DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
Habib Utsman merupakan murid Mama Ajengan KH. Syatibi Gentur, Cianjur. Meskipun beliau seorang habib, beliau sangat tawadhu kepada gurunya tersebut. Saat menjadi santrinya, sebelum subuh, Habib Utsman, selalu mengisi air bak untuk wudhu dan mandi gurunya itu.
Sahur adalah sunnah yang dianjurkan karena mengandung banyak keberkahan, baik dari segi kesehatan maupun spiritual. Karenanya, tidak berlebihan jika dikatakan, bahwa membangunkan sahur menjadi bagian dari upaya menjaga sunnah dan menebarkan keberkahan Ramadhan.
Syair ini menggambarkan ajaran fundamental KH. Ahmad Rifa’i tentang pentingnya fokus pada kehidupan akhirat, menjaga kebersihan hati, dan menjadikan takwa sebagai bekal utama. Baginya, iman yang kuat akan membawa ketenangan dan kebahagiaan sejati.
Syair KH. Bisri Mustofa ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa guru adalah cahaya dalam perjalanan ilmu. Tanpa bimbingan mereka, kita tidak akan sampai pada pemahaman yang benar. Maka, selayaknya kita meneladani pesan beliau: menghormati guru, menjaga adab dalam belajar, dan mengamalkan ilmu dengan penuh keberkahan.
Dalam menjalankan ibadah puasa, selain memperhatikan keabsahannya dari segi fiqih, kita juga harus menjaga kualitasnya dengan menghindari hal-hal yang dapat menghilangkan pahala puasa.
Tidak jarang komunitas keagamaan atau kelompok pemuda mengadakan acara ngabuburit yang diisi dengan kajian Islam, tadarus Al-Qur’an, atau berbagi ta’jil gratis kepada pengguna jalan. Hal ini mencerminkan nilai-nilai sosial dan kebersamaan yang kuat dalam masyarakat Muslim Indonesia.
Sebagai seorang ulama yang disegani, Syekh Abdul Hamid Kudus banyak menulis kitab yang menjadi rujukan umat Islam. Salah satu karyanya yang berharga adalah Irsyad al-Muhtadi, yang merupakan syarah (penjelasan) dari Kifayah al-Mubtadi.
Hidup bagaikan samudra luas yang penuh gelombang. Ada yang terombang-ambing dalam arus keserakahan, ada yang tenggelam dalam ambisi tanpa ujung, dan ada pula yang memilih menepi, menanggalkan segala beban duniawi demi merenungi hakikat keberadaan.
Dalam konteks Indonesia, kata ta’jil mengalami pergeseran makna dari yang awalnya berarti “menyegerakan berbuka” menjadi istilah yang merujuk pada makanan ringan untuk berbuka puasa.