DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
Ulama yang menolak penggunaan hisab berargumentasi, bahwa Syari’ (Allah dan Rasul-Nya) menggantungkan pelaksanaan puasa kepada tanda-tanda (fenomena alam) yang tetap, lagi tidak berubah selamanya, yaitu dengan cara melakukan ru’yatul hilal dan ikmal, yakni menyempurnakan usia bulan 30 hari.
Dalam konteks keindonesiaan, pemerintah memegang peranan sentral dalam mengeluarkan kebijakan penentuan awal Ramadhan dan Syawal yang seharusnya diikuti oleh seluruh umat Islam di Indonesia.
"Dari Ibnu Umar r.a, bahwa Nabi SAW bersabda: 'Kami adalah umat yang tidak dapat menulis dan berhitung satu bulan itu seperti ini.' Maksudnya, satu saat terkadang berjumlah 29 hari dan pada waktu lain 30 hari." (HR. Bukhari)
Permintaan maaf menjelang Ramadlan itu menjadi fadlilah (keutamaan) karena sebagai usaha agar pribadi kita menjadi suci ketika memasuki bulan suci.
Gus Faiz memulai dengan menjelaskan QS. Ar-Ra'd ayat 11. Menurutnya, ayat ini sering dimaknai secara sempit sebatas dorongan untuk bekerja keras. Padahal, konteks turunnya ayat ini justru berbicara tentang tanggung jawab atas perilaku.
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Jika istighfar hanya dipakai untuk mengenang dosa, lama-lama orang akan merasa putus asa dan hidup tidak nyaman dengan Allah. Padahal, istighfar mestinya mempererat hubungan dengan-Nya, bukan malah membuat hati menjauh.
Islam adalah agama yang menjunjung tinggi akhlak dan adab dalam pergaulan sosial. Salah satu ajaran mulia dalam Islam adalah meminta maaf, baik dalam konteks pergaulan sehari-hari maupun ketika seseorang telah melakukan kesalahan terhadap orang lain.
Ziarah kubur merupakan sebuah amaliyah yang memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan turun temurun. Kita tahu, bahwa Nabi Muhammad SAW sendiri menganjurkan umatnya untuk berziarah, meski pada awalnya beliau pernah melarangnya.
Kezaliman (kesalahan) kitalah yang menjadi urusan kita dengan Allah sehingga itulah yang seharusnya menjadi materi taubat kita. Adapun kezaliman orang lain terhadap kita, itu adalah urusan yang bersangkutan dengan Allah. Jadi, taubat itu adalah tentang kesalahan diri sendiri kita, bukan orang lain.