Biografi Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim)

 
Biografi Sunan Bonang (Raden Makdum Ibrahim)
Sumber Gambar: Ilustrasi

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Nasab Sunan Bonang
1.4       Wafat          

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-guru Beliau
2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

3          Penerus Beliau
3.1       Murid-murid Beliau

4         Metode Dakwah Beliau    
4.1      Berdakwah dengan Media Gamelan
4.2      Tombo Ati Tembang Ciptaan Sunan Bonang

5         Karomah
5.1      Merubah Pohon Aren menjadi Pohon Emas
5.2      Kisah Tembang Sunan Bonang yang Bikin Perampok Tak Bisa Bergerak
5.3      Kisah Adu Kesaktian Sunan Bonang dan Brahmana dari India

6          Keteladanan Sunan Bonang

7          Referensi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1    Lahir

Sunan Bonang /Mahdum Ibrahim /Sunan Wadat Anyakrawati  adalah putra keempat Sunan Ampel dari Nyai Ageng Manila putri Arya Teja, Bupati Tuban. Menurut Bababd Risaking Majapahit dan Babad Cerbon, kakak-kakak Sunan Bonang adalah Nyai Patimah bergelar Nyai Gedeng Panyuran, Nyai Wilis atau Nyai Pengulu, dan Nyai Taluki bergelar Nyai Gedeng Maloka. Adik Sunan Bonang adalah Raden Qasim yang kelak menjadi anggota Wali Songo dan dikenal dengan sebutan Sunan Drajat.

Sunan Bonang lahir dengan nama kecil Raden Maulana Makdum Ibrahim. Diperkirakan lahir sekitar tahun 1465 Masehi. Selain mempunyai empat saudara seibu, Sunan Bonang Juga memiliki beberapa orang saudari dari lain ibu. Diantaranya adalah Dewi Murtosiyah yang di peristri Sunan Giri dan Dewi Murtosimah yang diperistri Raden Patah.

Nama Bonang berasal dari suku kata bon + nang = babon + menang = baboning kemenangan = induk kemenangan. Bonang juga nama sebuah desa di kabupaten Rembang. Namun ada pula yang menyatakan bahwa nama bonang diambil dari salah satu alat musik tradisional yang biasa digunakan oleh Raden Maulana Makdum Ibrahim untuk memudahkan pengenalan Islam kepada masyarakat.

1.2      Riwayat Keluarga

Menurut catatan Sadjarah Dalem, Sunan Bonang dikisahkan hidup tidak menikah atau membujang sampai wafatnya. Penjelasan ini sama dengan Carita Lasem yang menggambarkan Sunan Bonang Semenjak tinggal di Lasem sampai tinggal di Tuban tidak memiliki seorang istri, Dalam Babad Tanah Jawi pun tidak disebut adanya istri dan putra dari Sunan Bonang.
Ada versi lain yang menyebutkan bahwa Sunan Bonang menikah dengan Dewi Hirah putri dari Raden Jakandar. Dari pernikahan itu dikaruniai tiga anak. Yakni, Dewi Ruhil, Jayeng Katon dan Jayeng Rono

1.3      Nasab Sunan Ampel

1.    Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
2.    Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib
3.    Al-Imam Al-Husain
4.    Al-Imam Ali Zainal Abidin
5.    Al-Imam Muhammad Al-Baqir
6.    Al-Imam Ja’far Shadiq
7.    Al-Imam Ali Al-Uraidhi
8.    Al-Imam Muhammad An-Naqib
9.    Al-Imam Isa Ar-Rumi
10.    Al-Imam Ahmad Al-Muhajir
11.    As-Sayyid Ubaidillah
12.    As-Sayyid Alwi
13.    As-Sayyid Muhammad
14.    As-Sayyid Alwi 
15.    As-Sayyid Ali Khali’ Qasam
16.    As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath
17.    As-Sayyid Alwi Ammil Faqih 
18.    As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan
19.    As-Sayyid Abdullah
20.    As-Sayyid Ahmad Jalaluddin
21.    As-Sayyid Husain Jamaluddin 
22.    As-Sayyid Ibrahim Zainuddin As-Samarqandy
23.    As-Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel)
24.    Makdum Ibrahim (Sunan Bonang)

1.4       Wafat    

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, Berdasarkan keyakinan lokal, bahwa makam Sunan Bonang berada di empat tempat, yaitu di Desa Bonang, Kecamatan Lasem. Disini didapati bekas persujudan Sunan Bonang berupa batu bekas sujud. Banyak orang yang berziarah di sini. Makam berikutnya yaitu di Kelurahan Kutorejo Tuban, Kecamatan Tuban. Makam lainnya berada di Bawean dan Madura. 


Ada yang mengatakan bahwa Sunan bonang wafat di pulau Bawean. Selain banyak jumlahnya makam Sunan Bonang yaitu mencapai enam tempat: Tuban, Lasem, Bawean (Tambak Kramat), Bawean (Desa Pudakit Barat, Kecamatan Sangkapura) dan Madura dan anehnya semuanya diziarahi orang. Muridnya yang berada di Tuban menginginkan agar beliau dimakamkan di Tuban, akan tetapi masyarakat Bawean mempertahankan dan beliau dimakamkan di Bawean.

Pada malam harinya para muridnya yang di Tuban datang ke daerah Bawean, dan mereka mengeluarkan mantra yang mengakibatkan penjaga jenazah tertidur dan mereka membongkar kuburannya, lalu dibawa ke Tuban dan dimakamkan di sebelah Barat Masjid Agung Tuban. Tetapi anehnya, menurut cerita rakyat jenazah beliau dipulau Bawean masih ada. Kelainannya kain kafan Bawean cuma satu, demikian pula dengan makam yang berada di Tuban.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1       Menuntut Ilmu

Sejak kecil, Beliau sudah diberi pelajaran agama islam secara tekun dan disiplin oleh ayahnya yang juga seorang anggota Wali Sanga. Dan, ini sudah bukan lagi rahasia lagi bahwa latihan para Wali lebih berat dari pada orang biasa pada umumnya. Ia adalah calon wali terkemuka, maka Sunan Ampel mempersiapkan pendidikan sebaik mungkin sejak dini.
Suatu hari disebutkan bahwa Raden Maulana Makdum Ibrahim dan Raden Paku sewaktu masih remaja meneruskan pelajaran agama islam hingga ke tanah seberang, yaitu negeri pasai, aceh. Keduanya menambah pengetahuan kepada ayah kandung Sunan giri yang bernama Syaikh Maulana Ishaq. Mereka juga belajar kepada para ulama besar yang menetap di negeri pasai, seperti para ulama tasawuf yang berasal dari baghdad, mesir, arab, persia atau iran.

Raden Maulana Makdum Ibrahim dan Raden Paku pulang ke jawa setelah lama belajar di negeri pasai. Raden Paku kembali kembali ke gresik dengan mendirikan pesantren di giri sehingga terkenal sebagai Sunan Giri. Sementara itu, Raden Maulana Makdum Ibrahim diperintahkan Sunan Ampel untuk berdakwah di Tuban.

2.2       Guru-Guru Beliau

Guru-Guru Beliau saat menuntut ilmu:

1.    Sunan Ampel
2.    Syekh Maulana Ishaq /Syekh Wali Lanang  di Malaka

2.3       Mendirikan dan Mengasuh Pesantren

Sekembalinya dari menuntut ilmu, Sunan Ampel memerintahkan Sunan Bonang untuk melakukan dakwah di daerah Tuban, Jawa Timur. Sunan Bonang kemudian mendirikan pondok pesantren sebagai pusat dakwah dan menyebarkan agama Islam sesuai dengan adat Jawa. Di sana beliau mendirikan Masjid Sangkal Daha. Beliau kemudian menetap di Bonang desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu beliau membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar.

3          Penerus Beliau

3.1       Murid-murid Beliau

Beliau mempunyai beberapa murid yang kemudian juga masuk dalam Wali Songo seperti

1.    Sunan Kalijaga 
2.    Sunan Kudus 
3.    Sunan Drajad
4.    Sunan Muria.

4         Metode Dakwah Beliau

4.1    Berdakwah Lewat Seni dan Sastra

Sebagaimana Wali Songo lainnya, Raden Makdum Ibrahim menyebarkan Islam melalui media seni dan budaya. Ia menggunakan alat musik gamelan untuk menarik simpati rakyat. Konon, Raden Makdum Ibrahim sering memainkan gamelan berjenis bonang, yaitu perangkat musik ketuk berbentuk bundar dengan lingkaran menonjol di tengahnya. Jika tonjolan tersebut diketuk atau dipukul dengan kayu, maka akan muncul bunyi merdu. Raden Makdum Ibrahim alias Sunan Bonang membunyikan alat musik ini yang membuat penduduk setempat penasaran dan tertarik. Warga berbondong-bondong ingin mendengarkan alunan tembang dari gamelan yang dimainkan Sunan Bonang. Ia menggubah sejumlah tembang tengahan macapat, seperti Kidung Bonang, dan sebagainya. 
Begitulah cara Raden Makdum Ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran. Setelah rakyat berhasil direbut simpatinya, ia tinggal menyiapkan ajaran islam dalam berbagai tembang kepada mereka. Dan, seluruh tembang yang diajarkannya adalah tembang yang berisikan ajaran agama islam. Maka, tanpa terasa penduduk sudah mempelajari Agama Islam dengan senang hati dan tanpa paksaan.

Sunan Bonang juga mahir memainkan wayang serta menguasai seni dan sastra Jawa. Dalam pertunjukan wayang, Sunan Bonang menambahkan ricikan, yaitu kuda, gajah, harimau, garuda, kereta perang, dan rampogani untuk memperkaya pertunjukannya. Dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam (2013), Hery Nugroho menuliskan bahwa dakwah Sunan Bonang yang lain adalah melalui penulisan karya sastra yang bertajuk Suluk Wujil. Saat ini, naskah asli Suluk Wujil disimpan di perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Suluk Wujil diakui sebagai salah satu karya sastra terbesar di Nusantara karena isinya yang indah serta kandungannya yang kaya dalam menafsirkan kehidupan beragama. Sunan Bonang sangat fokus dalam menjalani perannya sebagai ulama dan seniman

4.2    Tombo Ati Tembang Ciptaaan Sunan Bonang

Cerita Sunan Bonang, Di antara tembang Raden Makdum Ibrahim yang terkenal, yaitu “Tamba ati iku lima ing wernane. kaping pisan maca qur'an angen-angen sak maknane. Kaping pindho shalat wengi lakonono. Kaping telu wong kang saleh kancanana. kaping papat kudu wetheng ingkang luwe. Kaping lima dzikir wengi ingkang suwe. Sopo wonge bisa ngelakoni. Insya Allah gusti Allah nyembadani”

Adapun arti tembang tersebut adalah obat sakit jiwa (hati) itu ada lima jenisnya. Pertama, membaca al qur an direnungkan artinya. kedua, mengerjakan shalat malam (Sunnah Tahajjud). Ketiga, sering bersahabat dengan orang shalih (berilmu). Keempat, harus sering berprihatin (berpuasa). Kelima, sering berzikir mengingat Allah di waktu malam. Siapa saja mampu mengerjakannya. InsyaAllah Allah akan mengabulkan.
Sekarang, lagu ini sering dilantunkan para santri ketika hendak shalat jamaah baik di pedesaan maupun di pesantren. Sebenarnya, para murid Raden Makdum Ibhramim sangat banyak, baik itu mereka yang berada di Tuban, pulau Bawean, Jepara, maupun Madura. Sebab, Beliau sering mempergunakan bonang dalam berdakwah, maka masyarakat memberinya gelar Sunan Bonang.

5         Karomah Beliau

5.1       Merubah Pohon Aren menjadi Pohon Emas

Suatu ketika Sunan Bonang berjalan di hutan dan dihadang oleh Raden Mas Said atau Brandalan Lokajaya. Raden Mas Said hendak merampok Sunan Bonang yang membawa sebuah tongkat berlapiskan emas. Tapi dengan tenang Sunan Bonang yang telah mengetahui maksud Lokajaya menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya.Kesantunan dan kelembutan Sunan Bonang konon berhasil meluluhkan hati berandal dan perampok yang terkenal sadis. Bentakan dan sikap kasar Lokajaya yang menyuruh Sunan Bonang memilih harta atau nyawa, menjadi kesempatan Sunan Bonang untuk menenangkan Lokajaya.

Perkataan Sunan Bonang ini akhirnya disambut dengan suasana hening dari Lokajaya yang kala itu belum memeluk agama Islam. Pria yang nantinya menjadi Sunan Kalijaga ini mencoba meresapi kata - kata Sunan Bonang. Saat itulah, Sunan Bonang kembali bertanya apakah Lokajaya masih membutuhkan harta benda. Lalu Sunan Bonang dengan tongkat di tangannya menunjuk buah aren yang ada di sekitarnya sembari mengatakan "Lihat itu lebih banyak emas,".

Atas izin Allah dan karomah Sunan Bonang, buah aren itu berubah menjadi kemilauan emas. Emas - emas itu tampak lebih banyak dibanding dengan tongkat yang sebenarnya diiincar LokaJaya. Melihat kejadian itu di depan matanya, Raden Mas Said langsung menyatakan diri memeluk agama Islam dan bersedia berguru kepada Sunan Bonang.
Sunan Bonang pun berujar "Sabar - sabarlah dulu anakku. Kamu membutuhkan pisau ini? Oh gampang, gampang! Nanti aku berikan. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya siapa namamu nak? Mengapa kamu datang dan langsung bertindak kasar seperti ini? Ingatlah nak, orang tuamu itu orang yang taat,".

5.2       Kisah Tembang Sunan Bonang yang Bikin Perampok Tak Bisa Bergerak

Selain itu dikisahkan, Sunan Bonang pernah menaklukkan Kebondanu, seorang pemimpin perampok, dan anak buahnya, hanya menggunakan tembang dan gending Dharma dan Mocopat.
Suatu ketika Sunan Bonang sedang berjalan melintasi hutan, Dalam perjalanan itu tiba-tiba dicegat oleh sekawanan perampok pimpinan Kebondanu. Pada waktu dicegat oleh Kebondanu dan anak buahnya, Sunan Bonang hanya memperdengarkan tembang Dharma ciptaannya.

Seketika itu juga Kebondanu dan seluruh anak buahnya tidak dapat bergerak. Kaki dan tangan serta seluruh anggota badannya terasa kaku, tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Oleh karena itu para perampok tersebut tidak dapat berbuat lain kecuali berteriak minta ampun kepada Sunan Bonang. ''Ampun... hentikan bunyi gamelan itu. Kami tak kuat,'' begitu konon kata Kebondanu.
Setelah diminta bertobat, Kebondanu dan gerombolannya pun masuk Islam dan menjadi pengikut Sunan Bonang.

5.3  Kisah Adu Kesaktian Sunan Bonang dan Brahmana dari India

Kesaktian Sunan Bonang tak hanya terletak pada gamelan dan gaungnya. Cerita lain mengisahkan seorang brahmana bernama Sakyakirti yang berlayar dari India ke Tuban. Tujuannya ingin mengadu kesaktian dengan Sunan Bonang. "Aku Brahmana Sakyakirti, akan menantang Sunan Bonang untuk berdebat dan adu kesaktian," sumpah Brahmana sembari berdiri di atas geladak di buritan kapal layar. "Jika dia kalah, maka akan aku tebas batang lehernya. Jika dia yang menang akau akan bertekuk lutut untuk mencium telapak kakinya. Akan aku serahkan jiwa ragaku kepadanya," sumpah sang Brahmana. Namun ketika kapal yang ditumpanginya sampai di Perairan Tuban, mendadak laut yang tadinya tenang tiba-tiba bergolak hebat. Angin dari segala penjuru seolah berkumpul menjadi satu, menghantam air laut sehingga menimbulkan badai setinggi bukit. Dengan kesaktiannya, Brahmana Sakyakirti mencoba menggempur badai yang hendak menerjang kapal layarnya. Satu kali, dua kali hingga empat kali Brahmana ini dapat menghalau terjangan badai. Namun kali ke lima, dia sudah mulai kehabisan tenaga hingga membuat kapal layarnya langsung tenggelam ke dalam laut. 

Dengan susah payah dicabutnya beberapa batang balok kayu untuk menyelamatkan diri dan menolong beberapa orang muridnya agar jangan sampai tenggelam ke dasar samudera. Walaupun pada akhirnya dia dan para pengikutnya berhasil menyelamatkan diri, namun kitab-kitab referensi yang hendak dipergunakan untuk berdebat dengan Sunan Bonang telah ikut tenggelam ke dasar laut. Meski demikian, niatnya untuk mengadu ilmu dengan Sunan Bonang tak pernah surut. Dia dan murid-muridnya telah terdampar di tepi pantai yang tak pernah dikenalnya. Dia bingung harus kemana untuk mencari Sunan Bonang. Pada saat hampir dalam keputusasaan, tiba-tiba di kejauhan dia melihat seorang lelaki berjubah putih sedang berjalan sambil membawa tongkat. Dia dan murid-muridnya segera berlari menghampiri dan menghentikan langkah orang itu. Lelaki berjubah putih itu menghentikan langkahnya dan menancapkan tongkatnya ke pasir."Kisanak, kami datang dari India hendak mencari seorang bernama Sunan Bonang. Dapatkah kisanak memberitahu di mana kami bisa bertemu dengannya?" tanya sang Brahmana. "Untuk apa Tuan mencari Sunan Bonang?" tanya lelaki itu. "Akan saya ajak berdebat tentang masalah keagamaan," jawab sang Brahmana. "Tapi sayang, kitab-kitab yang saya bawa telah tenggelam ke dasar laut.

Meski demikian niat saya tak pernah padam. Masih ada beberapa hal yang dapat saya ingat sebagai bahan perdebatan," kata sang  Brahmana. Tanpa banyak bicara, lelaki berjubah putih itu mencabut tongkatnya. Mendadak saja tersembur air dari bekas tongkat tersebut dan air itu membawa keluar semua kitab yang dibawa sang Brahmana. "Itukah kitab-kitab Tuan yang tenggelam ke dasar laut?," tanya lelaki itu. Sang Brahmana dan pengikutnya kemudian memeriksa kitab-kitab itu, dan tenyata benar milik sang Brahmana. Berdebarlah hati sang Brahmana sembari menduga-duga siapakah sebenarnya lelaki berjubah putih itu. Sementara itu para murid sang Brahmana yang kehausan sejak tadi segera saja meminum air jernih yang memancar itu. Brahmana Sakyakirti memandangnya dengan rasa kuatir, jangan-jangan murid-muridnya itu akan segera mabuk karena meminum air di tepi laut yang pastilah banyak mengandung garam.  "Segar...Aduuh...segarnya..." seru murid-murid sang Brahmana. 

Brahmana Sakyakirti termenung. Bagaimana mungkin air di tepi pantai terasa segar. Dia mencicipinya sedikit dan ternyata memang segar rasanya. Rasa herannya menjadi-jadi terlebih jika berpikir tentang kemampuan lelaki berjubah putih itu yang mampu menciptakan lubang air yang memancar dan mampu menghisap kitab-kitab yang tenggelam ke dasar laut. Sang Brahmana berpikir bahwa lelaki berjubah putih itu bukanlah lelaki sembarangan. Dia mengira bahwa lelaki itu telah mengeluarkan ilmu sihir, akhirnya dia mengerahkan ilmunya untuk mendeteksi apakah semua itu benar hanya sihir. Namun setelah dikerahkan segala kemampuannya, ternyata bukan, bukan ilmu sihir, tapi kenyataan.Seribu Brahmana yang ada di India pun tak akan mampu melakukan hal itu, pikir Brahmana dalam hati. Dengan perasaan takut dan was-was, dia menatap wajah lelaki berjubah itu. "Mungkinkah lelaki ini adalah Sunan Bonang yang termasyhur itu?," gumannya dalam hati. 

Akhirnya sang Brahmana memberanikan diri untuk bertanya kepada lelaki itu."Apakah nama daerah tempat saya terdampar ini?," tanya Brahmana dengan hati yang berdebar-debar. "Tuan berada di Pantai Tuban," jawab lelaki berjubah putih itu. Begitu mendengar jawaban lelaki itu, jatuh tersungkurlah sang Brahmana beserta murid-muridnya. Mereka menjatuhkan diri berlutut di hadapan lelaki itu. Mereka sudah yakin sekali bahwa lelaki inilah yang bernama Sunang Bonang yang terkenal sampai ke Negeri India itu. "Bangunlah, untuk apa kalian berlutut kepadaku. Bukankah sudah kalian ketahui dari kitab-kitab yang kalian pelajari bahwa sangat terlarang bersujud kepada sesama makhluk. Sujud hanya pantas dipersembahkan kepada Allah Yang Maha Agung," kata lelaki berjubah putih itu yang tak lain memang benar Sunan Bonang. "Ampun...Ampunilah saya yang buta ini, tak melihat tingginya gunung di depan mata, ampunkan saya...," ujar sang Brahmana meminta dikasihani. "Bukankah Tuan ingin berdebat denganku dan mengadu kesaktian?," ucap Sunan Bonang. "Mana saya berani melawan paduka, tentulah ombak dan badai yang menyerang kapal kami juga ciptaan paduka, kesaktian paduka tak terukur tingginya.

"Ilmu paduka tak terukur dalamnya," kata Brahmana Sakyakirti. "Engkau salah, aku tidak mampu menciptakan ombak dan badai, hanya Allah SWT saja yang mampu menciptakan dan menggerakkan seluruh makhluk. Allah melindungi orang yang percaya dan mendekat kepada-Nya dari segala macam bahaya dan niat jahat seseorang," ujar Sunan Bonang. Memang kedatangannya bermaksud jahat ingin membunuh Sunan Bonang melalui adu kepandaian dan kesaktian. Ternyata niatnya tak kesampaian. Apa yang telah dibacanya dalam kitab-kitab yang telah dipelajari telah terbukti. Setelah kejadian tersebut, akhirnya sang Brahmana dan murid-muridnya rela memeluk agama Islam atas kemauannya sendiri tanpa paksaan. Lalu sang brahmana dan pengikutnya menjadi murid dari Sunan Bonang.   
     
6 Keteladanan Sunan Bonang

Sunan Bonang memiliki keistimewaan memimpin dan bergaul dengan masyarakat. Bakat ini menunjang tugasnya untuk meneruskan dakwah ayahnya. Terutama dalam bidang seni budaya. Oleh karena itu Sunan Bonang lebih banyak menggunakan seni dan budaya sebagai media dakwahnya. Melalui berbagai unsur kesenian beliau tanamkan roh islamiyah baik yang berkenaan dengan aqidah hukum maupun etika.

Sunan Bonang banyak menggubah syair lagu gending dengan tema tauhid, ibadah, akhlak, kisah-kisah Nabi. Sunan Bonang jugalah yang menggubah gamelan Jawa seperti yang ada sekarang, beliau menggubah gamelan Jawa yang saat itu masih kental dengan estetika Hindu dengan gaya lebih baru dan menambahkan instrument bonang. Dengan begitu, berangsur-angsur terkikis bermacam-jenis kepercayaan dan adat istiadat lama yang menyesatkan dan tumbuh bersemi aqidah dan ajaran Islam yang menjanjikan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Sunan Bonang menggunakan kebudayaan jawa yang sudah lama ada, untuk menarik perhatian masyarakat sekitar. Hal ini bertujuan untuk menanamkan ajaran Agama Islam tanpa harus mengubah kebiasaan dan juga unsur budaya yang telah ada sebelumnya. Beliau memanfaatkan kesenian rakyat berupa permainan gamelan bonang dan juga pertunjukan wayang. Gamelan bonang adalah salah satu alat kesenian daerah berbentuk bulat lengkap dengan benjolan di tengah yang terbuat dari kuningan. Alat kesenian ini dibunyikan dengan menggunakan kayu kecil yang kemudian akan menghasilkan suara merdu. Bila Sunan Bonang memainkan gamelan bonang ini, akan menghasilkan suara merdu yang enak untuk didengarkan. Sehingga masyarakat akan sangat senang jika beliau memainkan gamelan tersebut.

Sunan Bonang memiliki bakat dalam bidang seni yang tergolong tinggi. Beliau menciptakan berbagai lagu sebagai pengiring dalam pertunjukan wayang.Dalam lagu tersebut selalu di selipkan ajaran Agama Islam dan juga “Dua Kalimat Syahadat”. Dengan cara ini akan memudahkan  masyarakat sekitar dalam menerima ajaran Agama Islam dengan mudah dan tidak adanya paksaan sedikitpun.

Setelah itu, beliau akan mengajarkan Islam lebih mendalam lagi. Pada pertunjukan wayang yang beliau mainkan, selalu disematkan ajaran Islam dan juga kalimat dzikir untuk membuat masyarakat sekitar selalu ingat dengan dunia akhirat. Beliau sangat mahir dalam memainkan wayang hingga membuat masyarakat terbius dengan pertunjukannya. Saat itu, beliau memainkan wayang dengan kisah Pandawa dan Kurawa yang terkenal dengan ajaran Hindu.

7 Referensi

Buku Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto,
Buku Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, Agus Sunyoto, Jakarta: Transpustaka, 2011
Sejarah Kebudayaan Islam (2013), Hery Nugroho
https://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/cagarbudaya/detail/PO2016060200015/kompleks-makam-sunan-bonang
https://tubankab.go.id/event/pengajian-umum-dan-haul-sunan-bonang-tuban


 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya