DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
Setiap memasuki bulan Ramadhan, ruang publik dipenuhi berbagai tajuk kesehatan. Televisi menghadirkan dokter dan pakar gizi, portal berita memuat artikel ilmiah populer, sementara media sosial diramaikan testimoni tentang berat badan yang turun selama 30 hari berpuasa.
uasa bukan sekadar tradisi, melainkan kewajiban yang memiliki tujuan spiritual: membentuk ketakwaan. Namun, di tengah realitas kehidupan, muncul pertanyaan yang sering diperbincangkan
Ramadhan sering dipahami sebagai bulan keteguhan menahan lapar dan dahaga. Namun dalam satu peristiwa safar yang sangat panas, Rasulullah SAW justru memuji pilihan berbuka. Sabda beliau singkat, tetapi sarat makna: orang-orang yang berbuka hari itu “pergi dengan pahala
Setiap tahun, umat Islam memasuki satu fase waktu yang berbeda dari bulan-bulan lainnya. Ramadhan bukan sekadar perubahan kalender hijriah, melainkan perubahan atmosfer spiritual. Bulan ini menghadirkan peningkatan ritme ibadah, penguatan kesadaran, serta pembaruan harapan.
Setiap pembicaraan puasa Ramadhan dipastikan ayat al-Qur’an yang dibaca adalah surat al-Baqarah 183.
Syariat Islam juga dibangun di atas prinsip kemudahan dan tidak memberatkan. Ketika seseorang tidak lagi mampu menjalankan puasa karena sebab-sebab tertentu, Islam tidak menutup pintu kewajiban begitu saja, tetapi mengaturnya dalam bentuk pengganti, qadha atau fidyah.
Ramadhan kini telah berjalan. Hari-hari puasa kita lalui bukan hanya sebagai rutinitas ibadah, tetapi sebagai proses pembentukan diri menguatkan ruhiyah sekaligus menata ulang kesehatan fisik. Dalam Islam, puasa adalah ibadah yang menyentuh dimensi spiritual dan jasmani sekaligus. Tubuh beradaptasi, jiwa dilatih, dan kebiasaan diperbaiki.
Puasa bukan hanya persoalan sah atau batal. Syariat juga mengatur adab, etika, dan perkara-perkara yang dapat mengurangi nilai ibadah.
Dimakruhkan mencicipi makanan (bagi orang yang puasa...) tersebut bila memang bagi orang yang tidak ada kepentingan sedangkan bagi seorang pemasak makanan baik laki-laki atau perempuan.
Puasa dalam Islam merupakan ibadah yang memiliki dimensi hukum sekaligus spiritual. Secara hukum, puasa memiliki rukun dan syarat yang menentukan sah atau tidaknya ibadah tersebut. Namun dalam kerangka penyempurnaan pahala dan pembinaan akhlak, syariat juga menetapkan sejumlah sunnah yang mengiringinya.