Sudah Pantaskah Kita Berkata ‘Kami Bersama Kanjeng Nabi’?

 
Sudah Pantaskah Kita Berkata ‘Kami Bersama Kanjeng Nabi’?

LADUNI.ID, Jakarta - Berikut trik sederhana dari Syaikh Abu Ja'far Al Barzanji dalam kitab Al Barzanji Natsar yang sering kita baca tentang kisah Kanjeng Nabi yang sangat inspiratif untuk bekal kehidupan kita sehari hari dalam sikap dan ucapan yang pantas disandarkan kepada kanjeng nabi. Terjemah bebasnya kira kira begini :

"Kanjeng Nabi Muhammad berdakwah di ta'if, tidak satupun mendapatkan pengikut, Kanjeng Nabi dicaci maki dan di-buly, bahkan penduduk taif menghasud para preman, orang orang bodoh dan para budak untuk menyakiti kanjeng nabi, tidak cukup sampai disitu Kanjeng Nabi juga dilempari batu hingga kepalanya berdarah mengalir membasahi sandalnya.

Kemudian Kanjeng Nabi kembali pulang ke Makkah dalam keadaan sedih. Melihat penderitaan Nabi, Malaikat penjaga gunung marah dan menawarkan diri kepada Kanjeng Nabi untuk menjadi relawan menghancurkan penduduk Ta'if. Lalu apa respon Kanjeng Nabi?

“Jangan malaikat...  Jika hari ini mereka tidak beriman padaku siapa tau anak cucunya kelak beriman kepadaku.".

Dari kisah singkat ini kita bisa mengambil pelajaran betapa mulia akhlak dan kesabaran Kanjeng Nabi kita, tidak pernah memaksa manusia untuk menjadi pengikutnya apalagi membuatnya binasa. Dalam situasi apapun kita harus senantiasa bersabar seperti kesabarannya Kanjeng Nabi, dan sebagai pengikutnya jangan lah kita seperti penduduk Ta'if yang kesenangannya menyakiti, mencaci maki dan membuli.

(Gus Ibnu Ceha)