DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
Jadi menjaga lisan bukan berarti menahan segala bentuk ucapan, melainkan memastikan setiap kata yang keluar bernilai kebenaran, kejujuran, dan keberanian dalam membela yang haq. Gus Baha melihat urgensi ini dalam realita kehidupan.
Kita bisa mengambil pelajaran dari generasi orang-orang sholeh terdahulu, bahwa ikhtiar mereka dalam bersungguh-sungguh membaca dan mempelajari Al-Qur’an sejak sebelum memasuki bulan suci Ramadhan adalah wujud yang nyata tentang kemuliaan bulan Sya’ban itu.
Sya’ban merupakan bulan ke 8 dalam Islam. Bulan ini mempunyai banyak keistimewaan layaknya bulan sebelumnya (Rajab).
Motivasi untuk mencari ilmu dengan demikian untuk mencapai tiga tujuan utama, yaitu untuk meningkatkan mutu pemikiran, memperbaiki kualitas kerja, dan untuk menemukan pembagian tugas sesuai bidang keahlian.
Dalam khazanah pesantren, kita tahu tentang istilah Luhumul Ulama’ Masmuumah (daging ulama itu beracun). Kalimat ini cukup populer di kalangan penuntut ilmu.
Perbincangan hangat seputar debat antara Gus Ajir Ubaidillah dan Heri Prass ramai dibahas di ruang digital. Tanpa perlu menguliti personalia, publik dapat menilai satu hal mendasar, yaitu tentang ilmu yang bersanad berhadapan dengan konten yang gemar memprovokasi.
Dalam hiruk-pikuk hubungan sosial seperti sekarang ini, trust (kepercayaan) itu seperti berlian. Ia sungguh sulit untuk ditemui dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Perlu ditanamkan di dalam diri kita, bahwa cara yang baik dalam memuliakan bulan Sya'ban dengan berpuasa dan berbagai amal kebaikan merupakan salah satu upaya sungguh-sungguh kita untuk meraih keberkahan hidup.
“Ia (Sya’ban) adalah bulan dibukanya pintu-pintu kebaikan, diturunkannya keberkahan, ditinggalkannya dosa-dosa, dihapuskannya kesalahan-kesalahan, dan diperbanyaknya shalawat kepada Muhammad SAW, sebaik-baik makhluk.”
Ustadzah Halimah Alaydrus, dalam sebuah ceramahnya yang menggugah, mengajak kita untuk merenung, dari mana sebenarnya sumber kekuatan kita?