INFAK / SEDEKAH/ DONASI/ SUMBANGAN untuk LADUNI.ID
Seluruh dana yang terkumpul untuk operasional dan pengembangan portal dakwah Islam ini
Dalam khazanah pesantren, kita tahu tentang istilah Luhumul Ulama’ Masmuumah (daging ulama itu beracun). Kalimat ini cukup populer di kalangan penuntut ilmu.
Ada beberapa alasan mengapa kita harus mengikuti para ulama. Argumentasi yang paling mendasar adalah petunjuk dari Nabi Muhammad SAW yang memang memerintahkan untuk mengikuti ulama dalam banyak persoalan yang kita sendiri tidak mengetahuinya.
Perbedaan pendapat, jikalau dipahami dengan proporsional, maka tentu akan membawa rahmat. Umat Islam secara umum tinggal memilih satu pendapat yang lebih cocok, lebih sesuai dan lebih maslahat serta lebih mudah dijalankan, di antara sekian banyak pendapat.
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak orang berilmu di antara kami.” (HR. Ahmad).
Guru menempati posisi yang sangat luhur dalam kehidupan kita. Mereka bukan sekadar penyampai ilmu, tetapi pemantik semangat, penggerak jiwa, dan pembimbing akhlak. Dalam Islam, kedudukan guru lebih mulia lagi..
Perbedaan dalam masalah fiqih adalah sesuatu yang ada dan bukan diada-adakan. Jadi, sebelum lebih jauh mendalami fiqih, seorang harus siap menghadapi perbedaan itu sendiri dan bersikap bijak dalam perbedaan tersebut.
Ilmu agama sangatlah beragam dan jenjang tingkatannya sangatlah luas, lantas apa yang harus dipelajari oleh semua orang? Sampai kadar apa seorang Muslim secara umum dianggap cukup mempelajarinya sehingga boleh berpindah untuk mempelajari beragam ilmu lainnya yang dibutuhkan sesuai tuntutan zaman masing-masing?
Ketahuilah wahai para laki laki, ketika istrimu menafkahi anak-anakmu dengan cara yang haram dan mendidiknya dengan cara yang salah, di akhirat kamu tetap bertanggung jawab atas nafkah dan pendidikan anak-anakmu itu. Bahkan atas nafkah haram dan pendidikan yang salah tersebut.
“Sebagaimana mestinya seorang ayah yang menjaga anaknya dari api dunia, maka sungguh menjaga sang anak dari api neraka mestinya lebih penting lagi.”
“Allah Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Asy-Syura: 19)