Membaca Pandangan Gus Dur dalam Upaya Melawan Framing Negatif terhadap Dunia Pesantren

 
Membaca Pandangan Gus Dur dalam Upaya Melawan Framing Negatif terhadap Dunia Pesantren
Sumber Gambar: Istimewa, Ilustrasi: laduni.ID

Laduni.ID, Jakarta - Pekan ini, di jagat dunia maya dan televisi kembali diramaikan oleh tayangan program Expose Uncensored di Trans7 yang disiarkan pada Senin, 13 Oktober 2025. Tayangan itu sontak menuai kritik tajam, terutama dari kalangan pesantren, khususnya para santri dan alumni Lirboyo. Alasannya jelas, bahwa acara tersebut menampilkan narasi yang menyudutkan kaum santri, kyai, dan tradisi kepesantrenan, bahkan dengan jelas memframing seolah dunia pesantren identik dengan praktik feodalisme, ketertinggalan, eksploitasi, dan praktik-praktik kolot yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Narasi seperti ini bukan hal baru. Berkali-kali media arus utama (mainstream) tergelincir dalam cara pandang sempit yang menilai pesantren dari kacamata modernitas yang timpang. Entah hal ini murni karena kelalaian atau memang by design, tentu patut dicurigai. Padahal, di balik dinding-dinding pesantren yang sederhana, tersimpan peradaban ilmu, kebudayaan, dan moralitas yang telah menopang bangsa ini sejak sebelum republik berdiri. Ini fakta yang jarang diungkap atau memang sengaja disembunyikan untuk menghilangkan akar sejarah bangsa ini.

Di titik inilah penting membaca kembali pandangan Gus Dur perlu dan penting diangkat kembali untuk melawan framing negatif terhadap dunia Pesantren. Tidak ada yang meragukan Gus Dur sebagai salah satu sosok kyai sekaligus intelektual yang dengan gigih memperjuangkan kehormatan dunia pesantren di hadapan publik nasional dan global.

UNTUK DAPAT MEMBACA ARTIKEL INI SILAKAN LOGIN TERLEBIH DULU. KLIK LOGIN