Biografi Habib Utsman Al-Aydrus

 
Biografi Habib Utsman Al-Aydrus

Daftar Isi Profil Habib Utsman Al-Aydrus

  1. Kelahiran
  2. Wafat
  3. Pendidikan
  4. Mendirikan Pesantren
  5. Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)
  6. Ahli Sedekah
  7. Karomah
  8. Karya-Karya

Kelahiran

Habib Utsman bin Husain bin Utsman bin Abdurrahman Alaydrus lahir di Bandung pada 1 Ramadhan 1329 H/1911 M.

Wafat

Habib Utsman Al-Aydrus wafat pada tanggal 7 Maret 1985. Makam beliau terletak di daerah Taman Pemakaman Assalam di dekat Pasar Induk Caringin Bandung. Di kompleks pemakaman tersebut tersebut banyak dimakamkan mulai para habaib serta ulama dan murid-murid Habib Ustman, di antaranya juga terdapat pusara tokoh nasional H. Mahbub Djunaidi (Tokoh NU, Ketua Umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

Tokoh ulama Kharismatis dan pendiri Pondok Pesantren Assalaam ini berpulang ke Rahmattullah meninggalkan yayasan dan unit-unit yang berada di bawah naungannya. Kepemimpinan Yayasan kemudian dialihkan kepada putranya Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus.

Pendidikan

Semasa hidupnya, beliau pernah belajar di Pesantren Guntur, Cianjur, yang diasuh oleh KH. Ahmad Syatibi. Pesantren ini telah mencetak beberapa generasi Ulama yang cukup populer di Indonesia, salah satunya KH. Ahmad Sanusi Sukabumi.

Habib Utsman merupakan murid Mama Ajengan KH. Syatibi Gentur, Cianjur. Meskipun dia seorang habib, ia sangat tawadhu kepada gurunya tersebut. Saat menjadi santrinya, sebelum subuh, Habib Utsman, selalu mengisi air bak untuk wudhu dan mandi gurunya itu.

Mendirikan Pesantren

Sekembalinya dari beberapa pesantren untuk menuntut  ilmu, pada tahun 1930, Sayyid Utsman yang lebih dikenal dengan panggilan Habib Utsman mulai mengadakan pengajian dari rumah ke rumah. Peserta pengajian ini pada mulanya adalah kalangan orang  tua. Rumah yang paling sering dijadikan tempat pengajian adalah rumah R. K. Hardja Diwinangun, dengan memanfaatkan ruangan tengah sebagai tempat pengajian kaum ibu dan ruangan depan untuk para bapak. Karena semakin banyaknya yang ikut ngaji bersama beliau, akhirnya beliau mendirikan Pondok Pesantren Assalaam

Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

KH. Habib Utsman Alaydrus dikenal sebagai tokoh di kalangan Nahdatul Ulama dan menjalin persahabatan dengan ulama di masanya seperti KH. Idham Chalid, H. Subhan ZE, KH. Anwar Musaddad, KH. Saifuddin Zuhri, KH. Burhan, KH. Moch. Dachlan, dan KH. Mahbub Djunaidi. Beliau pun menjalin hubungan dekat dengan para tokoh pesantren diantaranya H. Abdullah Tubagus Falak Pagentongan, KH. Abdurrahman Banten, dan KH.Tubagus Bakri (Mama Sempur). Beliau juga adalah Rais Syuriah Nahdatul Ulama (NU) Bandung periode 1950-1955 dan Rais Syuriah PWNU Jawa Barat periode 1960-1970.

Habib Utsman Alaydrus adalah salah satu berpengaruh dalam bidang pendidikan dan sosial. Dalam bidang pendidikan, beliau mendirikan Yayasan Lembaga Pendidikan Assalam Bandung yang terdiri atas jenjang kanak-kanak sampai menengah atas. Ia juga merintis Universitas Nahdlatul Ulama (UNNU) yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya Universitas Islam Nusantara (UNINUS).  Beliau juga terpilih sebagai Dewan Anggota Kurator di Universitas Islam Bandung (UNISBA) pada periode 1962-1985.

Ahli Sedekah

Habib Utsman Alaydrus selalu santun terhadap anak-anak yatim dan dhuafa. Menurut Syarif, dimulai dari tahun 1952, Utsman aktif melakukan kegiatan dan acara-acara penting bersama puluhan anak yatim. Beliau menyekolahkan dan membiayai kebutuhan mereka di pesantren atau sekolah. Setiap harinya, ia rajin mengundang para anak yatim berkumpul di depan rumahnya kemudian ia mengusap dan mencium mereka. Tak hanya itu, Utsman sering mengajak para anak yatim untuk menemui para guru dan ulama dan meminta doa dari mereka.

Penghasilannya beliau khususkan untuk para anak yatim dengan rutin mengadakan pengajian bulanan bersama anak yatim piatu dan dhuafa di pesantren Assalam.

Karomah

Pernah terdapat seorang anak umur 8 tahun yang terkena kanker otak dan divonis dokter dari Rumah Sakit Singapura dan Jerman bahwa anak tersebut tidak akan bisa bertahan hidup lebih dari 2 bulan setelah diagnosa. Orang tua anak tersebut disarankan oleh dr. Misbah (salah seorang dokter kepresidenan) untuk meminta saran para ulama di Jakarta.

Orang tua itu mendatangi KH. Syafi’i Hadzami, tokoh NU Jakarta. Orang tua disarankan menemui Habib Utsman Al-Aydarus di Bandung. Orang tua itu pun membawanya ke Bandung. Habib Utsman membacakan Salawat Nariyah sebanyak 4444 kali di sebuah ruangan khusus dan memberikan air yang telah dibacakan shalawat Nariyyah tersebut untuk diminumkan dan dipercikkan pada kepala anak yang terkena kanker otak itu.

Sungguh ajaib, seminggu kemudian anak tersebut pulih dan sembuh kembali. Kanker otaknya hilang begitu saja atas izin Allah SWT. Orang tua anak tersebut karena penasaran memeriksakan keadaan anaknya ke Rumah sakit di Singapura dan Jerman, maka terkejutlah para dokter-dokter yang sebelumnya mendiagnosa anak tersebut hingga berkali-kali mereka membandingkan foto rontgen antara sebelum anak tersebut dibacakan salawat Nariyah oleh Habib Utsman dan sesudahnya.

Diceritakan setelah sembuh anak tersebut tumbuh dewasa dan menjadi salah satu dosen di Universitas Indonesia serta meninggal dunia dalam usia 52 tahun.

Karya-karya

Habib Utsman Alaydrus juga gemar menulis beberapa kitab berbahasa Sunda seputar ibadah. Selain itu, banyak tulisannya yang rutin diterbitkan di beberapa buletin. Semua tulisannya ia kumpulkan menjadi sebuah buku yang berjudul Panggilan Selamat, karya lainnya yaitu Sumber Peradaban, al-Muslih, dan Tutungkusan.