DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
“Ketahuilah bahwa pertolongan itu datang bersama kesabaran, kelapangan datang bersama kesempitan, dan bersama kesulitan pasti ada kemudahan.” (HR. At-Tirmidzi)
Peristiwa Isra’ dan Mi‘raj Nabi Muhammad SAW sejak dahulu hingga hari ini selalu menjadi salah satu pembahasan hangat dalam khazanah keislaman yang perlu selalu direnungkan.
Ibadah shalat memiliki pemaknaan yang mendalam, lebih dari sekedar ritual yang dilakukan dengan baik dan benar. Hal ini membawa pemahaman mendalam bahwa sebenarnya ibadah shalat mengandung nilai, misi dan keluaran (outcome).
Pengujian Pasal 71 angka 2 Undang-Undang Cipta Kerja yang diajukan oleh Didi Supandi, seorang pengemudi daring, dan Wahyu Triana Sari, penjual daring, ke Mahkamah Konstitusi merefleksikan kegelisahan pekerja digital terhadap praktik penghapusan sisa kuota internet oleh operator telekomunikasi.
Rasulullah SAW menjadi uswatun hasanah, sebab akhlaknya dalam konsep perilaku. Selaras antara perkataan dan perbuatan. Beliau melakukan apa yang beliau sampaikan, bahkan sering kali melakukan terlebih dahulu sebelum menyampaikannya.
Dalam sebuah ceramah reflektif yang disampaikan, Kyai Abdullah Wong menegaskan satu gagasan penting yang jarang diartikulasikan secara lugas bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang budayawan, budayawan tauhid.
Kisah “Broken Strings” adalah peringatan keras. Kasus grooming dan eksploitasi seksual anak merupakan kejahatan yang tidak hanya melanggar hukum positif, tetapi juga melanggar prinsip-prinsip agama yang paling mendasar.
Peristiwa Isra’ dan Mi‘raj merupakan kisah perjalanan luar biasa Nabi Muhammad SAW yang mengandung peristiwa teologis yang sarat makna aqidah, adab, dan kemuliaan spiritual.
“Hendaklah kalian selalu jujur, karena kejujuran membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa ke surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam pergaulan keseharian, manusia kerapkali berbuat kesalahan. Bagi pelaku, tentunya dianjurkan untuk taubatan nasuha dan bagi korbannya dianjurkan untuk memaafkan. Memaafkan adalah sifat mulia, yang akan mendatangkan kemuliaan dihadapan manusia maupun dihadapan Allah SWT.