Biografi Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari

 
Biografi Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari

Daftar Isi Profil Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari

  1. Kelahiran
  2. Nasab
  3. Keturunannya
  4. Kisah Semasa Kecil
  5. Wafat
  6. Keluarga
  7. Pendidikan
  8. Menyatukan Orang Kalimantan Agar Bermazhab Syafi'i
  9. Guru-Guru
  10. Karya-Karya

Kelahiran

Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari atau yang kerap disapa dengan panggilan Datuk Kalampayan lahir di Lok Gabang, Martapura, Kalimantan Selatan pada tanggal 15 Safar 1122 H/19 Maret 1710 M.

Beliau merupakan seorang ulama besar yang sangat berpengaruh dalam perkembangan Islam di Kalimantan. Beliau juga adalah tokoh yang gigih dalam mempertahankan aliran Ahlussunnah Wal Jama’ah dan bermazhab Fiqih Syafi’i. Beliau penasehat atau mufti Kesultanan Banjar dan penulis yang produktif.

Nasab

Jalur nasabnya ialah Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari bin Abdullah bin Tuan Penghulu Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah bin Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad Ash Shalaibiyyah bin Husein bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah Al Idrus Al Akbar (datuk seluruh keluarga Al Aidrus) bin Abu Bakar As Sakran bin Abdurrahman As Saqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali Maula Ad Dark bin Alwi Al Ghoyyur bin Muhammad Al Faqih Muqaddam bin Ali Faqih Nuruddin bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khaliqul Qassam bin Alwi bin Muhammad Maula Shama’ah bin Alawi Abi Sadah bin Ubaidillah bin Imam Ahmad Al Muhajir bin Imam Isa Ar Rumi bin Al Imam Muhammad An Naqib bin Al Imam Ali Uraidhy bin Al Imam Ja’far As Shadiq bin Al Imam Muhammad Al Baqir bin Al Imam Ali Zainal Abidin bin Al Imam Sayyidina Husein bin Al Imam Amirul Mu’minin Ali Karamallah wajhah wa Sayyidah Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW.

Keturunannya

Dzurriyaat (anak dan cucu) beliau banyak sekali yang menjadi ulama besar, pemimpin-pemimpin, yang semuanya teguh menganut Madzhab Syafi’i sebagai yang di wariskan oleh Syaikh Muhammad Arsyad Banjar. Diantara dzurriyat beliau yang kemudian menjadi ulama besar turun temurun adalah :

  1. H. Jamaluddin, Mufti, anak kandung, penulis kitab “perukunan Jamaluddin”.
  2. H. Yusein, anak kandung, penulis kitab “Hidayatul Mutafakkiriin”.
  3. H. Fathimah binti Arsyad, anak kandung, penulis kitab “Perukunan Besar”, tetapi namanya tidak ditulis dalam kitab itu.
  4. H. Abu Sa’ud, Qadhi.
  5. H. Abu Naim, Qadhi.
  6. H. Ahmad, Mufti.
  7. H. Syahabuddin, Mufti.
  8. H.M. Thaib, Qadhi.
  9. H. As’ad, Mufti.
  10. H. Jamaluddin II., Mufti.
  11. H. Abdurrahman Sidiq, Mufti Kerajaan Indragiri Sapat (Riau), pengarang kitab “Risalah amal Ma’rifat”, “Asranus Salah”, “Syair Qiyamat”, “Sejarah Arsyadiyah” dan lain lain.
  12. H. M. Thaib bin Mas’ud bin H. Abu Saud, ulama Kedah, Malaysia, pengarang kitab “Miftahul jannah”.
  13. H. Thohah Qadhi-Qudhat, penbina Madrasah “Sulamul ‘ulum’, Dalam Pagar Martapura.
  14. H. M. Ali Junaedi, Qadhi.
  15. Gunr H. Zainal Ilmi.
  16. H. Ahmad Zainal Aqli, Imam Tentara.
  17. H. M. Nawawi, Mufti.

Semua yang disebutkan diatas menjadi ulama dan telah berpulang ke rahmatullah. Namun masih banyak lagi, seperti yang belakangan banyak dikenal sebagai ahli tashowuf dan waliyullah yakni Syaikh Zaini Abdul Ghani (Mbah Ijai atau Guru Sekumpul).

Kisah Semasa Kecil

Sejak dilahirkan, Muhammad Arsyad melewatkan masa kecil di desa kelahirannya Lok Gabang, Martapura. Sebagaimana anak-anak pada umumnya, Muhammad Arsyad bergaul dan bermain dengan teman-temannya. Namun pada diri Muhammad Arsyad sudah terlihat kecerdasannya melebihi dari teman-temannya.

Begitu pula akhlak budi pekertinya yang halus dan sangat menyukai keindahan. Di antara kepandaiannya adalah seni melukis dan seni tulis. Sehingga siapa saja yang melihat hasil lukisannya akan kagum dan terpukau. Pada saat Sultan Tahlilullah sedang bekunjung ke kampung Lok Gabang, sultan melihat hasil lukisan Muhammad Arsyad yang masih berumur 7 tahun.

Terkesan akan kejadian itu, maka Sultan meminta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya tinggal di istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan.

Di istana, Muhammad Arsyad tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia, ramah, penurut, dan hormat kepada yang lebih tua. Seluruh penghuni istana menyayanginya dengan kasih sayang. Sultan sangat memperhatikan pendidikan Muhammad Arsyad, karena sultan mengharapkan Muhammad Arsyad kelak menjadi pemimpin yang alim.

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari masuk lingkungan istana Banjar pada usia 7-8 tahun. Latar belakang keluarganya tidak begitu jelas. Tradisi lisan menyebut, waku iu beliau sudah mampu membaca Al-Qur’an dengan sempurna.

Sultan Tahlilulah terkesan oleh kecerdaasnnya. Sultan sendirilah yang minta kepada orang tua Syekh Arsyad agar anak itu didik di istana bersama anak-anak dan cucu-cucu kerajaan.

Wafat

Syaikh MuhammadArsyad al-Banjari wafat hari Selasa, 6 Syawal 1227 H bertepatan dengan tanggal 13 Oktober 1812 M. Dimakamkan di Desa Kalampayan, tidak jauh dari makam orang tuanya, dan kurang lebih 7 km dari tempatnya membangun pesantren.

Keluarga

Sultan Tahlilulah menikahkan Syekh Muhammad Arsyad Al-Ban dengan seorang perempuan bernama Bajut. Hanya, ketika istri beliau mengandung, Syekh Arsyad minta dikirim belajar ke Mekkah atas biaya negara. Kabarnya bekas pondikannya di kampung Syami’ah, Mekkah, masih dipelihara oleh seorang syekh yang juga berasal dari Banjarmasin.

Pendidikan

Sejak dilahirkan, Muhammad Arsyad melewatkan masa kecil di desa kelahirannya Lok Gabang, Martapura. Sebagaimana anak-anak pada umumnya, Muhammad Arsyad bergaul dan bermain dengan teman-temannya. Namun pada diri Muhammad Arsyad sudah terlihat kecerdasannya melebihi dari teman-temannya.

Begitu pula akhlak budi pekertinya yang halus dan sangat menyukai keindahan. Di antara kepandaiannya adalah seni melukis dan seni tulis. Sehingga siapa saja yang melihat hasil lukisannya akan kagum dan terpukau. Pada saat Sultan Tahlilullah sedang bekunjung ke kampung Lok Gabang, sultan melihat hasil lukisan Muhammad Arsyad yang masih berumur 7 tahun.

Terkesan akan kejadian itu, maka Sultan meminta pada orang tuanya agar anak tersebut sebaiknya tinggal di istana untuk belajar bersama dengan anak-anak dan cucu Sultan.

Di istana, Muhammad Arsyad tumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia, ramah, penurut, dan hormat kepada yang lebih tua. Seluruh penghuni istana menyayanginya dengan kasih sayang. Sultan sangat memperhatikan pendidikan Muhammad Arsyad, karena sultan mengharapkan Muhammad Arsyad kelak menjadi pemimpin yang alim.

Syekh MuhammadArsyad Al-Banjari masuk lingkungan istana Banjar pada usia 7-8 tahun. Latar belakang keluarganya tidak begitu jelas. Tradisi lisan menyebut, waku iu beliau sudah mampu membaca Al-Qur’an dengan sempurna.

Sultan tahlilulah terkesan oleh kecerdaasnnya. Sultan sendirilah yang minta kepada orang tua Syekh Arsyad agar anak itu didik di istana bersama anak-anak dan cucu-cucu kerajaan. Sultan pula yang menikahkan beliau dengan seorang perempuan bernama Bajut. Hanya, ketika isteri beliau mengandung, Syekh Arsyad minta dikirim belajar ke Mekkah atas biaya negara. Kabarnya bekas pondikannya di kampung Syami’ah, Mekkah, masih dipelihara oleh seorang syekh yang juga berasal dari Banjarmasin.

Menyatukan Orang Kalimantan Agar Bermazhab Syafi'i

Itulah yang kiranya dilakukan oleh Datuk Kalampayan dalam memberi ilmu agama kepada kita orang Kalimantan, yaitu dengan mazhab syafi'i. Menurut Tuan Guru Busu (K.H. Qomaruddin Banjarmasin), sebenarnya Datuk Kalampayan menguasai semua ilmu mazhab. Namun beliau lebih banyak menerapkan dan mengajarkan mazhab imam syafi'i, mengapa seperti itu?

Hal ini bertujuan agar kita sebagai orang Kalimantan tidak bingung dalam beribadah. Semisal beliau ajarkan pendapat mazhab ini, mazhab itu, maka pada akhirnya kita bingung, yang mana yang harus kita ikuti? Maka dari itu beliau memilih menyatukan kita orang Kalimantan dalam naungan mazhab imam Syafi'i

Sedangkan menurut Abah Guru Zuhdi (K.H. Ahmad Zuhdiannoor Banjarmasin), Datuk Kalampayan mengajarkan mazhab syafi'i karena ingin menghargai warga Kalimantan yang mayoritas bermazhab syafi'i. Beliau lebih mengutamakan adab, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.

Guru-Guru

Di Tanah Suci, Muhammad Arsyad mengaji kepada masyaikh terkemuka pada masa itu. Di antara guru dia adalah :

  1. 'Alimul ‘Allamah Syeikh Atha’illah bin Ahmad al-Mishri al-Azhari, di Makkah.
  2. Syaikh al-Islam Imam al-Haramain ‘Alimul ‘Allamah Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi, di Madinah.
  3. Khusus dalam bidang Tasawuf, Muhammad Arsyad belajar kepada Sayyid al-Arif Billah Syeikh Muhammad bin Abdul Karim al-Qadiry al-Hasani, yang masyhur dikenal dengan nama Syaikh Muhammad Samman al-Madany, di Madinah.
  4. Syaikh Ahmad bin Abdul Mun’im ad-Damanhuri.
  5. Syaikh Sayyid Abi al-Faidl Muhammad Murtadha bin Muhammad az-Zabidy.
  6. Syaikh Hasan bin Ahmad Akisy al-Yamany.
  7. Syaikh Salim bin Abdullah al-Bashry.
  8. Syaikh Shiddiq bin Umar Khan.
  9. Syaikh Abdullah bin Hijazi asy-Syarqawy.
  10. Syaikh Abdurrahman bin Abdul Aziz al-Maghrabi
  11. Syaikh Sayyid Abdurrahman bin Sulaiman al-Ahdal.
  12. Syaikh Abdurrahman bin Abdul Mubin al-Fathani. Beliau adalah seorang sahabat karib Syaikh Muhammad Samman al-Madany, bahkan makam beliau bersebelahan dengan makam Syaikh Muhammad Samman al-Madany.
  13. Syaikh Abdul Ghani bin Syeikh Muhammad Hillal.
  14. Syaikh Abid as-Sandi.
  15. Syaikh Abdul Wahhab ath-Thanthawy.
  16. Syaikh Maulana Sayyid Abdullah Mirgani.
  17. Syaikh Muhammad bin Ahmad al-Jauhari.
  18. Syaikh Muhammad Zain bin Faqih Jalaluddin Aceh, pengarang Kitab Bidayatul Hidayah.

Disamping itu, ada beberapa ulama yang banyak mengeluarkan sanad, silsilah kitab atau ilmu yang diajarkan, di antaranya:

  1. Syaikh Sayyid Abi al-Faidl Muhammad Murtadha bin Muhammad az-Zabidy.
  2. Syaikh Sayyid Abdurrahman bin Sulaiman al-Ahdal.
  3. Syaikh Salim bin Abdullah al-Bashry.
  4. Syaikh Hasan bin Ahmad Akisy al-Yamany

Selama menuntut ilmu di sana, Syekh Muhammad Arsyad menjalin persahabatan dengan sesama penuntut ilmu seperti Syekh Abdussamad al-Falimbani, Syekh Abdurrahman Misri al-Jawi, dan Syekh Abdul Wahab Bugis sehingga mereka dikenal sebagai Empat Serangkai dari Tanah Jawi (Melayu).

Selama di Haramain, Syekh MuhammadArsyad al-Banjari selalu melakukan kontak dengan tanah air, sehingga beliau banyak mengetahui perembangan yang terjadi di Nusantara.

Dengan demikian, beliau tidak kehilangan informasi yang terjadi di tanah air beliau. Beliau baru kembali ke tanah air setelah menetap di Mekkah selama 30 tahun dan di Madinah selama 5 tahun. Tepatnya beliau kembali ke Martapura pada tahun1186 Hijriah bartepatan pada tahun 1773 Masehi.

Karya-Karya

Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari banyak membuat tulisan, baik berupa lembaran maupun kitab dalam berbagai bidang ilmu seperti Tauhid, Fiqih, Tasawuf dan lainnya. Di antara kitab-kitab yang ditulisnya adalah:

1. Kitab Tuhfah ar-Raghibin fi Bayani Haqiqah Iman al-Mu’minin wa ma Yufsiduhu Riddah ar-Murtaddin, diselesaikan tahun 1188 H/1774 M.  Kitab ini telah di alihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia, berisi tiga bab dan khatimah, berbicara penguraian masalah Aqidah, kepercayaan yang haq dan bathil atau hakikat iman yang benar, serta hal-hal yang bisa merusak iman.

Sebagian orang meragukan apakah kitab ini asli karya Syaikh MuhammadArsyad al-Banjari, hal ini disebabkan isinya relatif dianggap bertolak belakang dengan adat kepercayaan sebagian masyarakat Kalimantan. Namun beberapa bukti, menunjukkan bahwa kitab tersebut benar-benar karya Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari, diantaranya adalah

(1). Tulisan Syaikh Daud bin Abdullah al-Fathani, dikatakan “Maka disebut oleh yang empunya karangan Tuhfatur Raghibin fi Bayani Haqiqati Imanil Mu’minin bagi `Alim al-Fadhil al-’Allamah Syeikh Muhammad Arsyad.”

(2). Tulisan Syaikh `Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari dalam Syajaratul Arsyadiyah, “Maka mengarang Maulana (maksudnya Syeikh MuhammadArsyad al-Banjari, pen:) itu beberapa kitab dengan bahasa Melayu dengan isyarat sultan yang tersebut, seperti Tuhfatur Raghibin …” Pada halaman lain, “Maka Sultan Tahmidullah Tsani ini, ialah yang disebut oleh orang Penembahan Batu. Dan ialah yang minta karangkan Sabilul Muhtadin lil Mutafaqqihi fi Amrid Din dan Tuhfatur Raghibin fi Bayani Haqiqati Imani Mu’minin wa Riddatil Murtaddin dan lainnya kepada jaddi (Maksudnya: datukku, pen  al-’Alim al-’Allamah al-’Arif Billah asy-Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari.”

(3). Kitab cetakan Istanbul, yang kemudian dicetak kembali oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, Singapura tahun 1347 H, yaitu cetakan kedua dinyatakan, “Tuhfatur Raghibin … ta’lif al-’Alim al-’Allamah asy-Syeikh MuhammadArsyad al-Banjari.” Di bawahnya tertulis, “Telah ditashhihkan risalah oleh seorang daripada zuriat muallifnya, iaitu `Abdur Rahman Shiddiq bin Muhammad `Afif mengikut bagi khat muallifnya sendiri …”. Di bawahnya lagi tertulis, “Ini kitab sudah cap dari negeri Istanbul fi Mathba’ah al-Haji Muharram Afandi”. Dan terakhir

 (4). Mahmud bin Syeikh `Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari mencetak kitab Tuhfah ar-Raghibin itu disebutnya sebagai cetakan yang ketiga, dan nama Syeikh Muhammad Arsyad bin `Abdullah al-Banjari tetap dicantumkan sebagai pengarangnya.

2. Kitab Luqtah al-’Ajlan fi al-Haidhi wa al-Istihadhah wa an-Nifas an-Nis-yan, diselesaikan tahun 1192 H/1778 M. Kitab ini adalah kitab yang menguraikan hukum-hukum mengenai masalah kewanitaan.

3. Sabil al-Muhtadin li at-Tafaqquhi fi Amri ad-Din, diseselesaikan pada hari Ahad, 27 Rabiulakhir 1195 H/1780 M. Kitab ini sangat masyhur bahkan sampai ke luar negeri seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Fathani dan lainnya. Kitab ini berisi tentang masalah Ilmu Fiqih, ditulis sekitar tahun 1192H atau 1777M.

4. Risalah Qaul al-Mukhtashar, diselesaikan pada hari Khamis 22 Rabiulawal 1196 H/1781 M.

5. Kitab Bab an-Nikah. Kitab ini menguraikan tentang hukum-hukum pernikahan.

6. Kitab Bidayah al-Mubtadi wa `Umdah al-Auladi

7. Kanzu al-Ma’rifah, kitab yang menguraikan tentang Ilmu Tasawuf atau Ilmu Hakikat Pengendalian Diri dan Allah.

8. Kitab Ushuluddin

9. Kitab Al-Faraidl

10. Kitab Hasyiyah Fat-h al-Wahhab

11. Kitab Mushhaf al-Quran al-Karim

12. Kitab Fathur Rahman

13. Kitab Arkanu Ta’lim As-Shibyan

14. Kitab Bulugh al-Maram

15. Fi Bayani Qadha’ wa al-Qadar wa al-Waba’

16. Kitab Tuhfah al-Ahbab

17. Khuthbah Muthlaqah Pakai Makna. Kitab ini dikumpulkan semula oleh keturunannya, Abdur Rahman Shiddiq al-Banjari. Dicetak oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, Singapura, tanpa dinyatakan tarikh cetak.

18. Fatawa Sulaiman Kurdi.

19. Kitab Ilmu Falaq.

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya