Biografi Ibnu 'Asakir

 
Biografi Ibnu 'Asakir
Sumber Gambar: Foto ist

Daftar Isi Biografi Ibnu 'Asakir

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Teladan
  6. Pujian Ulama kepada Ibnu Asakir
  7. Karya Kitab

Kelahiran

Nama lengkapnya adalah Abu al-Qasim 'Ali bin Abi Muhammad al-Hasan bin Hibatullah bin 'Abdillah bin Husain al-Hafizh dan terkenal dengan nama Ibn 'Asakir. Beliau berasal dari Damaskus dan lahir pada tahun 499 H.

Baca juga: Biografi Syekh Kamaluddin Ibnu Imam al-Kamiliyyah

Wafat

Ibnu 'Asakir wafat pada tahun 571 H dalam usia 72 tahun.

Keluarga

Ayahnya, yaitu al-Hasan bin Habbatullah, merupakan seorang ulama mazhab as-Syafi’ yang wafat tahun 519 H/1125 M. Ibnu Asakir memiliki tiga saudara; dua saudara laki-laki dan satu saudara perempuan, yaitu: Hibatullah Al-Hasan al-Sha’in (w. 563 H/1167 M); seorang ahli fiqih, Muhammad bin Al-Hasani; seorang qadhi di Damasku, dan adik perempuan yang (tidak diketahui namanya) dinikahi Muhammad bin Ali bin al-Fath Al-Salami.

Pendidikan

Ibnu Asakir memulai perjalanannya mencari ilmu di Baghdad. Pada tahun 520 H/1126 M, saat itu Ibnu Asakir menginjak usia 21 tahun. Sambil terus belajar, ia juga mengisi waktunya dengan mengajar. Pengetahuannya yang luas tentang riwayat-riwayat hadits ia dapatkan ketika mengumpulkan matan-matan, sanad-sanad, menghafal, dan membaca. Kesungguhannya ini membuatnya mencapai derajat seorang ahli hadits dan ulama. Ia tidak berpuas diri hanya dengan mendapatkan ilmu Dari halaqah-halaqah, masjid-masjid, madrasah-madrasah, dan para ulama di Damaskus. Ia berusaha untuk mendapat sesuatu yang lebih. Akhirnya, ia memutuskan untuk bersafar keluar Damaskus. Belajar hadits dari ulama-ulama dan ahli fikih ternama.

Dalam pengantar Tarikh Ibnu Asakir jilid satu, Shalahuddin al-Munjid mengatakan, “Perjalanannya dalam belajar hadits dan mendengar dari banyak guru memiliki pengaruh yang signifikan. Tak seorang ahli hadits besar pun dalam perjalannya ia lewatkan. Sehingga ia memperoleh sanad yang tinggi. Pusat-pusat ilmu tersebar di wilayah-wilayah Islam. Banyak ulama dan ahli fikih yang membagi-bagi ilmu mereka. Saat itu halaqah-halaqah belajar dan diskusi digelar di madrasah-madrasah dan masjid-masjid oleh para ahli fikih, ahli hadits, dan ulama-ulama”.

Kota Baghdad di masa itu adalah surga dunia karena keindahan tata kotanya. Kota yang menjadi pusat ilmu. Dan banyak dikunjungi oleh orang-orang dari penjuru negeri. Walaupun banyak kota-kota ilmu fikih dan hadits di wilayah Islam, seperti: Mesir, Mekah, Madinah, Khurasan, Naisabur, Ashbahan, Hirah, Thus, dll. namun Baghdad tetap menjadi kota yang utama. Penduduk Baghdad dikenal sebagai orang yang paling bersemangat dalam mempelajari dan menulis hadits. al-Khatib al-Baghdadi mengatakan, “Penduduk Baghdad dikenal sebagai orang-orang intelektual dan teliti dalam meriwayatkan hadits dan adabnya. Mereka adalah orang-orang yang paling berhati-hati dalam meriwayatkannya. Mereka dikenal dengan sifat ini” (Tarikh Baghdad oleh al-Khatib al-Baghdadi)

Pada tahun 521 H, Ibnu Asakir pergi menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Ia menggunakan kesempatan ini untuk mendengar riwayat hadits dari ulama-ulama Mekah, Mina, dan Madinah. Di antranya Abdullah bin Muhammad al-Mishri dan Abdul Khalaq bin Abdul Wasi’ al-Hawari.

Saat kembali ke Baghdad, orang-orang Irak kian takjub padanya. Mereka berkata, “Kami belum pernah melihat orang semisalnya”.

Setelah merasa cukup menimba ilmu dari tokoh-tokoh ulama Baghdad, Ibnu Asakir memutuskan untuk kembali ke Damaskus pada tahun 525 H/1131 M.

Setelah di Baghdad, Ibnu Asak pergi ke negeri-negeri 'Ajam (non Arab) untuk belajar kepada para ulama yang tersebar di negeri-negeri itu. Dia pergi ke Asbahan, Naisabur, Merv, Tabriz, Khosrowjerd, Bastam, Damghan, Ray, Zanjan, Hamadan, Herat, Sarakhs, Semnan, Abhar, Khuwi, Marand, dll.

Dalam perjalanan menuju Khurasan, di jalan-jalan Azerbaijan, tepatnya di Naisabur, ia berjumpa dengan as-Sam’ani. As-Sam’ani memuji Ibnu Asakir dengan mengatakan, “Abul Qasim seorang yang luas ilmunya dan banyak keutamaannya. Seorang penghafal yang kokoh hafalan dan agamanya. Baik akhlaknya. Ia seorang yang menggabungkan pengetahuan akan matan dan sanad dengan baiknya bacaan dan tulisan… …Ia mengumpulkan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh selainnya –artinya ilmu beliau luas-. Ia masuk ke Naisabur satu bulan sebelumku. Aku meriwayatkan darinya dan dia juga meriwayatkan dariku. Ia menulis sebuah buku sejarah yang tebal untuk Damaskus” (Tadzhib Siyar Alam an-Nubala Jilid 3 Hal: 81).

Di Naisabur, Ibnu Asakir belajar dari Abu Abdullah al-Farawi. Ia bermulazamah beberapa waktu kepadanya. Al-Farawi mengatakan, “Ibnu Asakir datang. Ia membaca (meminta koreksi) di hadapanku 3 hadits lebih. Aku pun merasa berat. Muncul keinginan di hatiku agar menutup pintu untuknya”. Kemudian kata as-Sam’ani, “Di pagi harinya, ada seseorang datang kepadaku (dalam mimpi). Laki-laki itu berkata, “Aku adalah Rasulullah ﷺ”. “Marhaban bik –ya Rasulullah-”, kataku. Kemudian beliau berkata, “Temuilah al-Farawi dan katakan padanya, ‘Datang seorang laki-laki berkulit coklat dari Syam ke negeri kalian. Ia ingin meriwayatkan haditsku. Jangan kalian sia-siakan dia.” (al-Inayatu bi Thullab al-Ilmi Inda Ulama al-Muslimin oleh Abdul Hakim Unais)

Saat di Khurasan Ibnu Asakir sibuk mendengar hadits dari ulama-ulama negeri tersebut. Sedangkan di Asbahan dan Naisabur, selain menyimak, para ulama yang lebih senior darinya juga mendengar hadits-hadits darinya.

Perjalanannya di negeri non Arab berlangsung selama empat tahun. Ia habiskan waktu-waktu tersebut untuk bermulazamah kepada para ulama, ahli fikih, ahli hadits, meneliti hadits baik thuruq-nya, orang-orang yang meriwayatkan dan apa yang mereka riwayatkan, serta sanad-sanadnya. Karena inilah ia mencapai kedudukan yang tidak dicapai oleh orang selainnya. Setelah menyelesaikan perjalanan ini, ia kembali ke Baghdad kemudian ke Damaskus.

Dalam perjalannya ke negeri-negeri non Arab, Ibnu Asakir berhasil bertemu setidaknya 1300 ulama. 80an di antara mereka adalah perempuan. Banyak pelajaran yang ia dapatkan dari guru-gurunya. Dan ia pun berhasil menghafal banyak buku

Pada saat berumur 43 tahun, Ibnu Asakir kembali ke Damaskus dan menetap di kota tertua di dunia itu. Ia merasa saat ini adalah saat yang tepat untuk fokus mengajar dan memberi kontribusi besar dalam membina umat. Ia berkata kepada salah seorang muridnya, Abul Mawahib, “Ketika aku sudah membulatkan tekad untuk menyampaikan hadits –demi Allah- sungguh aku tidak menginginkan kepemimpinan dan diunggulkan. Aku berkata, ‘Kapan aku akan meriwayatkan apa yang telah kudengar?’ ‘Faidah apa yang bisa aku tuliskan?’ Aku beristikhoroh kepada Allah, meminta izin guru-guruku, dan tokoh-tokoh masyarakat, kutemui mereka semua. Mereka berkata, ‘Siapa lagi yang lebih berhak darimu?’ Aku pun mulai menyampaikan hadits pada tahun 533 H/1138 M”.

Guru Guru Beliau

  1. Imam Al Asy’ari
  2. Abdullah bin Muhammad al-Mishri
  3. Abdul Khalaq bin Abdul Wasi’ al-Hawari

Murid Beliau

  1. Ibnu Katsir
  2. Abu Mawahib

Teladan

Ibnu Asakir termauk ulama yang wira'i, tidak tergila-gila jabatan dan pangkat. Dia sering mengingatkan dirinya sendiri tentang pentingya amar ma'ruf dan nahi munkar. Dia senantiasa menerima siapa saja yang berunjung ke kediamannya tanpa melihat jabatan dan status sosial. Ibnu Asakir merupakan ulama yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk berguru kepada para ulama.

Pujian Ulama kepada Ibnu Asakir

Ibnu Khalkan mengakatan, “Dia (Ibnu Asakir) adalah ahli fiqh mazhab Syafi’i, ahli hadith, pejuang hadith sejati yang pantang menyerah, pencari ilmu, penjaga agama, tutur katanya halus dan sopan, pengarang Tarikh Dimasyq sebanyak 80 jilid yang penuh dengan keajaiban.”

Karya Kitab

Ibnu 'Asakir merupakan 'ulama yang menguasai berbagai disiplin ilmu dan sangat produktif, seperti Hadits dan Sejarah. Diantara karyanya adalah

  1. Tarikh Dimasyq (80 jilid)
  2. Al-Muwafaqaah (2 jilid)
  3. Gharaib Malik (10 jilid)
  4. Al-Mu’jam (12 jilid)
  5. Al-Musalsalat
  6. Tarikh al-Mazah
  7. Mu’jam an-Niswan
  8. Mu’jam as-Syuyukh wa an-Nubula
  9. Al-Mu’jam al-Musytamil ‘Ala Asma’ al-Kutub as-Sittah
  10. Tabyin Kazib Al-Muftari Bi Ma Nusiba Illa Al-Imam Abu Hasan Al-Asy’ari

Baca juga: Biografi Syekh Jalaluddin al-Mahall

 
 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya