Biografi KH. Makhtum Hannan

 
Biografi KH. Makhtum Hannan

Daftar Isi Profil KH. Makhtum Hannan

  1. Kelahiran
  2. Nasab
  3. Wafat
  4. Keluarga
  5. Pendidikan
  6. Sosok yang Tawadu dan Telaten Mendidik Santri
  7. Kiprah di PBNU

Kelahiran

KH. Makhtum Hannan lahir pada 13 Juni 1938 di Cirebon. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Abdul Hannan dengan Nyai Solihah. Ayah beliau merupakan sepuh Babakan Ciwaringin yang masih keturunan Sunan Giri bin Maulana Ishaq.

Nasab

KH. Abdul Hannan adalah putra Kiai Toyyib bin Kiai Masina bin Kiai Juman bin Kiai Mansur bin Kiai Abbas bin Kiai Subki bin bin Kiai Kamali bin Kiai Abdurrahim bin Syeikh Abdul Latif bin Mas Buyut bin Sunan Ratna Geulis/Kikis bin Sunan Raja Desa bin Sunan Bahuki bin Khatib Arya Agung bin Dalem Suka Hurang bin Sayid Maulana Faqih Ibrahim bin Syaikh Abdul Muhyi Sunan Giri bin Maulana Ishaq.

Wafat

KH. Makhtum Hannan wafat pada pagi sekitar pukul 06.35 WIB, hari Sabtu, 21 Desember 2017, dalam usia 73 tahun.

Keluarga

KH. Makhtum Hannan melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai Hj. Aminah. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai 6 anak. Putra-putri beliau diantaranya:

  1. Hj. Idah Faridah
  2. KH. Rahmat Jauhari Mahktum
  3. Muhamad Mar’i
  4. Syuhada
  5. Kholid
  6. Muhammad Arsyad

Pendidikan

KH. Makhtum Hannan memulai pendidikannya dengan belajar ilmu agama pada ayahnya, KH. Abdul Hannan, pamannya, KH. Masduki Ali dan juga kakanya KH. Amrin Hannan. Selain itu, ia pernah belajar di Pondok Pesantren Kaliwungu yang diasuh oleh KH. Abu Khaer Pasarean, KH. Subki, dan KH. Fadhil.

Setelah selesai, mondok di Pesantren Kaliwungu, beliau melanjutkan pendidikannya dengan belajar di Pondok Pesantren Lasem di bawah asuhan Syekh Masduki dan Syekh Mansur bin Khalil.

Pengasuh Pesantren

Sepulang mesantren KH. Makhtum Hannan meneruskan Pondok Pesantren Masyariqul Anwar yang diasuh oleh ayahnya di Babakan Ciwaringin Cirebon.

Kemudian, saat menjadi pengasuh, KH. Makhtum mendirikan Jamiyyah Hadiyu dan Istighatsah. Cabang-cabangnya tersebar di seluruh wilayah tiga: Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Indramayu. Bahkan jaringannya sudah tersebar di Jawa maupun Luar Jawa.

Pada tahun 1960, bersama kiai-kiai lainnya KH. Makhtum Hannan mendirikan Madrasah al-Hikamus Salafiyyah (MHS) tingkat, Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah, Aliyyah, dan Ma'had Aly.

Di tahun 1963, KH. Makhtum Hannan bersama pengasuh Pesantren Babakan Ciwaringin lainnya mendirikan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model.

Sejak tahun 1996, setiap malam Jumat, KH. Makhtum Hannan memimpin istighatsah bertempat di Maqbarah KH. Abdul Hannan. Setiap bulannya, secara rutin digelar stighatsah Kubro yang diikuti ribuan orang dari pelosok-pelosok Desa dan luar daerah.

Sosok yang Tawadu dan Telaten Mendidik Santri

KH. Makhtum Hannan tidak mau mengajar kitab yang besar-besar pada para santrinya. Sekelas Kiai Makhtum tentu tidak mungkin tidak mampu membaca kitab-kitab gramatika Arab besar sekelas Alfiyah, Mughni al-Labib, ‘Uqud al-Juman, atau kitab-kitab fikih besar sekelas al-Umm, Mughnil Muhtaj, dan kitab-kitab fikih mazhab Syafi’i lainnya.

Beliau lebih memilih kitab-kitab kecil untuk membekali santrinya di kemudian hari membaca kitab-kitab besar tersebut. Beliau sangat telaten mengajari kitab tersebut pada para santrinya. Satu bab saja bisa dibahas dalam beberapa kali pertemuan.

Selain telaten mendidik santri, beliau juga sosok ulama yang sangat tawaduk dan hati-hati. Prof. Dr. Nadirsyah Hosen pernah menceritakan dalam facebooknya, saat KH. Makhtum Hannan diminta untuk berdoa menutup acara pertemuan Kiai-kiai yang tergabung dalam AHWA, beliau sempat menolak dan tidak mau. Begitulah sosok Kiai Makhtum di mata para santrinya.

Kiprah di PBNU

Dalam struktural Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Makhtum Hannan menjabat sebagai Mustasyar (Dewan Pansihat) PBNU.