya Leter diangkat menjadi tuanku di Surau (Pesantren) Mato Aia, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat tahun 1971. Itu artinya Leter sudah diakui sebagai tamatan pesantren dan memiliki pengetahuan agama.
Dengan kata lain, problem yang kita hadapi dewasa ini bukan soal teks keagamaan, tapi soal kemanusiaan kita yang merasa terancam, tidak aman dan tidak nyaman. Ini menggerus kemanusiaan kita sehingga kita tidak lagi jernih, adil dan beradab dalam memahami teks keagamaan.
Kita harus sadar dan menerima dengan ikhlas, bahwa segala hal yang terjadi, baik, buruk, menyenangkan, menyedihkan, semuanya sudah ditetapkan dalam takaran yang tepat untuk kita, agar kita bisa menjadi lebih baik dalam hidup ini.
Kadang sebuah kekeliruan dalam penulisan atau sebutan justru lahir dari kasih sayang dan tradisi lisan yang sudah berlangsung turun-temurun. Inilah warisan budaya intelektual Islam di Jawa yang penuh kelembutan, namun tetap menjunjung tinggi otoritas keilmuan.
Dalam perjalanan hidup, satu pertanyaan sering kali menggelayuti benak banyak orang: “Siapa jodohku?” atau “Kapan aku dipertemukan dengannya?” Pertanyaan yang sederhana, namun bisa membayangi hari-hari dengan harapan sekaligus kekhawatiran.
KH. Abdul Aziz Masyhuri Denanyar merupakan seorang ulama kharismatik asal Jombang, Jawa Timur, yang dikenal sebagai penerus dan pengasuh Pondok Pesantren Maba’ul Ma’arif Denanyar. Ia merupakan keturunan dari KH. Bisri Sayansuri, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan tokoh penting dalam sejah pesantren di Indonesia.
Kisah ini menjadi pelajaran tentang bagaimana kewalian dan kemuliaan seseorang seringkali tersembunyi dari pandangan umum. Sebagaimana ungkapan la ya’riful wali illal wali, hanya seorang wali yang mengenal wali lainnya, kehadiran Gus Baha dan Ning Winda di tengah masyarakat adalah cermin dari ketawadhuan sejati yang menjadi kekuatan utama dalam dakwah dan pendidikan umat.
"Orang fasik pun ada dua macam. Pertama ada yang lugu, ada yang tidak. Orang fasik yang benar-benar lugu, bertanya caranya ingin bertaubat, ia memang ingin taubat. Kalau yang enggak, memang ingin mempersulit,"