Biografi KH. Achmad Syadzili Muhdlor

 
Biografi KH. Achmad Syadzili Muhdlor

Daftar Isi Profil KH. Achmad Syadzili Muhdlor

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Keluarga
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Mendirikan Majelis Khataman Al-Qur’an

Kelahiran

KH. Achmad Syadzili Muhdlor lahir pada tahun 1918 di Sedayu, Gresik. Beliau merupakan putra H. Muhdlar bin H. Khudhari Bani Imran. Sedangkan sang ibu telah wafat saat beliau masih berusia 4 tahun. Sehingga beliau besar dalam asuhan abahnya. Selain itu, dari sang ayah, jalur nasab beliau masih keturunan dari Kanjeng Sunan Giri.

Wafat

KH. Achmad Syadzili Muhdlor wafat pada tanggal 24 Jumadil Awal 1412 H atau pada Oktober 1991 pada usia 75 tahun. Salah satu wasiat almarhum kepada istri tercintanya. “Aku lek mati selametono lan arek-arek kudu terus golek elmu ojo sampek mandek” (Jika aku meninggal dunia, tolong adakan acara selamatan, dan anak-anak harus terus belajar dan jangan sampai berhenti).

Keluarga

Pada masa mudanya, beliau besar dalam asuhan abahnya di kenal sebagai seorang pemuda yang pandai dan memiliki ilmu yang mumpuni. Inilah yang membuat guru beliau, Almaghfurlah Romo KH. Munawar kesengsem (senang) dengan beliau. Maka di ambilah beliau sebagai menantu oleh KH. Munawar.

Akhirnya beliau menikahi dengan putri KH. Munawar. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai 4 anak. Putra pertama Syeikh Muwaffaq Al-Hafidz (alm), yang lama mukim di Tanah Suci. Kedua, Musyafiyah (almarhumah). Ketiga H. Mu’adz. Keempat Hj. Qayimah. Namun, tahun 1959, istri beliau dipanggil oleh Allah SWT.

Selang beberapa tahun kemudian, ada seorang aghniya’ (dermawan) dari Pakis, Kabupaten Malang, H. Marzuki meminta KH. Achmad Syadzili Muhdlor agar sudi menjadi guru ngaji di Pakis. Setelah istikhoroh, KH. Achmad Syadzili Muhdlor mengamini permintaan tersebut. Beliau pun boyongan ke Pakis tepatnya di daerah Sumber Pasir.

H. Marzuki dikenal sebagai tokoh Pakis yang peduli dengan dakwah Islam. Agar masyarakat mau datang ke masjid dan ikut ngaji, ia mengundang masyarakat sekitar untuk ke Masjid dan dijamu dengan berbagai hidangan yang enak.

Tak jarang, ia menyembelih sapi dan kambing lalu dibagi-bagi kepada masyarakat yang mau datang ke Masjid. Jika sudah banyak masyarakat yang berkumpul, barulah KH. Achmad Syadzili Muhdlor memberikan pengajian kepada mereka.

Karena tertarik dengan kepribadian dan keilmuan serta semangat dakwah KH. Achmad Syadzili Muhdlor, H. Marzuki pun kemudian menawari KH. Achmad Syadzili Muhdlor untuk dinikahkan dengan putrinya yang bernama Bu Nyai Siti Rahmah. Gayung bersambut. Kyai Syadzili kemudian menikah dengan Bu Nyai Siti Rahmah. Dari perkawinannya yang kedua ini, KH. Achmad Syadzili Muhdlor dikaruniai 10 putra.

Yaitu, Hj. Affifah Syadzili Alhafidz, Drs. H. Misbachu Rofiq Syadzili, H. Abdul Mujib Syadzili, Almh. H. Khalilah Syadzili, H. Abdul Qodir Syadzili, H. Abdul Mun’im Syadzili Alhafidz, Hj. Mufidah Syadzili Alhafidz, Dr. Mufidz Syadzili, Hj. Mufarrikhah Syadzili Al Hafidz, Adibatusshalikhah Syadzili Alhafidz.

Putra putri KH. Achmad Syadzili Muhdlor memiliki keahlian yang beragam. Hal ini justru membawa berkah, sebab mereka bisa berperan dalam berbagai bidang kehidupan. Keberhasilan putra putrinya, tak lepas dari pendidikan dan bimbingan KH. Achmad Syadzili Muhdlor. KH. Achmad Syadzili Muhdlor merupakan sesosok orangtua yang sangat sayang pada anak-anaknya.

Beliau selalu menina bobokkan putra putrinya sebelum mereka tidur. Uniknya, bukan dongeng atau nyanyian pengantar tidur yang beliau senandungkan. Tapi, Nadzom Ta’lim Muta’allim. Harapannya, agar anak-anaknya nanti menjadi orang-orang yang cinta ilmu, memiliki etika atau adab orang yang menuntut ilmu dan tentu menjadi orang-orang yang berilmu.

Salah satu perhatian KH. Achmad Syadzili Muhdlor pada anak-anaknya adalah masalah memilih teman. KH. Achmad Syadzili Muhdlor selalu mengingatkan putra-putrinya agar jangan sampai salah dalam memilih teman. Sebab teman yang buruk itu bisa menjerumuskan. Dengan pola asuh yang penyayang dan lemah lembut itulah, putra-putri beliau menganggap ayahanda mereka sebagai figur Bapak yang nyungkani, berwibawa tapi bukan dalam arti menakutkan.

Memang secara dzohirnya, beliau jarang sekali berbicara dengan putra-putrinya. Bagi orang lain yang tidak tahu, bisa jadi menganggap KH. Achmad Syadzili Muhdlor ini kurang perhatian sama anak-anak nya. Namun di balik itu semua, beliau mengakrabkan diri dengan memanjatkan do’a untuk anak-anaknya agar menjadi anak yang berilmu lagi sholeh dan sholehah.

Pendidikan

Selepas dikhitan, KH. Achmad Syadzili Muhdlor kecil dipasrahkan kepada Romo KH. Munawwar Al-Hafidz, Sedayu Gresik. Di bawah bimbingan langsung KH. Munawwar, KH. Achmad Syadzili Muhdlor sudah hafal Al-Qur’an bilghoib dalam usia 10 tahun.

Setelah ngaji kepada KH. Munawwar, KH. Achmad Syadzili Muhdlor meneruskan mondok di Pondok Kranji, Lamongan selama 5 tahun. Merasa belum cukup, beliau kemudian ngaji di Tebuireng, di bawah asuhan Hadrotus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari selama 8 tahun.

Mendirikan Pesantren

Sebelum mendirikan pesantren KH. Achmad Syadzili Muhdlor pindah dari Gresik ke Malang. Perpindahan KH. Achmad Syadzili Muhdlor dikarenakan H. Marzuqi sang mertua memberikan sepetak lahan di Desa Sumberpasir yang kemudian didirikan pesantren dengan nama Pondok Pesantren Tarbiyah Tahfidzil Quran (PPTQ) sebelum kemudian berganti nama PPSQ Asy-Syadzili.

Salah satu santri pertama beliau adalah KH. Maftuh Said, yang kini sudah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwariyyah, Sudimoro, Bululawang Malang (Menurut Gus Mun’im, Kiai Maftuh selain menghafalkan Quran ke beliau juga ke abahnya sendiri KH. Said Mu’in, Ngaren, Gresik dan KH. Dawud Munawwar Sidayu, Gresik).  Saat itu, bersama santri putri bernama Maftuhah dari Gresik beliau ditempatkan di ndalem karena asrama belum terbangun.

Awalnya pengajian beliau hanya terpusat di masjid dekat rumahnya. Dikisahkan bahwa untuk mengundang masyarakat sekitar Sumber Pasir untuk mengaji, mertuanya sering menyembelihkan sapi dan kambing sebagai hidangan jamaah. Dari situlah berduyun-duyun masyarakat menyimak pengajian beliau. Sebenarnya sudah banyak dermawan yang menawarkan diri untuk membangunkan pesantren, namun beliau berkenan sampai menjelang kewafatannya, beliau baru berkenan untuk dibangun.

Dari keunikan sampai timbul guyonan “Lha pondok sudah ditinggal kiainya, kok baru dibangun.” Itulah sosok KH. Achmad Syadzili Muhdlor yang tak terlalu mementingkan kepentingan dunia.

Dalam kesempatan lain beliau juga berwasiat kepada salah seorang putranya “Ikhtiar iku hukume wajib lan ikhtiarku berobat wes cukup, awakmu kudu iso sabar lan terusno lek golek elmu” (ikhtiar itu hukumnya wajib dan ikhtiar dalam berobat sudah cukup, kamu harus bisa bersabar dan lanjutkanlah dalam mencari ilmu).

Pola asuh KH. Achmad Syadzili Muhdlor kepada anak-anaknya dan kepada santri-santrinya memang beda, tapi tujuannya sama. Yakni bagaimana agar mereka menjadi hamba Allah yang berilmu, yang mana dengan ilmu tersebut bisa digunakan untuk kemaslahatan dirinya maupun seluruh ummat. Kalau terhadap anak-anaknya, KH. Achmad Syadzili Muhdlor menampilkan fiigur bapak yang lembut, kalau pada santrinya, beliau sangat tegas. KH. Achmad Syadzili Muhdlor betul-betul amanat dalam membimbing para santri sesuai dengan amanat para orang tua santri.

KH. Achmad Syadzili Muhdlor tidak mau mengecewakan wali santri yang sudah titip kepada beliau. Hal ini sangat dirasakan oleh beberapa santri yang dulu pernah ngaji kepada beliau seperti KH. Maftuch (Bululawang), KH. Chusaini (Malang), KH. Nur Kholis (Malang), KH. Nur Salam. Beliau adalah guru yang menganut sistem tradisional yang keras dan tegas.

Beliau tidak segan-segan memukul santri nya yang tambeng (nakal) dan malas. Hal ini dilakukan karena beliau sangat sayang kepada kepada santrinya. Beliau ingin melihat santri nya berhasil dalam tholabul ilmi (menuntut ilmu) dan pulang membawa ilmu yang bermanfaat. Dan kenyataanya, para santri yang pernah menimba ilmu kepada beliau rata-rata setelah pulang berhasil menjadi ulama besar.

Meski dalam urusan mendidik santri, KH. Achmad Syadzili Muhdlor begitu disiplin dan keras, namun dalam urusan kebutuhan jasmani, KH. Achmad Syadzili Muhdlor seringkali mendahulukan para santrinya daripada anak-anaknya. “Kalau ada makanan di rumah, seringkali abah menyuruh untuk memberikan dulu kepada para santri. Anak-anaknya diajak hidup prihatin”, kenang Gus Mun’im, putranya yang kini diamanahi melanjutkan estafet dakwah sebagai pengasuh pesantren.

Mendirikan Majelis Khataman Al-Qur’an

KH. Achmad Syadzili Muhdlor hidupnya sangat melekat dengan al-Qur’an. Hari-hari diisi dengan mengajar Al-Qur’an, deresan dan semaan al-Qur’an. Pada tahun 1969, KH. Achmad Syadzili Muhdlor bersama para kiai yang lain membuka majelis khataman al-Qur’an bil ghoib di Masjid Agung Jamik Malang. Sebelumnya, beliau meminta do’a restu dari Romo KH. Arwani Kudus. Sang waliyullah itupun berpesan agar KH. Achmad Syadzili Muhdlor mengadakan khataman sampai wafat.

Selain itu, KH. Achmad Syadzili Muhdlor betul-betul menjaga keistiqomahan dalam ibadah. Shalat berjamaahnya tidak pernah putus. Shalat malam dan puasa sunnah juga selalu dilakukan. Ketekunannya dalam ibadah terlihat saat beliau beribadah haji. Selama ibadah haji, se kitar satu bulan tinggal di Mekkah, KH. Achmad Syadzili Muhdlor melakukan umrah sunnah sampai 40 kali. Subhanallah. Bandingkan dengan jamaah haji sekarang, bisa umrah 7 kali saja sudah luar biasa.

Sebagai seorang ulama, KH. Achmad Syadzili Muhdlor benar-benar memiliki sifat wara’ dan zuhud. Beliau tidak mau melakukan sesuatu yang hukumnya makruh. Beliau juga menghindari makanan yang makruh apalagi syubhat, alias tidak jelas halal haramnya. Maka, tidak heran jika beliau benar-benar menyiapkan hidupnya untuk kehidupan yang sesungguhnya di akhirat.