12 May 2020 · 2.858 dibaca · Aswaja
LADUNI.ID, Jakarta -
Radikal yang dimaksud di sini adalah dalam konteks sosial dan politik bukan teologis dan filosofis. Sebab radikalisme yang mendorong aksi terorisme tidak memiliki basis teologis dan filosofis yang memadai pada semua agama.
Kaum radikal berpendapat, realitas sosial dan politik sekarang, “salah”, karena itu harus “dibenarkan” secara mendasar dan menyeluruh dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Motivasi mereka mau mengubah realitas sosial politik sekarang menjadi suatu realitas yang ideal diambil dari ajaran agama yang mereka terima.
Kaum radikal menyimpan konsepsi dan persepsi diri yang ditanamkan saat proses indoktrinasi yang mereka terima dalam per-halaqah-an. Tersimpan di alam bawah sadar. Lalu doktrin-doktrin itu menjelma menjadi dogma yang terpancar dalam jiwa, mendarah daging dan mengeluarkan aura khas radikal yang termanifestasi waktu mengeluarkan berpikiran, ketika bicara dan dari sorot mata.
Konsepsi dan persepsi diri mereka sendiri yang paling mendasar adalah, tidak ada kebenaran dan kese
Anda membaca cuplikan. Buka artikel & tuntunan ibadah lengkap, plus Laduni AI bersanad untuk bertanya kapan saja. Mulai Rp20.000/bulan — tersedia 3 paket, pilih yang paling pas.
Lihat Paket Laduni+