Mahasiswa ITS Olah Limbah Menggunakan Kulit Pisang dan Eceng Gondok

 
Mahasiswa ITS Olah Limbah Menggunakan Kulit Pisang dan Eceng Gondok

LADUNI.ID,Surabaya - Tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memberikan solusi pengolahan limbah menggunakan kulit pisang dan eceng gondok yang ekonomis dan efisien. Ketiga mahasiswa mahasiswa asal Departemen Teknik Elektro ITS itu adalah Rizki Wahyu Ismadani, Arvianto Nugroho, dan Fahmi Riza Pahlevi. Tiga Mahasiswa ITS itu memberikan ide terkait pengolahan limbah industri menggunakan kulit pisang dan eceng gondok. Metode pengolahan ini dinamakan metode Musasi, merupakan gabungan kedua nama ilmiah bahan-bahan tersebut yaitu Musa paradisiaca dan Eichhornia crassipes.

Ide ini berangkat dari keprihatinan terhadap pelaku industri yang masih sering membuang limbah ke sungai tanpa proses pengolahan yang baik. Padahal, air sungai merupakan salah satu sumber air utama yang kemudian diolah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari. 

“Ini bahaya jika dibiarkan. Maka dari itu, fokus kami adalah pada limbah cair industri logam yang membawa dampak buruk jika sampai dikonsumsi oleh manusia,” kata Rizki sebagaimana dilansir dari laman resmi ITS 

Rizki menjelaskan Eceng gondok dipilih karena dapat menyerap warna dan bau dari limbah industri logam. Selain itu, tanaman tersebut dapat menyerap logam berat dan memiliki kemampuan untuk bertahan hidup pada air keruh. Faktor-faktor tersebut lah yang dimanfaatkan Rizki dan tim sebagai media penyaringan.

Penggunaan kulit pisang pun menjadi hal baru pada metode ini. Mahasiswa asal Mojokerto itu menjelaskan, kulit pisang yang seringkali dianggap tidak memiliki harga ekonomis ternyata dapat dimanfaatkan untuk menyerap logam berat secara maksimal. Pasalnya, kulit pisang terdiri dari atom nitrogen, sulfur, dan bahan-bahan organik seperti asam carboxylic yang dapat mengikat logam dalam air.

Tak hanya dapat dimanfaatkan sebagai penyaring, eceng gondok dan kulit pisang pun dapat digunakan untuk menunjang penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Lebih lanjut Rizki menjelaskan, antara dua kolam yang berisi eceng gondok dan kulit pisang itu dipisahkan oleh sistem PLTMH. Sistem ini terdiri dari turbin berjenis vortex, berguna untuk menghasilkan energi listrik yang berasal dari gerak. Alhasil, daya listrik yang dikeluarkan dapat mencapai 30 kW hingga 50 kW.

Di samping itu, gagasan dalam pengembangan konsep industri ramah lingkungan ini pun mampu meraih juara kedua pada ajang Environation 2018. Acara tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan, dan Kebumian (FTSLK) ITS.