Hukum Membeli Barang Seharga Rp 0. 50,-, dengan Menyerahkan Uang Satu Rupiah

 
Hukum Membeli Barang Seharga Rp 0. 50,-, dengan Menyerahkan Uang Satu Rupiah

Membeli Barang Seharga Rp 0. 50,-, dengan Menyerahkan Uang Satu Rupiah

Pertanyaan :

Bagaimana pendapat Muktamar terhadap orang yang membeli barang seharga Rp. 0.50,- (setengah rupiah) dengan menyerahkan uang sebesar Rp. 1,- (satu rupiah) kemudian ia menerima barang dengan pengembalian Rp. 0,50,-, sahkah jual beli tersebut atau tidak?

Karena menyerupai jual beli Muddujwah (campuran).

Jawaban :

Jual beli tersebut hukumnya sah! Menurut Imam Syafi’i, dan sebagian ulama Maliki.

Keterangan, dalam kitab:

  1. Syams al-Isyraq[1]

قَالَ الدَّسُوْقِي نَقْلاً عَنْ شَيْخِهِ الْعَدَوِي وَالْعَلاَّمَةِ الدَّرْدِيْرِي أَجَازَ بَعْضُهُمْ ذَلِكَ فِي الرِّيَالِ الْوَاحِدِ أَوْ نِصْفِهِ أَوْ رُبُعِهِ لِلضَّرُوْرَةِ كَمَا أُجِيْزَ صَرْفُ الرِّيَالِ الْوَاحِدِ بِالْفِضَّةِ الْعَدَدِيَّةِ وَكَذَا نِصْفُهُ وَرُبُعُهُ لِلضَّرُوْرَةِ وَإِنْ كَانَتْ الْقَوَاعِدُ تَقْتَضِى الْمَنْعَ.

Al-Dasuqi berkata dengan menukil dari gurunya al-‘Adawi dan al-Dardiri, bahwa sebagian dari ulama memperbolehkan pertukaran tersebut dalam satu riyal atau setengahnya atau pula seperempatnya karena darurat, sebagaimana diperbolehkan menukar satu riyal dengan uang logam perak recehan, demikian pula separuhnya atau seperempatnya karena darurat, walaupun kaidah mengarah pada pelarangan.

  1. Al-Umm[2]

لَوْ بَاعَهُ ثَوْبًا بِنِصْفِ دِيْنَارٍ فَأَعْطَاهُ دِيْنَارًا وَأَعْطَاهُ صَاحِبُ الثَّوْبِ نِصْفَ دِيْنَارٍ ذَهَبًا لَمْ يَكُنْ بِذَلِكَ بَأْسٌ  لِأَنَّ هَذَا بَيْعٌ حَادِثٌ غَيْرَ الْبَيْعِ اْلأَوَّلِ.

Seandainya penjual menjual baju kepada seorang pembeli dengan harga setengah dinar, kemudian pembeli memberi uang satu dinar, dan si pemilik baju kemudian memberinya setengah dinar emas, maka yang demikian itu tidak mengapa, karena (penyerahan setengan dinar dari penjual) ini merupakan penjualan yang baru, bukan penjualan yang pertama.

[1]   Muhammad Ali al-Maliki, Syams al-Isyraq fi Hukmi al-Ta’ammuli bi al-Arwaq, (Mesir: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, 1921 M), h. 14.

[2]   Muhammad bin Idris al-Syafi’i, al-Umm, (Mesir: Mathba’ah al-Fanniyah al-Muttahidah, 1381 H/1961 M), Cet. Ke-1, Jilid III, h. 32.

 

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 31

KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-2

Di Surabaya Pada Tanggal 12 Rabiuts Tsani 1346 H./9 Oktober 1927 M.