Biografi Habib Utsman Al-Aydrus

 
Biografi Habib Utsman Al-Aydrus

KH. Habib Utsman Alaydrus dikenal sebagai tokoh di kalangan Nahdatul Ulama dan menjalin persahabatan dengan ulama di masanya seperti KH. Idham Chalid, H.Subhan ZE, KH. Anwar Musaddad, KH. Saifuddin Zuhri, KH. Burhan, KH. Moch. Dachlan, dan KH. Mahbub Djunaidi. ia pun menjalin hubungan dekat dengan para tokoh pesantren diantaranya H. Abdullah Tubagus Falak Pagentongan, KH.Abdurrahman Banten, dan KH.Tubagus Bakri (Mama Sempur). Beliau juga adalah Rais Syuriah Nahdatul Ulama (NU) Bandung periode 1950-1955 dan Rais Syuriah PWNU Jawa Barat periode 1960-1970.

KH. Habib Utsman Alaydrus adalah salah satu berpengaruh dalam bidang pendidikan dan sosial. Dalam bidang pendidikan, beliau mendirikan Yayasan Lembaga Pendidikan Assalam Bandung yang terdiri atas jenjang kanak-kanak sampai menengah atas. Ia juga merintis Universitas Nahdlatul Ulama (UNNU) yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya Universitas Islam Nusantara (UNINUS).  Beliau juga terpilih sebagai Dewan Anggota Kurator di Universitas Islam Bandung (UNISBA) pada periode 1962-1985.

Riwayat dan Kelahiran

Nama lengkapnya adalah Habib Utsman bin Husain bin Utsman bin Abdurrahman Alaydrus.  Beliau lahir di Bandung pada 1 Ramadhan 1329 H/1911 M. Meskipun seorang sayyid, itu tidak menghalangi beliau untuk belajar kepada ulama-ulama di masanya dari kalangan non-sayyid.

Mengembara Menuntut Ilmu

Semasa hidupnya, beliau pernah belajar di pesantren Guntur, Cianjur, yang diasuh oleh KH.Ahmad Syatibi. Pesantren lama ini telah mencetak beberapa generasi Ulama yang cukup populer di Indonesia, salah satunya KH. Ahmad Sanusi Sukabumi.

Habib Utsman merupakan murid Mama Ajengan KH Syatibi Gentur, Cianjur. Meskipun dia seorang habib, ia sangat tawadhu kepada gurunya tersebut. Saat menjadi santrinya, sebelum subuh, Habib Utsman, selalu mengisi air bak untuk wudhu dan mandi gurunya itu.

Merintis Pesantren

Sekembalinya dari beberapa pesantren untuk menuntut  ilmu, pada tahun 1930, Sayyid Utsman yang lebih dikenal dengan panggilan Habib Utsman mulai mengadakan pengajian dari rumah ke rumah. Peserta pengajian ini pada mulanya adalah kalangan orang  tua. Rumah yang paling sering dijadikan tempat pengajian adalah rumah R.K. Hardja Diwinangun, dengan memanfaatkan ruangan tengah sebagai tempat pengajian kaum ibu dan ruangan depan untuk para bapak.

Santun terhadap Anak Yatim Piatu

Selain itu, ia selalu santun terhadap anak-anak yatim dan dhuafa. Menurut Syarif, dimulai dari tahun 1952, Utsman aktif melakukan kegiatan dan acara-acara penting bersama puluhan anak yatim. Ia menyekolahkan dan membiayai kebutuhan mereka di pesantren atau sekolah. Setiap harinya, ia rajin mengundang para anak yatim berkumpul di depan rumahnya kemudian ia mengusap dan mencium mereka. Tak hanya itu, Utsman sering mengajak para anak yatim untuk menemui para guru dan ulama dan meminta doa dari mereka.

Penghasilannya beliau khususkan untuk para anak yatim dengan rutin mengadakan pengajian bulanan bersama anak yatim piatu dan dhuafa di pesantren Assalam.

Karomah

Pernah terdapat seorang anak umur 8 tahun yang terkena kanker otak dan divonis dokter dari Rumah Sakit Singapura dan Jerman bahwa anak tersebut tidak akan bisa bertahan hidup lebih dari 2 bulan setelah diagnosa. Orang tua anak tersebut disarankan oleh dr. Misbah (salah seorang dokter kepresidenan) untuk meminta saran para ulama di Jakarta.

Orang tua itu mendatangi KH Syafi’i Hadzami, tokoh NU Jakarta. Orang tua disarankan menemui Habib Utsman Al-Aydarus di Bandung. Orang tua itu pun membawanya ke Bandung. Habib Utsman membacakan Shalawat Nariyah sebanyak 4444 kali di sebuah ruangan khusus dan memberikan air yang telah dibacakan shalawat Nariyyah tersebut untuk diminumkan dan dipercikkan pada kepala anak yang terkena kanker otak itu.

Sungguh ajaib, seminggu kemudian anak tersebut pulih dan sembuh kembali. Kanker otaknya hilang begitu saja atas izin Allah SWT. Orang tua anak tersebut karena penasaran memeriksakan keadaan anaknya ke Rumah sakit di Singapura dan Jerman, maka terkejutlah para dokter-dokter yang sebelumnya mendiagnosa anak tersebut hingga berkali-kali mereka membandingkan foto rontgen antara sebelum anak tersebut dibacakan Shalawat Nariyah oleh Habib Utsman dan sesudahnya.

Diceritakan setelah sembuh anak tersebut tumbuh dewasa dan menjadi salah satu dosen di Universitas Indonesia serta meninggal dunia dalam usia 52 tahun.

Karya-karya Beliau

Habib Utsman kjuga gemar menulis beberapa kitab berbahasa Sunda seputar ibadah. Selain itu, banyak tulisannya yang rutin diterbitkan di beberapa buletin. Semua tulisannya ia kumpulkan menjadi sebuah buku yang berjudul Panggilan Selamat, karya lainnya yaitu Sumber Peradaban, al-Muslih, dan Tutungkusan.

Dipanggil Ilahi

Pada tanggal 7 Maret 1985, tokoh ulama Kharismatis dan pendiri pondok pesantren Assalaam ini berpulang ke Rahmattullah meninggalkan amal jariyah berupa Yayasan dan unit-unit yang berada di bawah naungannya. Kepemimpinan Yayasan kemudian dialihkan kepada putranya K.H. Drs. Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus.

Makam Habib Utsman Al-Aydarus terletak di daerah Taman Pemakaman Assalam di dekat Pasar Induk Caringin Bandung. Di kompleks pemakaman tersebut tersebut banyak dimakamkan mulai para habaib serta ulama dan murid-murid Habib Ustman, di antaranya juga terdapat pusara tokoh nasional H. Mahbub Djunaidi (tokoh NU, Ketua Umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.)

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber

Pada tanggal 7 Maret 1985, pendiri dan tokoh utama di Yayasan Assalaam berpulang ke Rahmattullah meninggalkan amal jariyah berupa Yayasan dan unit-unit yang berada di bawah naungannya. Kepemimpinan Yayasan kemudian dialihkan kepada putranya K.H. Drs. Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus.

 

 

 

 

 

Beberapa hari lalu ada acara periingatan Haul Habib Utsman Al-Aydrus di Pondok Pesantren Assalam, Sasak Gantung, Kota Bandung. Habib Utsman merupakan pendiri pesantren tersebut. Di dalam peringatan tersebut, salah seorang putranya, KH Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus menceritakan riwayat singkat ayahandanya sebagai berikuit: Habib Utsman merupakan murid Mama Ajengan KH Syatibi Gentur, Cianjur. Meskipun dia seorang habib, ia sangat tawadhu kepada gurunya tersebut. Saat menjadi santrinya, sebelum subuh, Habib Utsman, selalu mengisi air bak untuk wudhu dan mandi gurunya itu. Habib Utsman lahir tahun 1910 dan wafat 1985. Semasa hidupnya, berdasarkan catatan pribadinya, ia telah mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari 6.000 kali. Menurut putranya, yakni KH Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus, sang ayah setiap hari khatam Al-Qur’an minimal satu kali dan khusus di bulan puasa Ramadhan mengkhatamkan Al-Qur’an 60 kali. Artinya, sehari khatam 2 kali. Habib Utsman sangat menyayangi anak-anak yatim piatu dan dhuafa. Kepada anak yatim piatu rasa sayang itu terpancar dari perhatian khusus yang diberikan. Tercatat ada 13 hal perhatian Habib Utsman kepada mereka, di antaranya: santunan yatim piatu di 10 Muharam, menyekolahkan dan juga membiayai anak-anak yatim piatu untuk belajar di sekolah dan pondok-pondok pesantren, setiap hari mengusap dan mencium kepala anak-anak yatim piatu di seputar Assalaam.  Selanjutnya, melaksanakan khitanan massal khususnya untuk anak yatim piatu serta masyarakat luas sejak tahun 1952 dan berlanjut hingga hari ini, selalu mengajak anak-anak yatim untuk menemui para ulama dan memohon doa dari para ulama sholeh untuk anak-anak yatim piatu karena banyak ulama seperti Imam Syafi’i, Imam Ghazali dan lain-lain, ternyata yatim saat kecil.  Habib Utsman juga menulis buku yang hasil penjualannya khusus diperuntukkan bagi anak-anak yatim piatu, serta setiap sebulan sekali di Assalaam diadakan acara makan bersama para yatim piatu dan dhuafa. Selain itu, ia juga mendorong berdirinya Rumah Tahfidz khususnya untuk yatim piatu (banyak ulama dan hafidz yang telah dihasilkan), dan lain-lain. Saat ini Assalaam Bandung telah berkembang demikian pesat dengan berbagai aktivitasnya dari unit kelompok bermain, PAUD, TK, SD, SMP, MTs, SMA, SMK, pesantren, majelis taklim, biro haji dan umrah, panti yatim, jamaah perempuan WPWA, dan lain lain. Habib Utsman Al-Aydarus adalah seorang ulama multitalenta. Ia menguasai beberapa bahasa asing secara otodidak. Ia juga salah satu tokoh di belakang berdirinya Universitas Nahdlotul Ulama di Bandung yang sekarang menjadi Uninus. Ia pun termasuk tokoh NU di Jawa Barat dan pernah menjabat sebagai Rais Syuriyah selama dua periode yaitu tahun 1960 sampai dengan 1970. Habib Utsman dan murid-muridnya juga membina pengajian ibu-ibu di hampir 200an masjid di seputar Bandung di masa hidupnya. Serta menulis banyak buku-buku tentang ibadah yang berbahasa Sunda di antaranya Rarakatan Shalat dan lain-lain. Allah SWT banyak mengabulkan doa Habib Utsman Al-Aydarus. Pernah terdapat seorang anak umur 8 tahun yang terkena kanker otak dan divonis dokter dari Rumah Sakit Singapura dan Jerman bahwa anak tersebut tidak akan bisa bertahan hidup lebih dari 2 bulan setelah diagnosa. Orang tua anak tersebut disarankan oleh dr. Misbah (salah seorang dokter kepresidenan) untuk meminta saran para ulama di Jakarta. Orang tua itu mendatangi KH Syafi’i Hadzami, tokoh NU Jakarta. Orang tua disarankan menemui Habib Utsman Al-Aydarus di Bandung. Orang tua itu pun membawanya ke Bandung. Habib Utsman membacakan Shalawat Nariyah sebanyak 4444 kali di sebuah ruangan khusus dan memberikan air yang telah dibacakan shalawat Nariyyah tersebut untuk diminumkan dan dipercikkan pada kepala anak yang terkena kanker otak itu. Sungguh ajaib, seminggu kemudian anak tersebut pulih dan sembuh kembali. Kanker otaknya hilang begitu saja atas izin Allah SWT. Orang tua anak tersebut karena penasaran memeriksakan keadaan anaknya ke Rumah sakit di Singapura dan Jerman, maka terkejutlah para dokter-dokter yang sebelumnya mendiagnosa anak tersebut hingga berkali-kali mereka membandingkan foto rontgen antara sebelum anak tersebut dibacakan Shalawat Nariyah oleh Habib Utsman dan sesudahnya. Diceritakan setelah sembuh anak tersebut tumbuh dewasa dan menjadi salah satu dosen di Universitas Indonesia serta meninggal dunia dalam usia 52 tahun. Makam Habib Utsman Al-Aydarus terletak di daerah Taman Pemakaman Assalam di dekat Pasar Induk Caringin Bandung. Di kompleks pemakaman tersebut tersebut banyak dimakamkan mulai para habaib serta ulama dan murid-murid Habib Ustman, di antaranya juga terdapat pusara tokoh nasional H. Mahbub Djunaidi (tokoh NU, Ketua Umum pertama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.) Demikianlah sekelumit kisah Habib Ustman Al-Aydarus yang dapat kami sarikan dari ceramah Putra beliau Habib Syarief Muhammad Al-Aydarus pada Acara Haul ke 32 Habib Utsman Al Aydarus (29 Maret 2016, di Masjid Assalaam, Sasak Gantung Kota Bandung)