Biografi KH. Abbas Djamil Buntet

 
Biografi KH. Abbas Djamil Buntet

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Wafat

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-Guru Beliau
2.3       Menjadi Pengasuh Pesantren 

3          Penerus Beliau
3.1       Putera dan puteri Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Jasa dan Karier Beliau
4.1.      Jasa Beliau
4.2.      Karier Beliau

5.         Teladan Beliau 

6          Karomah Beliau 

7          Referensi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

KH. Abbas Djamil Buntet lahir pada hari Jumat 24 Zulhijah 1300 H atau 1879 M di desa Pekalangan, Cirebon. Beliau merupakan putra sulung KH. Abdul Jamil. Jalur nasab dari sang ayah, beliau merupakan turunan dari KH. Muta’ad yang tak lain adalah menantu pendiri Pesantren Buntet, yakni Mbah Muqayyim salah seorang mufti di Kesultanan Cirebon.

Beliau menjadi Mufti pada masa pemerintahan Sultan Khairuddin I, Sultan Kanoman yang mempunyai anak sultan Khairuddin II yang lahir pada tahun 1777. Tetapi Jabatan terhormat itu kemudian ditinggalkan semata-mata karena dorongan dan rasa tanggungjawab terhadap agama dan bangsa. Selain itu juga karena sikap dasar politik Mbah Muqayyim yang non-cooperative terhadap penjajah Belanda – karena penjajah secara politik saat itu sudah “menguasai” kesultanan Cirebon.

Setelah meninggalkan Kesultanan Cirebon, maka didirikanlah lembaga pendidikan pesantren tahun 1750 di Dusun Kedung Malang, desa Buntet, Cirebon, yang petilasannya dapat dilihat sampai sekarang berupa pemakaman para santrinya. Untuk menghindari desakan penjajah Belanda, ia selalu berpindah-pindah.

Sebelum berada di Blok Buntet, (desa Martapada Kulon) seperti sekarang ini, ia berada di sebuah daerah yang disebut Gajah Ngambung. Disebut begitu, konon, karena Mbah Muqayyim dikabarkan mempunyai gajah putih. Setelah itu juga masih terus berpindah tempat ke Persawahan Lemah Agung (masih daerah Cirebon), lantas ke daerah yang diebut Tuk Karangsuwung.

Bahkan, lantaran begitu gencarnya desakan penjajah Belanda (karena sikap politik yang non-cooperative), Mbah Muqayyim sampai hijrah ke daerah Beji, Pemalang, Jawa Tengah, sebelum kembali ke daerah Buntet, Cirebon. Hal itu dilakukan karena hampir setiap hari tentara penjajah Belanda setiap hari melakukan patroli ke daerah pesantren.

Sehingga suasana pesantren, mencekam, tapi para santri tetap giat belajar sambil terus bergerilya, bila malam hari tiba. Semuanya itu dijalani dengan tabah dan penuh harapan, sebab Mbah Muqayyim selalu mendampingi mereka. Sementara bimbingan Mbah Muqayyim selalu mereka harapkan sebab kiai itu dikenal sebagai tokoh yang ahli tirakat (riyadlah) untuk kewaspadaan dan keselamatan bersama.

Beliau pernah berpuasa tanpa putus selama 12 tahun. KH. Muqayyim membagi niat puasanya yang dua belas tahun itu dalam empat bagian. Tiga tahun pertama, ditunjukan untuk keselamatan Buntet Pesantren. Tiga tahun kedua untuk keselamatan anak cucuknya. Tiga tahun yang ketiga untuk para santri dan pengikutnya yang setia. Sedang tiga tahun yang keempat untuk keselamatan dirinya.

Saat itu KH. Muqayyim lah peletak awal Pesantren Buntet, sudah berpikir besar untuk keselamatan umat Islam dan bangsa. Karena itu pesantren rintisannya hingga saat ini masih mewarisi semangat tersebut. Sejak zaman pergerakan kemerdekaan, dan ketika para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama, pesantren ini menjadi salah satu basis kekuatan NU di Jawa Barat.

1.2       Riwayat Keluarga

Beliau memiliki dua orang istri, yakni Nyai Asiah dan Nyai Zaenah. Anak-anaknya adalah KH Mustahdi, KH Mustamid, KH Abdullah, dan KH Nahduddin Royandi.

1.3       Wafat

Pada hari Ahad 1 Rabi’ul Awwal 1365 H/1946 M, di usia 64 tahun, KH. Abbas Djamil Buntet dipanggil ke haribaan sang Khaliq setelah menunaikan ibadah shalat Subuh dan dibumikan di pemakaman pesantren Buntet. Beliau sangat terejut dan kecewa dengan terjadinya penandatanganan dalam perjanjian Linggarjati tahun 1946. sebagai seorang pejuang yang langsung terjun di lapangan untuk bergabung dalam tentara Sabilillah, beliau sangat kecewa dengan hasil perundingan tersebut, sebab hasil perundingan antara pemerintahan Republik Indonesia dan imperialis Belanda banyak mengecewakan pihak tentara Republik Indonesia.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Mengembara Menuntut Ilmu

KH. Abbas Djamil Buntet memulai pendidikannya dengan belajar kepada ayahnya sendiri, KH. Abdul Jamil. Setelah menguasai dasar-dasar ilmu agama baru pindah ke pesantren Sukanasari, Plered, Cirebon dibawah pimpinan KH. Nasuha. Setelah itu, masih didaerah Jawa Barat, beliau pindah lagi ke sebuah pesantren salaf di daerah Jatisari dibawah pimpinan KH. Hasan.

Baru setelah itu keluar daerah yakni ke sebuah pesantren di Jawa Tengah, tepatnya di kabupaten Tegal yang diasuh oleh KH. Ubaidah. Setelah berbagai ilmu keagamaan dikuasai, maka selanjutnya beliau pindah ke pesantren yang sangat kondang di Jawa Timur, yakni Pesantren Tebuireng, Jombang di bawah asuhan Hadratusyekh KH. Hasyim Asy’ari, tokoh kharismatik yang kemudian menjadi pendiri NU.

Pesantren Tebuireng itu menambah kematangan kepribadian KH. Abbas Djamil Buntet, sebab di pesantren itu beliau bertemu dengan para santri lain dan kiai yang terpandang seperti KH. Abdul Wahab Chasbullah (tokoh dan sekaligus arsitek berdirinya NU) dan KH. Abdul Manaf turut mendirikan Pesantren Lirboyo, kediri Jawa Timur.

Walaupun keilmuannya sudah cukup tinggi, namun beliau seorang santri yang gigih, karena itu tetap berniat memperdalam keilmuannya dengan belajar ke Makkah Al-Mukarramah. Beruntunglah beliau belajar ke sana, sebab saat itu di sana masih ada ulama Jawa terkenal tempat berguru, yaitu KH. Machfudz Tremas (asal Pacitan, Jatim) yang karya-karya (kitab kuning)-nya termasyhur itu.

Di Makkah, beliau kembali bersama-sama dengan KH. Bakir Yogyakarta, KH. Abdillah Surabaya dan KH. Wahab Chasbullah Jombang. Sebagai santri yang sudah matang, maka di waktu senggang KH. Abbas Djamil Buntet  ditugasi untuk mengajar pada para mukminin (orang-orang Indonesia yang tertinggal di Mekkah). Santrinya antara, KH. Cholil Balerante, Palimanan, KH. Sulaiman Babakan, Ciwaringin dan santri-santri lainnya.

2.2       Guru-Guru Beliau

Guru-guru beliau adalah :

  1. KH. Nasuha Sukansari (Plered)
  2. KH. Hasan Jatisari (Weru)
  3. KH. Ubaidah (Tegal).
  4. KH. Hasyim Asyari.

Di Masjid al-Haram Makkah, beliau berguru kepada :

  1. Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi
  2. Syekh Ahmad Zubaidi
  3. Syekh Mahfudh at-Termasi. 

2.3      Menjadi Pengasuh Pesantren 

Dengan bermodal ilmu pengetahuan yang diperoleh dari berbagai pesantren di Jawa, kemudian dipermatang lagi dengan keilmuan yang dipelajari dari Mekkah, serta upayanaya mengikuti perkembangan pemikiran Islam yang terjadi di Timur Tengah pada umumnya, maka mulailah KH. Abbas Djamil Buntet  memegang tampuk pimpinan Pesantren Buntet warisan dari nenek moyangnya itu dengan penuh kesungguhan.

Dengan modal keilmuan yang memadai itu membuat daya tarik Pesantren Buntet semakin tinggi. Sebagai seorang Kiai muda yang energik beliau mengajarkan berbagai khazanah kitab kuning, namun tidak lupa memperkaya dengan ilmu keislaman modern yang mulai berkembang saat itu. Maka kitab-karya ulama Mesir seperti tafsir Tontowi Jauhari yang banyak mengupas masalah ilmu pengetahuan itu mulai diperkenalkan pada para santri.

Dengan sikapnya itu maka nama KH. Abbas Djamil Buntet  dikenal ke seluruh Jawa, sebagai seorang ulama yang alim dan berpemikiran progresif. Namun demikian beliau tetap rendah hati pada para santrinya, misalnya ketika ditanya sesuai yang tidak menguasasi, atau ada santri yang minta diajari kitab yang belum pernah dikajianya ulang, maka KH. Abbas Djamil Buntet  terus terang mengatakan pada santrinya bahwa beliau belum menguasai kitab tersebut, sehingga perlu waktu untuk menelaahnya kembali.

3          Penerus Beliau

3.1       Putera dan puteri Beliau

 Memiliki dua orang istri, yakni Nyai Asiah dan Nyai Zaenah. Anak-anaknya adalah:

  1. KH. Mustahdi
  2. KH. Mustamid
  3. KH. Abdullah
  4. KH. Nahduddin Royandi.

3.2       Murid-murid Beliau

Murid-murid beliau yang pernah menjadi santrinya adalah:

  1. KH. Cholil (Balerante, Palimanan, Cirebon)
  2. KH. Sulaiman (Babakan, Ciwaringin, Cirebon)
  3.  Prof. KH. Ibrahim Hosen, LML

4         Jasa dan  Karier Beliau

4.1.      Jasa Beliau

Sebagai pejuang bagi bangsa dan Negara Indonesia, KH. Abbas Djamil Buntet  telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam perempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya. Beliau adalah pemimpin rombongan pejuang Cirebon yang berangkat dengan kereta api menuju Surabaya. Sebelumnya beliau diminta datang ke Surabaya sebelum dimulainya pertempuran tersebut oleh KH. Hasyim Asy’ari, pimpinan pondok pesantren Tebuireng dan Rois Syuriyah NU, ketika Bung Tomo minta restu kepadanya. Oleh sebab itu, beliau seringkali diminta bantuan khusus yang berhubungan dengan kepintarannya misalnya untuk menetapkan hari perlawanan terhadap imperilais Inggris yang sebelumnya diminta oleh Bung Tomo.

Tercatat dalam sejarah Indonesia dan sejarah pondok pesantren Buntet sendiri, bahwa pada pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya, peran KH. Abbas Djamil Buntet bersama KH. Anas dalam perjuangan melawan imperialis Inggris sangat menentukan nasib bangsa Indonesia. Atas restu KH. Hasyim Asy’ari, beliau terlibat langsung dan bahu membahu dengan para pejuang lainnya dalam pertempuran tersebut. Bahkan beliau juga mengirimkan para pemuda yang tergabung dalam tentara Hizbullah ke berbagai daerah pertahanan melawan imperialis yang hendak menduduki republik Indonesia, misalnya ke Jakarta, Bekasi, Cianjur dan sebagainya.

4.2.    Karier Beliau

1.      Menjadi Pengasuh Pesantren

Pulang dari Tanah Suci, KH. Abbas Djamil Buntet semakin dihormati masyarakat. Beliau pun tidak putus melanjutkan menuntut ilmu, seperti di Pesantren Tebuireng yang diasuh KH. Hasyim Asy' ari. Pada saat itu, beliau ikut mendirikan Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri bersama dengan KH. Wahab Chasbullah dan KH. Manaf.

Selanjutnya, KH. Abbas Djamil Buntet mulai memegang tampuk pimpinan Pondok Pesantren Buntet di kampung halamannya. Beliau mengajak seluruh anggota keluarga besarnya untuk ikut membangun lembaga ini, terutama sebagai pengajar. Santri-santrinya berasal dari berbagai penjuru daerah. Ciri khas Pesantren Buntut juga menjadi acuan bagi pengembangan ilmu-ilmu agama Islam, khususnya tasawuf. 

2.      Peranan di Nahdlatul Ulama (NU)

Adapun di lingkungan organisasi, KH Abbas turut aktif dalam Nahdlatul Ulama (NU). Di sini, jabatannya adalah anggota Dewan Muhtasyar Pusat dan kemudian Rais A'am Dewan Syuriah NU Provinsi Jawa Barat.

5.         Teladan Beliau 

Walaupun namanya sudah terkenal diseantero pulau jawa, baik karena kesaktiannya maupun karena kealimannya, tetapi Kiai Abbas tetap hidup sederhana. Di langgar yang beratapkan genteng itu, ada dua kamar dan ruang terbuka cukup lebar dengan hamparan tikar yang terbuat dari pandan. Di ruang terbuka inilah kiai Abbas menerima tamu tak henti-hentinya.

Setiap usai shalat Dhuhur atau Ashar, sebuah langgar yang berada di Pesantren Buntet, Cirebon itu selalu didesaki para tamu. Mereka berdatangan hampir dari seluruh pelosok daerah. Ada yang datang dari daerah sekitar Jawa Barat, Jawa Tengah bahkan juga ada yang dari Jawa Timur. Mereka bukan santri yang hendak menimba ilmu agama, melainkan inilah masyarakat yang hendak belajar ilmu kesaktian pada sang guru. 

KH. Abbas Djamil Buntet , selalu menjadi rujukan para pemimpin nasional. Tidak hanya karena pengikutnya banyak, tetapi memang nasehat dan pandangannya sangat berisi. Semuanya itu tidak diperoleh begitu saja, melainkan hasil pergumulan panjang, yang penuh pengalaman dan pelajaran, sehingga membuat para tokoh matang dalam kancah perjuangan.

Bukan sekadar tokoh yang berperan karena mengandalkan popularitas keluarga atau keturunannya. Semuanya itu tidak terlepas dari peran para pendahulu pesantren Buntet ayah Kiai Abdullah Abbas sendiri yaitu Kiai Abbas, seorang ulama besar yang mampu memadukan kitab kuning dan ilmu kanuragan sekaligus, sebagai sarana perjuangan membela umat.

6          Karomah Beliau 

Sewaktu masih kecil, seumuran anak-anak yang suka telanjang dan bermain layang-layang, Kyai Abbas setiap meminta uang jajan kepada ayahandanya harus memenuhi syarat yang diberikan. Waktu itu Abbas kecil harus membacakan nadzam Maqshud (riwayat lain Alfiyah) dengan hafalan di hadapan ayahnya. Dengan segera Abbas kecil pun membacakannya dengan hafalan di luar kepala, semuanya tanpa tersisa dan terlewat satu bait pun. Bercampur heran dan takjub, akhirnya uang jajan pun selalu diberikan jika ia meminta.

Beberapa saat kemudian, Abbas kecil mengutarakan keinginannya kepada sang ayah untuk mondok. Meski ayahnya sendiri adalah seorang kyai yang alim dan mengajar ke para santri, orang Jawa menyebut itu belum dikatakan mondok karena belajar kepada orangtuanya sendiri. Disebut mondok jika ia belajar ke pesantren yang bukan milik orangtuanya. Begitupun dengan Abbas kecil, punya keinginan yang besar untuk mesantren ke pesantren-pesantren yang ada di Jawa, khususnya Jawa Barat.

Karena desakan yang besar dari anaknya, akhirnya KH. Abdul Jamil mengabulkan: “Yawis lamon arep mondok, pamita Sira marang dulur ira ning Masjid Agung Cirebon,” (Ya sudah kalau kamu ingin mondok, mintalah restu kepada kerabatmu yang ada di Masjid Agung Keraton Cirebon.)

Dengan langkah tegap, tatapan tajam ke depan, Abbas kecil berjalan kaki menyusuri rel kereta api berangkat pagi dari rumahnya menuju Masjid Agung Cirebon. Hari itu adalah hari Jum’at. Tepat pukul 12 siang kurang 10 menit, bedug masjid pun berbunyi bersamaan dengan datangnya Abbas kecil.

Salah seorang habib, imam dan khathib Masjid Agung Cirebon, pun berteriak: “Heh... sapa kunuh sing wani-wanine nabuh bedug, kurang 10 menit!” Siapa yang berani-beraninya menabuh bedug, padahal waktu masuk shalat kurang 10 menit lagi!

Karena satu pun jamaah yang hadir tidak ada yang menjawab, karena memang tidak ada yang merasa menabuh bedug, habib itu pun bertanya di hadapan jamaah: “Siapa saja orangnya yang masuk masjid bersamaan dengan bunyi bedug tadi, suruh dia menghadap saya.”

Para jamaah pun saling toleh, tidak ada yang merasa. Tapi salah seorang dari mereka memberanikan diri untuk menjawab: “Maaf, Habib. Ada satu orang yang dimaksud, tapi dia cuma anak kecil, kulitnya hitam, nampak lusuh dan pakaiannya tidak rapi.”

“Bagen bocah cilik,” Biarin, meskipun anak kecil! Jawab sang habib.

Akhirnya Abbas kecil pun diminta menghadap sang habib, dan ia ditanya: “Sira kuh sapa, saking endi?” Kamu itu siapa dan berasal dari mana?

Dijawab dengan tegas ala anak kecil: “Ingsun Abbas, putrane Dul Jamil Buntet.” (Saya Abbas, putranya Abdul Jamil Buntet.)

Langsung saja sang habib merangkulnya sembari menangis, dan berkata: “Masya Allah, sira kuh arane Abbas, putrane Kyai Abdul Jamil Buntet? Sedulur ingsun?!” (Masya Allah, kamu Abbas putranya Kyai Abdul Jamil Buntet? Masih kerabatku?!)

Akhirnya Abbas kecil pun disuruh sang habib untuk naik mimbar, dan berkhutbah. Meski kecil, ia sudah sangat fasih berbicara di hadapan orang banyak. Berkhutbah dengan lancarnya bak khathib yang sudah sangat berpengalaman.

Ternyata bedug masjid yang berbunyi sendiri itu, sebagai pertanda dan penyambutan ada tamu orang yang besar, KH. Abbas bin KH. Abdul Jamil Buntet. “Mungkin yang menabuh bedug dan menyambut itu adalah para malaikat,” tutup pamandaku, Bapak Ridhwan salah satu santri Buntet Pesantren, mengakhiri kisahnya.

7          Referensi

https://www.ipnu.or.id/

 

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya