Apakah Santri Butuh Dalil untuk Bergerak Menjaga Lingkungan?

 
Apakah Santri Butuh Dalil untuk Bergerak Menjaga Lingkungan?

LADUNI.ID, Cilacap - Pesantren adalah tempat yang biasa disebut penjara suci. Penjara dimaknai sebagai gambaran kehidupan santri yang tidak bebas. Tidak bisa sembarangan keluar asrama tanpa izin dan kepentingan, tidak diizinkan menggunakan gawai, dan sebagainya. Suci maknanya kesucian niat untuk semata mencari ilmu, dengan merelakan dirinya jauh dari keluarga dan jauh dari kampung halaman.

Akan tetapi suci bisa juga dimaknai sebagai kesucian dalam arti bersih. Sebab santri adalah orang-orang yang sangat menjaga kebersihan diri dalam menjalankan ibadah mahdah. Baik kebersihan apa yang dipakai maupun apa yang ditempati. Seperti banyak dikaji di dalam kitab dalam bab bersuci.

Berbicara tentang pentingnya kesucian bagi santri, kebersihan pesantren semestinya menjadi kemutlakan yang dijaga oleh santri. Tapi pada kenyataannya tidak semua pesantren terlalu peduli pada hal tersebut. Banyak pesantren yang nampak kumuh dan kotor. Belum lagi masalah sampah yang dihasilkan oleh santri. Kata suci nampak menjadi abu-abu antara maknanya dan faktanya.

Santri adalah termasuk komune penghasil sampah yang besar setiap harinya. Tetapi saya masih jarang mendengar ada pesantren yang peduli terhadap hal tersebut. Saya bilang jarang, bukannya tidak ada, tolong jangan tersinggung. Saya bukan berniat julid. Maka dari itu tulisan ini tidak mengarah pada pesantren yang sudah peduli lingkungan.

Saya paham santri sangat kenyang dengan suguhan teks-teks, hingga mungkin untuk bergerak ke luar zona teks, santri tidak cukup punya waktu. Barangkali karena pikirannya penuh dengan teks-teks yang harus dihafal. Karena memang santri sangat menjunjung hafalan. Hafalan adalah hal mutlak yang harus diutamakan oleh santri.

Dianggap hebat ketika santri mampu menghafal bait-bait teks sebanyak seribu bait hanya dalam waktu dua ratus hari saja. Kemudian tentang lingkungan di sekitarnya peduli apa? Jangan berdalih, hanya karena di kitab Fikih tidak ada yang membahas detail bab menjaga lingkungan terutama sampah, kemudian santri boleh mengabaikan.

Lho Mbak lan Kang Santri, iku kan sampah sampeyan dewe! Kok ya ndak dipikiraken. Tanggung jawabnya mana terhadap lingkungan? Siapa yang membuang, haruslah dia yang memungut. Mungkin peribahasa ini selaras dengan siapa yang menanam mustinya ia juga yang menuai. Sampeyan saiki mondok nanem sampah? Yo kudu nerimo umpama sesok sampeyan uripe kebek sampah (masalah). Gak papa ya, cocoklogi. Karena sebenarnya persoalan sampah juga tidak sesederhana itu.

Tetapi ya begitulah, masih sedikit santri yang peduli perihal lingkungannya sendiri. Santri adalah pelantun selawat yang paling khusyuk. Seperti yang saya tulis di artikel tentang selawat bertajuk Maulid Nabi, Momen Memaknai Selawat dalam Kehidupan. Banyak santri yang berselawat dengan lisan, belum berselawat dengan tindakan. Padahal menurut pandangan saya menjaga lingkungan itu juga bagian dari kita berselawat. Karena tentu saja Rasulullah sudah mencontohkannya. Perihal tekstualnya santri sudah paling ahli.

Sekarang yang mendesak kita tunggu adalah tindakan nyata santri. Keindahan tanpa kebersihan akan buram maknanya. Kebersihan adalah keindahan yang hakiki. Jika lingkungan bersih, keindahan akan memancarkan pesonanya. Pada akhirnya kesucian harus dimaknai lebih luas. Tidak hanya kesucian apa yang kita pakai dan yang kita tempati (untuk salat) saja akan tetapi lebih luas dari itu adalah bumi yang kita huni.

Sehingga santri tidak perlu dalil untuk menjaga kebersihan lingkungannya dari sampahnya sendiri, karena santri sudah kenyang dalil. Santri bisa menanamkannya sejak dalam pikiran dan menerapkannya dalam pesantren, lingkungan mereka sendiri. Supaya ketika keluar dari pesantren santri tinggal melanjutkan menjaga lingkungannya di kampung halamannya masing-masing. Sebab yang ditunggu oleh masyarakat bukan pertunjukkan hafalan seribu bait, akan tetapi peran nyata santri dalam kehidupan.

Saya tidak bermaksud menggurui, tapi sekadar mengingatkan diri saya sendiri, dan sekaligus mengajak para santri. Barangkali ada yang mau untuk bergerak bersama mencari solusi permasalahan sampah santri.

______________________
*) Artikel ini ditulis oleh Neyla Hamadah, Pengasuh Pesantren Al-Barokah Putri Kawunganten Cilacap.