Hukum Puasa di Bulan Rajab Menurut Empat Imam Madzhab

 
Hukum Puasa di Bulan Rajab Menurut Empat Imam Madzhab
Sumber Gambar: laduni.id

LADUNI.ID, Jakarta - Pada prinsipnya, puasa sunnah dianjurkan untuk dilaksanakan sebanyak mungkin, mengingat puasa sarat dengan keutamaan lahir dan batin. Karenanya, agama Islam tidak akan pernah menghalangi pemeluknya, yang ingin mengejar banyak pahala dengan wasilah keutamaan amaliah, melalui puasa selain pada hari-hari tertentu yang dilarang.

Rajab adalah salah satu bulan haram (mulia) dalam Islam. Karena Rajab termasuk bulan mulia, maka tak heran bila banyak umat Islam memperlakukan bulan ini, dengan penuh semangat, hormat dan antusias untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah sunnah mereka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an :

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ – ٣٦

Sesungguhnya, jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu mendhalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya, sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa (QS. At-Taubah :36).

Jumhur ulama tafsir
Terkait maksud ayat tersebut, mayoritas (jumhurul ulama) ahli Tafsir seperti Imam Ibnu ‘Arabi (1165 M Spanyol – 1240 M Damaskus), Abu Bakr Ahmad ibn Ali Al-Razi atau Imam Al-Jashshash Al-Hanafi (wafat 980 M), Syaikh Ahamd Ibnu ‘Ajibah Al-Hasani atau Imam Ibnu ‘Ajibah (wafat 1809 M), Imam Al-Qurthubi Al-Maliki (1214 M Spanyol – 1273 M Mesir), Imam As-Suyuthi Asy-Syafi’i (1445 – 1505 M Kairo, Mesir), Ibnu Abbas Al-Razi, Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’i (1301 – 1373 M Damaskus), Imam Ath-Thabari Asy-Syafi’i (839 – 923 M, Bagdad), Imam An-Nasafi Al-Hanafi (1067 – 1142 M Uzbekistan), Imam Al-Baghawi Asy-Syafi’i (1044 – 1122 M Iran), Imam Al-Qusyairi Asy-Syafi’i Al-Asy’ari (986 – 1074 M Naisabur, Iran), Imam Al-Tasturi (818 – 896 M, Basra, Irak), Imam Al-Alusi Al-Baghdadi Al-hanafi (1802 – 1854 M Irak), Imam Az-Zamahsyari (1075 – 1144 M), Syaikh Al-Sinqithi (wafat 1973 M), dan Imam Thanthawi (wafat 2010 M) rahimahumullah, mengatakan bahwa bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan yang dimuliakan tersebut (lihat kitab Ahkam Al-Qur’an, 4/280. 7/275, Bahr Al-Madid, 3/101, Al-Jami’ Li Ahkam Al-Qur’an, 8/132, Al-Dar al-Mantsur, 6/354 dan lainnya).

Imam Abu Bakar Al-Warraq Al-Balkhi rahimahullah (wafat 280 H / 893 M) pernah berkata, “Di bulan Rajab engkau menabur benih, di bulan Sya’ban engkau mengairi mereka (benih), dan di bulan Ramadan engkau memanennya.”

Salah satu anjuran dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, ketika berada di bulan haram adalah berpuasa beberapa hari di dalamnya. 

صُمْ مِنَ الْحُرُمِ

Berpuasalah pada bulan-bulan haram (HR. Imam Abu Dawud, HR. Imam Ibnu Majah, dan HR. Imam Ahmad).

Lalu bagaimana hukumnya puasa di bulan Rajab?

Saat berada di bulan Rajab, seorang ulama kibar tabi’in bernama Imam Abu Muhammad Sa’id bin Jubair rahimahullah (665 – 714 M, Kufah, Irak), pernah ditanya, apakah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam  pernah berpuasa di bulan Rajab. Sa’id pun meriwayatkan hadis dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu (619 – 687 M, Tha’if) : 

يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ‏.‏ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ

“Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam  berpuasa (berturut-turut), hingga kami menduga beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam selalu berpuasa, dan beliau tidak puasa (berturut2) sampai kami menduga beliau Shalallahu ‘Alaihi Wasallam tidak puasa” (HR. Imam Muslim & HR. Imam Ahmad Ibnu Hambal).

Tanggapan Imam An-Nawawi
Al-Imam Al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf An-Nawawi Ad-Dimasyqi Asy-Safi’i atau Imam An-Nawawi rahimahullah (1233 – 1277 M Nawa, Suriah) berpendapat, “Tidak ada keterangan yang tsabit (kokoh) tentang puasa sunnah Rajab, baik berbentuk larangan atau pun kesunnahan. Namun pada dasarnya melakukan puasa hukumnya sunnah (di luar Ramadhan). Dan diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam kitab Sunannya bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam  menyunnahkan berpuasa di bulan-bulan haram, sedang bulan Rajab termasuk salah satunya.”

Selanjutnya, Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud hadis di atas:
“Yang jelas bahwasanya maksud dari Abu Muhammad Sa’id bin Jubair rahimahullah (665 – 714 M, Kufah, Irak), mengemukakan dalil di atas (Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam  puasa dan tidak), adalah bahwa tidak ada larangan, dan tidak ada pula anjuran secara khusus puasa pada Rajab, tetapi hukumnya sama seperti bulan2 lainnya. Tidak ada ketetapan larangan dan kesunnahan, untuk puasa rajab, tetapi asalnya puasa adalah sunnah. Dalam kitab sunan Abi Dawud diriwayatkan, bahwasannya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam  menganjurkan puasa pada Al-Asyhur Al-Hurum (bulan2 mulia yaitu Dzul qa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab), sedangkan bulan rajab adalah salah satunya.” (Kitab Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim).

Di sisi lain, pelarangan terhadap puasa Rajab juga telah menjadi kabar yang simpang siur sejak dahulu, sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi Asy-Syafi’i atau Imam Muslim rahimahullah (wafat 5 Mei 875 M, Naisabur, Iran) berikut:

“Abdullah, budak Asma binti Abu Bakar Radhiyallahu Anha (595 – 692 M, Mekkah) dan dia adalah paman anak Atha’, berkata: “Asma menyuruhku menemui Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu (610 – 693 M, Mekkah) untuk menyampaikan pesan beliau:

 بلغني أنك تحرم أشياء ثلاثة العلم في الثوب وميثرة الأرجوان وصوم رجب كله

“Telah sampai kepadaku berita bahwa kamu mengharamkan tiga perkara: lukisan pada kain (sulaman sutera), bantal bewarna ungu, dan puasa bulan Rajab seluruhnya”.

Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu memberikan klarifikasinya kepadaku:

أما ما ذكرت من رجب فكيف بمن يصوم الأبد

“Adapun mengenai puasa bulan Rajab yang kau sebutkan, maka bagaimana dengan seorang yang puasa terus menerus sepanjang masa?”. (HR Imam Muslim rahimahullah)

Imam An-Nawawi Rahimahullah menjelaskan :

 أما جواب ابن عمر في صوم رجب فإنكار منه لما بلغه عنه من تحريمه ، وإخبار بأنه يصوم رجبا كله ، وأنه يصوم الأبد. والمراد بالأبد ما سوى أيام العيدين والتشريق

Jawaban Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu mengenai puasa Rajab tersebut, merupakan penolakan atas kabar larangan puasa Rajab yang disinyalir bersumber dari dirinya, bahkan jawabannya merupakan pemberitahuan, bahwa ia sendiri melakukan puasa Rajab sebulan penuh, dan puasa selamanya yakni puasa sepanjang tahun selain dua hari raya dan hari-hari tasyriq. (Kitab Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim).

Maka kesimpulan Imam An-Nawawi rahimahullah di atas, kami kira sebagai kunci dan titik temu, di antara dua kelompok di atas, yaitu “Tidak ada ketetapan larangan dan kesunnahan untuk puasa Rajab tetapi asalnya puasa adalah sunnah”.

Puasa kapanpun (selain dua hari raya dan hari-hari tasyriq), termasuk di bulan Rajab, adalah ibadah yang berpahala. Rajab menjadi bulan yang istimewa, karena ia adalah bulan yang suci dan agung.

Berdasarkan ayat Al-Qur’an dan Hadis di atas, ulama Hanafiyah, Syaikh Nidhamuddin Al-Balkhi Al-hanafi  rahimahullah berpendapat bahwa, puasa Rajab termasuk puasa yang dicintai dan dianjurkan (sunnah), seperti juga puasa Muharam, puasa Sya’ban dan puasa Asyura (kitab Al-Fatawa Al-Hindiyyah, 1/202).

Rajab bulan mulia

Banyak literatur yang menjelaskan tentang fadhilah bulan Rajab. Salah satunya terdapat hadits sebagaimana disadur dalam kitab Jami’ Al-Ahadits karya Abdurrahman bin Kamaluddin Abu Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin, Jalaluddin al-Misri as-Suyuthi Asy-Syafi’i Al-Asy’ari atau Imam Jalaluddin As-Suyuthi rahimahullah (3 Oktober 1445 – 18 Oktober 1505 M, Kairo, Mesir) :

رَجَبُ شَهْرُ اللّٰه وَشَعْبَانُ شَهْرِى وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِى أبو الفتح بن أبى الفوارس فى أماليه عن الحسن مرسلاً

[الديلمى عن أنس]

“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban itu bulanku, dan Ramdlan adalah bulan umatku.” Dari Abu al-Fath bin Abu Al-Fawaris, dari Al-Hasan, dengan status hadis mursal yang diriwayatkan oleh Imam ad-Dailami rahimahullah (wafat 736 M) dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu (612 M, Madinah – 709 M, Basra, Irak). (kitab Jami’ Al-Ahadits, 13/109)

Abdurahman ibn Syihab al Din Ahmad ibn Rajab ibn Abd al Rahman ibn Hasan ibn Muhammad ibn Abi al Barakat Mas’ud Al Hafidz Zain Al Din Abu al Faraj Al Baghdadiy Al Dimasyqiy Al Hanbaliy atau Imam Ibn Rajab Al-Hambali rahimahullah (4 November 1335 M Bagdad – 14 Juli 1393 M, Damaskus), juga menyadur dalam kitabnya Lathaif Al-Ma’arif, sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Bakr Al-Warraq Al-Bulkhi rahimahullah tentang keutamaan bulan Rajab sebagaimana berikut:

شَهْرُ رَجَبَ مِفْتَاحُ أَشْهُرِ اْلخَيْرِ وَالْبَرَكَةِ قَالَ أَبُو بَكْرٍ اْلوَرَّاقِ اْلبُلْخِيّ شَهْرُ رَجَبَ شَهْرُ الزَّرْعِ وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ السَّقْيِ لِلزَّرْعِ وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حِصَادِ الزَّرْعِ

“Rajab adalah sebaik2 bulan yang didalamnya kunci pembuka kebaikan dan barakah. Abu Bakr al-Warraq Al-Bulkhi berkata: Rajab adalah bulan untuk menanam, Sya’ban adalah bulan untuk menyiram, dan Ramadhan adalah bulan untuk memanen.” (kitab Lathaif al-Ma’arif, h. 234, Cet. Dar Ibn Katsir)

Meskipun terdapat banyak hadis yang menjelaskan fadhilah bulan Rajab, namun banyak asumsi umat Islam yang menganggap hadis-hadis yang tersebar merupakan hadis dha’if. Hanya saja menurut Amirul Mukminin fil hadis Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i rahimahullah (18 Februari 1372 – 2 Februari 1449 M Kairo, Mesir), hadis dha’if masih diperbolehkan untuk dijadikan fadhail Al-A’mal.

Pendapat Empat Imam Madzhab

Madzhab Hanafi
Di dalam kitab Al-Fatawa Al-Hindiyyah karya Syeikh Nidhamuddin Al-Balkhi Al-hanafi rahimahullah, disebutkan fatwa yang menyatakan anjuran berpuasa di bulan Rajab sebagaimana berikut:

أَوَّلُهَا صَوْمُ الْمُحَرَّمِ وَالثَّانِي صَوْمُ رَجَبَ وَالثَّالِثُ صَوْمُ شَعْبَانَ وَصَوْمُ عَاشُورَاءَ وَهُوَ الْيَوْمُ الْعَاشِرُ مِنْ (الْمَرْغُوبَاتُ مِنْ الصِّيَامِ أَنْوَاعٌ) الْمُحَرَّمِ عِنْدَ عَامَّةِ الْعُلَمَاءِ وَالصَّحَابَةِ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُمْ

“Termasuk puasa yang disenangi ada beberapa macam, antara lain: 1) puasa di bulan Muharram, 2) puasa di bulan Rajab, 3) puasa di bulan Sya’ban, ‘Asyura; yaitu hari ke-sepuluh dari bulan Muharram menurut mayoritas Ulama’ dan Shahabat radliyallahu anhum.” (kitab Al-Fatawa Al-Hindiyyah, 1/202)

Di dalam kitab Fath Al-Qadir karya Muhammad Ibn Ali ibn Muhammad ibn Abdullah Al-Shaukani Ash-Shan’ani Al-Yamani  atau Imam Asy-Syaukani rahimahullah  (1759–1834 M), juga disebutkan tentang kewajiban memenuhi puasa nazar di bulan Rajab, apabila ia bernazar:

وَلَوْ قَالَ : شَهْرًا لَزِمَهُ كَامِلًا أَوْ رَجَبَ لَزِمَهُ هُوَ بِهِلَالِهِ

“Apabila seseorang menyatakan: (ia bernazar berpuasa) sebulan, maka ia harus memenuhinya secara penuh atau (ia bernazar berpuasa) di bulan Rajab, maka ia juga harus memenuhinya dengan berpedoman dengan hilalnya.” (kitab Fath al-Qadir, 4/452)

Dari kitab induk di atas yang berafiliasi pada Madzhab Hanafi ini, jelas sekali bahwa posisi Madzhab ini mengakui bahwa puasa Rajab merupakan puasa yang disenangi.

Madzhab Maliki
Di dalam kitab Kifayat Al-Thalib Al-Rabbani li risalat Ibn Abi Zaid Al-Qayrawani rahimahullah (922 – 996 M, Kairouan, Tunisia) dijelaskan tentang puasa bulan Rajab yang masuk kategori puasa yang disenangi:

“Begitu juga demikian bahwa puasa di bulan Rajab termasuk puasa yang disenangi berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Muslim bahwa Sa’id bin Jubair ditanya tentang puasa Rajab. Ia berkata: Ibn Abbas telah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam  sering berpuasa hingga kami mengatakan seolah2 beliau tidak pernah berbuka, namun juga beliau sering tidak berpuasa (berturut2) hingga kami mengatakan seolah2 beliau tidak berpuasa.” (kitab Kifayat Al-Thalib, 2/531)

Kemudian dijelaskan lebih detail dalam kitab Hasyiyah Al-‘Adawi ‘ala Kifayat Al-Thalib Al-Rabbani, karya Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-‘Adawi Al- Maliki rahimahullah yang menjelaskan bahwa pahala berpuasa di bulan Rajab itu lebih besar dibandingkan berpuasa di bulan yang lain, hanya saja tetap tidak bisa mengalahkan pahala berpuasa di bulan Muharram:

تَنْبِيهٌ: ظَاهِرُ كَلَامِهِ أَنَّ ثَوَابَ صَوْمِهِ يَفْضُلُ ثَوَابَ صَوْمِ غَيْرِهِ وَلَوْ مِنْ بَاقِي الْحُرُمِ إذْ لَوْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ لَمْ يَكُنْ لِذِكْرِهِ دُونَ بَاقِيهَا وَجْهٌ وَلَيْسَ كَذَلِكَ كَمَا أَشَارَ لَهُ الشَّيْخُ زَرُّوقٌ بَلْ وَرَدَ أَنَّ صَوْمَ الْمُحَرَّمِ أَفْضَلُ مِنْ صَوْمِ رَجَبَ أَوْ غَيْرِهِ مِنْ الْحُرُمِ.

“Dari perkataan di atas menunjukkan bahwa pahala berpuasa di bulan Rajab lebih besar dibandingkan pahala berpuasa di bulan selainnya, meskipun termasuk bagian dari bulan2 yang dimuliakan. Sebab apabila tidak demikian, maka tidak akan disebutkan pendapat yang menyatakan tentang puasa itu, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Syaikh Zarruq. Namun puasa Muharram tetap lebih utama (pahalanya) dibandingkan puasa Rajab atau bulan2 yang dimuliakan lainnya.” (Kitab Hasyiyah Al-‘Adawi ‘ala Kifayat Al-Thalib Al-Rabbani, 2/407)

Selain itu, ulama dari kalangan Madzhab Maliki dalam berbagai pendapat yang termaktub dalam karya-karyanya juga menyebutkan demikian. Sehingga posisi Madzhab Maliki juga mengakui tentang kesunnahan puasa Rajab secara mutlak.

Madzhab Syafi’i
Dalam Madzhab Syafi’i, banyak sekali literatur yang menyebutkan tentang kesunnahan berpuasa di bulan Rajab. Pendapat-pendapat tersebut disadur dalam berbagai kutub Al-muthawwalat (kitab-kitab yang luas pembahasannya). Seperti dalam kitab Majmu’ Syarh Al-Muhazzab karya Imam An-Nawawi rahimahullah disebutkan tentang termasuk puasa yang dianjurkan adalah puasa di bulan yang dimuliakan:

قَالَ أَصْحَابُنَا وَمِنْ الصَّوْمِ الْمُسْتَحَبِّ صَوْمُ اْلاَشْهُرِ الْحُرُمِ وَهيَ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ وَرَجَبُ وَأَفْضَلُهَا الْمُحَرَّمُ قَالَ الرُّويَانِيُّ فِي الْبَحْرِ أَفْضَلُهَا رَجَبُ وَهَذَا غَلَطٌ لِحَدِيثِ أَبِي هُرَيْرَةَ الَّذِي سَنَذْكُرُهُ إنْ شَاءَ الله تعالى ” اَفْضَلُ الصَّوْمِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

“Murid-murid kami (Imam Syafi’i) berkata: Termasuk dari puasa yang disunnahkan adalah puasa di bulan-bulan yang dimuliakan; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Bulan yang paling mulia adalah bulan Muharram. Abu Al-Mahasin Abdul Wahid bin Isma’il Ar-Ruyani atau Imam ar-Ruyani rahimahullah (wafat Kamis, 27 Agustus 1108 M / 11 Muharram 502 H) dalam kitabnya Al-Bahrul Madzhab, menyebutkan bahwa bulan yang paling mulia adalah bulan Rajab. Pendapat ini dibantahkan dengan adanya hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah: ‘Puasa yang paling mulia setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah; Muharram.’ (kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhazzab, 6/386)

Al-Imam Al-Faqih Al-Mujtahid Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Hajar as-Salmunti Al-Haitami Al-Azhari Al-Wa`ili As-Sa’di Al-Makki Al-Anshari Asy-Syafi’i  atau Syaikhul Islam Al-Imam Ibnu Hajar Al-Haitami  rahimahullah (1503 M, Mesir – 1566 M, Mekkah), di dalam kitabnya Al-Fatawa al-Fiqhiyyah Al-Kubra dengan lantang membantah orang-orang yang mengatakan bahwa, puasa Rajab termasuk bid’ah dan terlarang. Beliau memang mengakui bahwa sebagian dalil tentang puasa Rajab adalah hadis maudlu’ (palsu), namun Ulama Madzhab Syafi’i tidak menggunakan dalil tersebut. Beliau menyatakan:

وَقَدْ تَقَرَّرَ أَنَّ الْحَدِيثَ الضَّعِيفَ وَالْمُرْسَلَ وَالْمُنْقَطِعَ وَالْمُعْضَلَ وَالْمَوْقُوفَ يُعْمَلُ بِهَا فِي فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ إجْمَاعًا وَلَا شَكَّ أَنَّ صَوْمَ رَجَبَ مِنْ فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ فَيُكْتَفَى فِيهِ بِالْأَحَادِيثِ الضَّعِيفَةِ وَنَحْوِهَا وَلَا يُنْكِرُ ذَلِكَ إلَّا جَاهِلٌ مَغْرُورٌ

“Dan merupakan ketetapan bahwa hadis dla’if, mursal, munqathi’, mu’dlal, dan mauquf itu bisa diamalkan dalam hal fadhail Al-A’mal secara ijma’. Tentunya tidak diragukan lagi bahwa puasa Rajab termasuk dari fadhail Al-A’mal. Maka cukup berlandaskan pada hadis-hadis dha’if dan semisalnya. Dan tidak ada yang mengingkari kesimpulan ini kecuali orang yang bodoh yang tertipu.” (kitab Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra, 2/54)

Madzhab Hanbali
Fuqaha Madzhab ini sedikit berbeda dalam menyatakan status hukum berpuasa di bulan Rajab. Sebagaimana dinukil dalam kitab Al-Mughni karya Ibn Qudamah yang menyatakan makruh bagi orang yang mengkhususkan berpuasa di bulan Rajab saja:

فَصْلٌ: وَيُكْرَهُ إفْرَادُ رَجَبَ بِالصَّوْمِ. قَالَ أَحْمَدُ: وَإِنْ صَامَهُ رَجُلٌ أَفْطَرَ فِيهِ يَوْمًا أَوْ أَيَّامًا بِقَدْرِ مَا لَا يَصُومُهُ كُلَّهُ

“Dimakruhkan bagi orang yang mengkhususkan bulan Rajab untuk berpuasa. Ahmad berkata: apabila seseorang berpuasa, maka hendaknya ia berbuaka sehari atau beberapa hari sekiranya dia tidak berpuasa sebulan penuh.” (Al-Mughni li Ibn Qudamah, 3/171)

Hanya saja kemakruhan tersebut bisa hilang sebab tidak berpuasa sebulan penuh, artinya seseorang menyelingi dengan berbuka sehari maupun beberapa hari. Sebagaimana diungkapkan dalam Kasyaf al-Qina’:

(وَتَزُولُ اْلكَرَاهَةُ بِفِطْرِهِ فِيْهِ وَلَوْ يَوْمًا أَوْ بِصَوْمِهِ شَهْرًا آخَرَ مِنَ السَّنَةِ قَالَ اْلمُجِدُّ وَإِنْ لَمْ يَلِهِ) أي يَلِي الشَّهْرَ اْلآخَرَ رَجَبُ (وَلاَ يُكْرَهُ إِفْرَادُ شَهْرِ غَيْرِهِ) أي غَيْرِ رَجَبَ بِالصَّوْمِ

“Status makruh (dalam puasa Rajab) bisa hilang sebab seseorang berbuka (tidak berpuasa) di bulan Rajab walaupun hanya sehari atau berpuasa Rajab (dengan diiringi berpuasa) di bulan yang lain pada tahun tersebut. Al-Mujidd berkata: meskipun bulan yang lain itu tidak bersambung dengan bulan Rajab. Dan juga tidak dimakruhkan mengkhususkan puasa di selain bulan Rajab.” (Kasyaf Al-Qina’, 2/340)

Dengan demikian, Madzhab Hanbali hanya menyatakan makruh dalam hal mengkhususkan puasa Rajab sebulan penuh, namun status makruh tersebut hilang sebab tidak berpuasa sebulan penuh atau menyambungkan dengan bulan lainnya.

Jelas sekali dari argumentasi empat Madzhab di atas, bahwa keempat Madzhab ini tidak ada yang menyatakan haram terhadap puasa di bulan Rajab. Hanya saja terdapat kemakruhan dalam Madzhab Hanbali tatkala mengkhususkan puasa di bulan Rajab saja, sebab bisa menyerupai bulan Ramadhan. Namun hal ini hanyalah masalah khilafiyah yang mu’tabar, sehingga berlaku kaidah:

لاَ يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيْهِ وَإِنَّمَا يُنْكَرُ  اْلمـُجْمَعُ عَلَيْهِ

“Masalah yang masih diperselisihkan (keharamannya) tidak boleh diingkari, tapi harus mengingkari masalah yang sudah disepakati (keharamannya)” (Al-Asybah wa Al-Nadzair, h. 158, Cet. Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah)

Oleh karena itu, klaim bid’ah atau haram atas tradisi puasa di bulan Rajab tidak memiliki dasar yang kuat itu terbantahkan. Sehingga posisi Madzhab Syafi’i sama seperti Madzhab Hanafi dan Madzhab Maliki dalam hal kesunnahan berpuasa di bulan Rajab.

 

Sumber : Dari Berbagai Sumber Ulama’ NU

___________
Catatan: Tulisan ini terbit pertama kali pada Kamis, 21 Pebruari 2019 . Tim Redaksi mengunggah ulang dengan melakukan penyuntingan.
Editor : Sandipo