DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
Setiap Ramadhan tiba, ruang-ruang diskusi keagamaan kembali diramaikan oleh perdebatan yang sesungguhnya bukan hal baru. Pertanyaan yang sama kembali mengemuka, benarkah doa berbuka puasa
Dalam khazanah fiqih, niat bukan hanya formalitas lisan, melainkan fondasi sah atau tidaknya sebuah ibadah. Puasa tanpa niat ibarat bangunan tanpa fondasi. Dengan kata lain, sah tidaknya suatu ibadah tidak bisa terlepas dari niat itu sendiri.
Tetapi semangat dalam berbagi itu, jangan sampai dirusak nilainya dengan niat hanya sekadar untuk pamer atau karena ingin tenar dan suka menyebut jasa kebaikannya. Apalagi juga disertai dengan menyakiti perasaan orang yang menerima.
“Setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan bagi setiap orang itu adalah bagian dari apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari)
Perbedaan penetapan awal Ramadhan dan Idul Fitri kerap menjadi perhatian publik di Indonesia. Dalam sejumlah kesempatan, sebagian umat Islam memulai puasa atau merayakan Idul Fitri pada hari yang berbeda. Situasi ini bukan hanya persoalan teknis penanggalan, tetapi juga menyentuh aspek persatuan dan ketertiban sosial keagamaan.
Ulama yang menolak penggunaan hisab berargumentasi, bahwa Syari’ (Allah dan Rasul-Nya) menggantungkan pelaksanaan puasa kepada tanda-tanda (fenomena alam) yang tetap, lagi tidak berubah selamanya, yaitu dengan cara melakukan ru’yatul hilal dan ikmal, yakni menyempurnakan usia bulan 30 hari.
Dalam konteks keindonesiaan, pemerintah memegang peranan sentral dalam mengeluarkan kebijakan penentuan awal Ramadhan dan Syawal yang seharusnya diikuti oleh seluruh umat Islam di Indonesia.
"Dari Ibnu Umar r.a, bahwa Nabi SAW bersabda: 'Kami adalah umat yang tidak dapat menulis dan berhitung satu bulan itu seperti ini.' Maksudnya, satu saat terkadang berjumlah 29 hari dan pada waktu lain 30 hari." (HR. Bukhari)
Permintaan maaf menjelang Ramadlan itu menjadi fadlilah (keutamaan) karena sebagai usaha agar pribadi kita menjadi suci ketika memasuki bulan suci.
Gus Faiz memulai dengan menjelaskan QS. Ar-Ra'd ayat 11. Menurutnya, ayat ini sering dimaknai secara sempit sebatas dorongan untuk bekerja keras. Padahal, konteks turunnya ayat ini justru berbicara tentang tanggung jawab atas perilaku.