Orang Fasik Menjadi Wali Nikah

 
Orang Fasik Menjadi Wali Nikah

Orang Fasik Menjadi Wali Nikah

Pertanyaan:

Bolehkah seorang yang tidak mengerjakan ibadah shalat menjadi wali nikah anak perempuannya? Apabila tidak boleh, maka siapakah yang berhak menjadi wali pernikahan itu? Hakim ataukah lainnya?

Jawaban: Seorang fasik karena tidak mengerjakan shalat fardu atau karena lainnya, menurut mazhab, tidak sah menjadi wali menikahkan anak perempuannya. Tetapi menurut pendapat kedua (al-qaul al-tsani) sah menjadi wali nikah.

Keterangan, dalam kitab:

  1. Al-Qulyubi Alal Mahalli[1]

لاَ وِلاَيَةَ لِفَاسِقٍ عَلَى الْمَذْهَبِ قَالَ الْمَحَلِّي: وَالْقَوْلُ الثَّانِي أَنَّهُ يَلِي لِأَنَّ الْفَسَقَةَ لَمْ يُمْنَعُوْا مِنَ التَّزْوِيْجِ  فِيْ عَصْرِ اْلأَوَّلِيْنَ Menurut mazhab (Syafi’i, yang pertama) orang fasik tidak boleh menjadi wali. Sedang menurut al-Mahalli, pendapat kedua, bahwa orang fasik boleh menjadi wali, karena orang-orang fasik pada masa Islam pertama tidak dilarang untuk mengawinkan. [1]    Syihabuddin al-Qulyubi, Hasyiyah al-Qulyubi ‘ala al-Mahalli, (Beirut: Dar al-Fikr, 1424/2003 M), Jilid III, h. 228.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 8

KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-1

Di Surabaya Pada Tanggal 13 Rabiuts Tsani 1345 H. / 21 Oktober 1926 M.