Biografi Sunan Kalijaga (Raden Said)

 
Biografi Sunan Kalijaga (Raden Said)

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga
1.3       Nasab Sunan Kalijaga
1.4       Wafat    

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2       Guru-guru Beliau

3          Penerus Beliau
3.1       Anak-anak Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4         Metode Dakwah Beliau    
4.1      Wayang
4.2      Seni Ukir
4.3      Gamelan
4.4      Tembang
4.5      Grebeg dan Sekaten

5         Karomah Beliau 
5.1      Menjaga Tongkat Selama 3 Tahun hingga Akhirnya Menjadi Wali
5.2      Memiliki Ilmu Berubah Wujud
5.3      Mengubah Tanah jadi Emas

6         Keteladanan Sunan Kalijaga
6.1      Tekun, Istikamah, dan Toleran
6.2      Seniman kreatif punya banyak ide dan gagasan

7        Referensi

1 Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1 Lahir

Sunan Kalijaga dilahirkan dari keluarga bangsawan Tuban. Bapaknya beliau adalah Tumenggung Wilatika yang menjadi Adipati Tuban, sedangkan ibunya adalah Dewi Nawangrum. Riwayat lain menyebutkan menyebutkan bahwa Tumenggung/ dipati Wilatika ini merupakan keturuna dari Runggalawe dari kerajaan Majapahit, ia memiliki putra bernama Raden Sahid dan putri bernama Dewi Rasawulan dari perkawinannya dengan Dewi Anggraeni. Sunan Kalijaga lahir sekitar tahun 1450 M memiliki nama kecil Raden Sahid.

Terkait asal usulnya ada dua pendapat yang berbeda mengenai keturunan Sunan Kalijaga. Dua pendapat tersebut mengatakan bahwa Sunan Kalijaga merupakan keturunan Arab dan Jawa Asli. Pendapat bahwa Sunan Kalijaga orang Arab, terdapat pada catatan babad tuban, di dalam babad tersebut di ceritakan Aria Teja Alias Abdul Rahman atau kakek Sunan Kalijaga berhasil mengislamkan Adipati Tuban yang bernama Aria Dikara, dan mengawini putrinya. Dari perkawinan tersebut Aria Teja mempunyai putra yang bernama Aria Wilatika. Sunan Kalijaga merupakan anak dari Aria Wilatika. H.J. De Graaf membenarkan Babad Tuban dan pandangan Van Den Berg bahwa Aria Teja I (Abdurrahman) adalah orang Arab, yang memiliki silsilah hingga Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi Rasuluallah SAW.

 Adapun pendapat yang mengatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah keturunan Jawa, Dari keterangan Darmosugito (Trah Kalinjangan) yang disampaikan pada seorang pembantu majalah Penyebar Semangat Surabaya yang bernama Tjantrik Mataram mengatakan bahwa Sunan Kalijaga keturunan Jawa asli. Silsilah keturunan Jawanya yaitu, Adipati Ranggalawe (Bupati Tuban), berputra Ario Teja I (Bupati Tuban), berputra Aria Teja II (Bupati Tuban), berputra Aria Teja III (Bupati Tuban), berputra Raden Tumenggung Wilatikta (Bupati Tuban), berputra Raden Mas Said “Sunan Kalijaga. Tetapi belum tau pasti kebenarannya karena tidak ada catatan secara resmi dan lengkap yang menjadi bukti konkret sebagai pedoman.

1.2       Riwayat Keluarga

Menurut catatan sejarah, Sunan Kalijaga memiliki tiga orang istri, yaitu: Dewi Sarah, Siti Zaenab, dan Siti Khafsah. 
Istri yang pertama adalah Dewi Sarah merupakan putri dari Maulana Ishaq, dari perkawinannya ini di karuniai 3 anak yaitu 

  1. Raden Umar Said (Sunan Muria) 
  2. Dewi Rukayah 
  3. Dewi Sofiah. 

Istri yang kedua adalah Siti Zaenab adalah putri dari Sunan Gunungjati. Dari perkawinan ini di karuniai 5 orang anak yaitu: 

  1. Ratu Pembayun 
  2. Nyai Ageng Panegak
  3. Sunan Hadi 
  4. Raden Abdurrahman 
  5. Nyai Ageng Ngerang 

Istri yang ketiga adalah Siti Khafsah merupakan putri Sunan Ampel. Tetapi tidak ada keterangan secara jelas mengenai jumlah dan siapa nama putra Sunan Kalijaga dari perkawinannya dengan Siti Khafsah ini.

1.3 Nasab Sunan Kalijaga

1.    Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
2.    Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib, binti
3.    Al-Imam Al-Husain bin
4.    Al-Imam Ali Zainal Abidin bin
5.    Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin
6.    Al-Imam Ja’far Shadiq bin
7.    Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin
8.    Al-Imam Muhammad An-Naqib bin
9.    Al-Imam Isa Ar-Rumi bin
10.    Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin
11.    As-Sayyid Ubaidillah bin
12.    As-Sayyid Alwi bin
13.    As-Sayyid Muhammad bin
14.    As-Sayyid Alwi bin
15.    As-Sayyid Ali Khali’ Qasam bin
16.    As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin
17.    As-Sayyid Alwi Ammil Faqih bin
18.    As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin
19.    As-Sayyid Abdullah bin
20.    As-Sayyid Ahmad Jalaluddin bin
21.    As-Sayyid Ali Nuruddin bin
22.    As- Sayyid Maulana Mansur bin
23.    Ahmad Sahuri alias Raden Sahur alias Tumenggung Wilatikta (Bupati Tuban ke-8)
24.    Sunan Kalijaga alias Raden Said

1.4       Wafat

Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Yakni, sejak pertengahan abad ke 15 sampai dengan akhir abad 16. Dengan demikian, ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak pada tahun 1481-1546 M, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546-1568 M serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak.

Sunan Kalijaga wafat sekitar tahun 1580. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 131 tahun. Beliau dimakamkan di Desa Kadilangu kota Demak. Makam Sunan Kalijaga terletak di tengah kompleks pemakaman Desa Kadilangu yang dilingkari dinding dengan pintu gerbang makam. Area makam Sunan Kalijaga masih di dalam Kota Demak kira-kira berjarak sekitar 3 km dari Masjid Agung Demak. Seperti makam Wali Songo umumnya, makam Sunan Kalijaga berada di dalam bangunan tungkub berdinding tembok dengan hiasan dinding terbuat dari kayu berukir.

2 Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1 Guru-guru Beliau

Dalam catatan sejarah Sunan Kalijaga menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga memiliki banyak guru selama hidupnya, bahkan bukan hanya dari indonesia saja tetapi dari luar negeri. Beberapa guru Sunan Kalijaga tersebut antara lain: 

  1. Sunan Bonang Kisah awal Sunan Kalijaga dimulai dengan kisah mengenai masa mudanya yang suka berbuat tercela, seperti: suka judi, mabuk-mabukan, mencuri sampai diusir oleh orang tuanya karena malu dengan perbuatan Sunan Kalijaga. Namun, dengan diusirnya dari rumah tidak menjadikannya sunan kalijaga membaik, malah semakin nakal dengan menjadi perampok yang membuat kerusuhan di hutan Jatisari dan membuat semua orang ketakutan kepadanya.

    Dengan kenakalan yang tidak lazim bahkan sampai membunuh orang, Sunan Kalijaga atau Raden Said dikenal dengan sebutan Lokajaya. Namun atas dakwah Sunan Bonang yang ketika dirampok mampu menunjukkan kesaktian mengubah buah aren menjadi emas,kemudian Raden Said bertaubat dan berusaha menjadi orang yang lebih baik, yang bahkan akhirnya menjadi anggota Wali Songo. Pertemuan dengan Sunan Bonang inilah yang mengubah pola hidup Sunan Kalijaga untuk menjadi lebih baik. Melihat kearifan ilmu Sunan Bonang, membuat Raden Said ingin belajar dengannya. Sunan Bonang mau menerima Raden Said menjadi muridnya dengan syarat Raden said disuruh bertapa di pinggir sungai hingga Sunan Bonang menemuinya kembali. 

    Setelah Sunan Bonang menemuinya kembali kemudian Raden Said di bawa ke Ngampel Gading untuk mendapatkan pembelajaran mengenai agama. inti ajaran yang diwejangkan Sunan Bonang kepada Raden Said yaitu “sangkan paraning dumadi” yaitu suatu ilmu yang pada hakikatnya menerangkan asal usul kejadian alam semesta, kepergian roh sesudah kematian ngawi serta hakikat hidup dan mati. 
     
  2. Syaikh Siti Jenar Syekh, Syaikh Siti Jenar merupakan orang pertama di Pondok Giri Amparan Jati. Bahwa sewaktu Sunan Kalijaga tinggal di Cirebon pernah belajar Ilmu Ilafi dari beliau. Namun kemudian mereka berdua berguru tentang ilmu ma’rifat dari Sunan Gunung Jati selama empat tahun.
     
  3. Syekh Sutabris, Sunan Kalijaga pernah berguru kepada Syekh Sutabris pada abad ke-15. Syekh Sutabris adalah guru agama yang tinggal di pulau Upih termasuk bagian kota Malaka dan terletak di sebelah utara sungai serta pulau yang ramai karena menjadi pusat perdagangan waktu itu. Di pulau tersebut, Sunan Kalijaga mendapatkan perintah dari Syekh Maulana Maghribi agar kembali ke Jawa untuk membangun masjid dan menjadi penggenap wali. Sekembalinya ke Jawa, Beliau menetap di Cirebon dan bertemu Sunan Bonang. Desa tempat bertemunya tersebut kemudian dikenal dengan nama desa Kalijaga.
     
  4. Sunan Gunung Jati Berdasarkan Hikayat Hasanuddin, bahwa kehadiran Sunan Kalijaga di Cirebon adalah untuk menyebarkan agama Islam dan sekaligus menuntut ilmu pada Sunan Gunungjati. Disebutkan pula bahwa Sunan Bonang Pangeran Adipati Demak dan keluarganya telah pergi mengunjungi Sunan Gunungjati untuk berguru. Demikian pula Sunan Kalijaga dan Pangeran Kadarajad (Sunan Drajad). Dikisahkan melalui berbagai naskah, Sunan Kalijaga juga diambil menantu Sunan Gunungjati. Selanjutnya Sunan Kalijaga membuka pondok pesantren di daerah kaki bukit Gunungjati.

.
3 Penerus Beliau

3.1 Anak-anak Beliau

01. Raden Umar Said (Sunan Muria) 
02. Dewi Rukayah 
03. Dewi Sofiah. 
04. Ratu Pembayun 
05. Nyai Ageng Panegak
06. Sunan Hadi 
07. Raden Abdurrahman 
08. Nyai Ageng Ngerang

3.2 Murid-murid Beliau

1. Geseng Sunan
2. Sunan Bayat (Klaten)
3. Ki Ageng Selo (Demak)
4. Syekh Jangkung (Pati) 

4 Metode Dakwah Beliau        

Sunan Kalijaga dalam melakukan dakwah secara luwes karena masyarakat Jawa saat itu masih menganut kepercayaan lama. Sunan Kalijaga mendekatkan diri ke dalam masyarakat yang masih awam. Selain itu, Sunan Kalijaga mengenakan pakaian adat Jawa setiap hari dengan menggabungkan unsur Islam. Terdapat alasan Sunan Kalijaga menggunakan pakaian tersebut dikarena apabila mengenakan jubah dikhawatirkan dapat menimbulkan rasa takut masyarakat dan merasa enggan untuk menerima kedatangannya.

Salah satu hal yang dapat dikatakan unik ketika Sunan Kalijaga merebut simpati masyarakat terlebih dahulu agar mau menerima agama Islam. Selanjutnya, beliau menjelaskan kepada masyarakat mengenai agama Islam dan menasehati untuk meninggalkan adat dan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Akan tetapi, kebudayaan dan kesenian yang sekiranya dapat ditanamkan unsur ajaran Islam akan dipertahankan serta digunakan sebagai media dakwah oleh Sunan Kalijaga.

Berbagai media dakwah yang digunakan, yaitu gamelan, gendhing, tembang, wayang, grebeg, suluk, tata kota, selamatan, kenduri, dan upacara tradisional. Tidak hanya itu, Sunan Kalijaga kerap memakai nama samaran, seperti “Ki Dalang” karena kemampuan beliau dalam mengajarkan Islam kepada masyarakat melalui pertunjukan kebudayaan dan kesenian. Warisan seni dan budaya yang diciptakan Sunan Kalijaga tentu digunakan sebagai sarana dan media dalam berdakwah menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Peran beliau sebagai seorang pendidik dan pengajar agama di tengah masyarakat yang beragama Hindu dan Budha yang sangat dominan dan strategis mengingat banyak orang mauk islam dan pada akhirnya menjadi murid beliau dari kalangan terbawah hingga bangsawan kerajaan. Banyak peran lain yang belum tergali yang menunjukkan betapa beliau kaya akan konsep ajaran hidup yang berbasis pada pendidikan karakter atau akhlak pada umumnya yang masih relevan untuk diimplementasikan disemua zaman termasuk zaman globalisasi sekarang ini.

4.1    Wayang

Sunan Kalijaga menggunakan wayang sebagai salah satu media dakwahnya. Beliau mengenalkan Islam melalui pertunjukan wayang yang sangat digemari masyarakat. Pada saat beliau berdakwah agama Islam sebagai dalang yang berkeliling di wilayah Pajajaran hingga Majapahit. Tidak hanya sebagai dalang wayang saja, beliau juga menjadi dalang pantun. Apabila ada masyarakat yang ingin mengadakan pertunjukan wayang, maka Sunan Kalijaga tidak memungut uang melainkan cukup membaca dua kalimat syahadat, dan menyebabkan Islam dapat berkembang dengan cepat.
Di dalam pertunjukan wayang, lakon yang dibawakan oleh Sunan Kalijaga tidak hanya mengangkat kisah Mahabarata dan Ramayana, terdapat pula lakon yang digemari oleh masyarakat yaitu Dewa Ruci. Lakon Dewa Ruci ini menjadi bentuk pengembangan dari lakon Nawa Ruci. Lakon Dewa Ruci ini mengisahkan Bima yang merupakan salah satu Pandawa saat mencari kebenaran melalui bimbingan Begawan Drona hingga Bima bertemu dengan Dewa Ruci.

Selain lakon Dewa Ruci, Sunan Kalijaga juga memunculkan tokoh-tokoh wayang seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong yang telah diselusupi ajaran-ajaran Islam. Dalam menjadi dalang, Sunan Kalijaga memaparkan ajaran tasawuf saat memainkan wayang terutama saat lakon Dewa Ruci. Hal ini menyebabkan masyarakat dari seluruh lapisan menjadi senang. Saat pertunjukan wayang, Sunan Kalijaga memodifikasi bentuk wayang, sebelumnya berbentuk gambar manusia menjadi gambar dekoratif dengan bentuk tubuh yang tidak mirip dengan manusia. Penggunaan pertunjukan wayang sebagai media dakwah penyebaran Islam oleh Sunan Kalijaga. Hal tersebut menunjukkan keahlian beliau dalam memadukan unsur ajaran Islam dengan unsur budaya masyarakat Jawa. Oleh karea itu, kebudayaan dan kesenian merupakan sesuatu yang tidak dapat lepas dari masyarakat. 

Selain lakon Dewa Ruci dan Punakawan, Sunan Kalijaga juga memasukan ajaran Islam pada tokoh Yudistira dan Bima. Seperti yang dikisahkan dalam lakon Yudistira mendapatkan azimat Kalimasada  karena tidak mau berperang. Azimat ini berguna untuk melindungi diri sendiri, menjauhkan musuh, dan memelihara stabilitas pemerintahan kerajaan. Jimat Kalisada ini tak lain perlambang dari kalimat syahadat,. Pemanfaatan kebudayaan yang paling sering dipentaskan yaitu lakon Jimat Kalimasada. Sunan Kalijaga menjadikan lakon wayang tersebut ialah sebagai media dakwah pendidikan latihan rohani dengan menampilkan tokoh-tokoh pewayangan yang menjadi favorit rakyat, dalam pewayangan ini hampir keseluruhan yang dipentaskan kisahnya tentang tasawuf dan akhlakul karimah, sebabnya yang dituju adalah pemeluk Budha atau Hindu, yang keseluruhan ajarannya mengenai kebatinan

Azimat Kalimasada merupakan sebuah teks yang dapat bertahan lama dan merupakan kalimat syahadat. Oleh karena itu, Yudistira meninggal dalam keadaan Islam. Kalimat “Kalimasada” berasal dari kalimat Syahada yang artinya “yang bersaksi”. Dalam lakon Bima digambarkan seperti shalat. Hal ini disebabkan karena dalam cerita Hindu Bima digambarkan sebagai sosok yang kuat, sedangkan shalat merupakan tiang agama yang artinya tanpa shalat agama dari seseorang runtuh.

Sementara itu, Arjuna dilambangkan sebagai puasa, Nakula, dan Sadewa dilambangkan sebagai zakat dan haji. Berdasarkan pelambangan tersebut, Sunan Kalijaga telah menggambarkan masyarakat Jawa mengenai badan manusia dengan wayang. Hal ini dapat diartikan tradisi wayang kulit yang dipertunjukkan dianggap sama seperti kehidupan. Dalam ajaran Islam Nabi Muhammad Saw mengajarkan kepada kita untuk tidak melihat seseorang dari luarnya saja.

4.2 Seni Ukir

Seni Ukir Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Kalijaga menggunakan seni ukir yang berbentuk dedaunan bukan berbentuk manusia dan hewan, karena sejak para Wali mengembangkan dakwah Islam, seni ukir yang berbentuk manusia dan hewan sudah tidak dipergunakan lagi. Seni ukir dedaunan diawali atau diciptakan oleh Sunan Kalijaga. Seni ukir tersebut dapat dijumpai pada guyau (alat menggantungkan gamelan) dan pada rumahrumah adat di sekitar Demak dan Kudus.

4.3       Gamelan

Gamelan digunakan sebagai media dakwah oleh Sunan Kalijaga ketika pertunjukan dan acara lainnya. Dalam pertunjukan wayang, ketukan gamelan sudah digubah Sunan Kalijaga agar iramanya sesuai dengan lakon yang akan dimainkan. Selain digunakan dalam pertunjukan wayang, gamelan digunakan untuk mengundang masyarakat agar datang ke masjid. Gamelan juga digunakan saat acara Grebeg dan Sekaten yang bertujuan untuk mengundang banyak perhatian dari masyarakat.

4.4       Tembang

Selain menggunakan wayang dan gamelan, Sunan Kalijaga dalam berdakwah juga menggunakan tembang-tembang yang merupakan kebudayaan dan kesenian dari masyarakat Jawa. Sunan Kalijaga menciptakan tembang macapat Dhandanggulo dengan nada yang memiliki toleransi antara melodi Arab dan Jawa. Lagu lain yang diciptakan Sunan Kalijaga adalah ilir-ilir, gundul-gundul pacul, Kidung Rumeksa ing Wengi, Lingsir Wengi, Suluk Linglung. Dalam tembang Rumekso Ing Wengi ini melambangkan doa saat malam hari setelah melaksanakan shalat tahajud. Doa yang dipanjatkan bertujuan meminta agar senantiasa dihindarkan dari gangguan negatif, serta dalam gaya bahasa sesuai dengan pikiran masyarakat Jawa. Hal yang disampaikan dalam tembang Rumekso Ing Wengi dapat menusuk hati pembacanya. Tembang ini disusun Sunan Kalijaga dikarenakan masyarakat Jawa masih kesulitan dalam menghafal dan melafalkan doa berbahasa Arab. 

4.5       Grebeg dan Sekaten 

Grebeg berasal dari kata gumrebeg yang artinya “riuh” atau “rame”, jika dipahami menjadi “keramaian” dan berujung perayaan. Hal ini sering dijumpai saat acara grebeg terdapat konvoi barisan prajurit yang membawa gunungan disertai dengan iringan gamelan. Sekaten berasal dari kata sekati yang artinya “nama dua alat gamelan”. Sekaten merupakan bagian dari serangkaian acara grebeg yang merupakan gagasan Walisongo dalam menggabungkan kebudayaan masyarakat Jawa dengan ajaran Islam. Hal ini dikarenakan grebeg dan sekaten merupakan kebudayaan yang sudah ada sejak kerajaan Hindu Budha.

Ide untuk menggabungkan kebudayaan grebeg dan sekaten dengan ajaran Islam muncul saat Sunan Kalijaga mencoba menarik masyarakat datang ke masjid dan bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Sunan Kalijaga memiliki inisiatif untuk menggabungkan unsur  kebudayaan yang sudah lama dikenal oleh masyarakat Jawa. Lalu menggunakan gamelan dan tari-tarian di lingkungan kraton untuk meramaikan pelaksanaan Grebeg Maulid. Seperangkat gamelan diletakkan dihalaman masjid untuk ditabuh agar menarik perhatian masyarakat. Komplek masjid dihiasi dengan pernak-pernik menarik yang mengundang masyarakat datang ke komplek masjid Demak.

Awalnya masyarakat maerasa malu untuk datang, perlahan-lahan mulai berdatangan dengan melewati gapura dan dituntun untuk mengucapkan kalimat syahadat. Selanjutnya masyarakat akan diajarkan dan dituntun cara berwudhu dengan baik. Selain Grebeg Maulid, terdapat juga Grebeg Syawal yang diselenggarakan saat hari raya Idul Fitri dan Grebeg Besar saat hari raya Idul Adha. Saat perayaan Grebeg dan Sekaten juga terdapat Gunungan. Gunungan ini dimaknai sebagai lambang kemakmuran dan sebagai rasa syukur terhadap Tuhan. Gunungan ini akan dibagikan kepada masyarakat. Penggunaan Grebeg dan Sekaten sebagai media dakwah Islam ini menuai sukses besar dan masyarakat ikut menyukainya.

5  Karomah Beliau

5.1 Menjaga Tongkat Selama 3 Tahun hingga Akhirnya Menjadi Wali

Sunan Bonang yang ketika sedang melakukan perjalanan Dakwah dan bertemu dengan Raden Said, Akhirnya dengan Karomah yang dimiliki Oleh Sunan Bonang menunjukkan kemampuan mengubah Buah Aren menjadi emas,kemudian Raden Said bertaubat dan berusaha menjadi orang yang lebih baik. Raden Said memohon kepada sang pria tua untuk menjadikannya sebagai seorang murid. Mendengar hal itu, Sunan Bonang lantas memberikan Raden Said sebuah "ujian" apabila benar-benar ingin menjadi muridnya. Beliau mengeluarkan dan menancapkan tongkat yang menjadi salah satu karomahnya itu di pinggir kali. Lantas memerintahkan Raden Said menjaga benda tersebut tetap tertancap sampai ia kembali,

Sementara Sunan Bonang pergi meninggalkannya dengan melintasi sungai dengan berjalan di atas air tanpa sedikit pun terkena percikan air, ini merupakan salah satu karomahnya. Sementara Raden Said meneruskan perintah Sunan Bonang untuk menjaga tongkat tersebut di pinggir kali. Beliau yang mulai merasa bosan lantas berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta'ala untuk memintanya tertidur layaknya seorang pemuda di Gua Kahfi saat zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam dahulu.

Doa tersebut diijabah hingga akhirnya Brandal Lokajaya tertidur selam 3 tahun lamanya. Selama itu Sunan Bonang baru kembali. Tiga Tahun terlelap dalam tidurnya, Sunan Bonang membangunkan Brandal Lokajaya dengan cara mengumandangkan azan di sampingnya. Setelah terbangun dari tidurnya, Sunan Bonang mengajak Brandal Lokajaya menuju pesantrennya di wilayah Tuban untuk diajarkan ilmu agama. Akhirnya Raden Said atau Brandal Lokajaya menjadi salah seorang pendakwah seperti gurunya dan terkenal dengan sebutan Sunan Kalijaga. Namanya itu sendiri berarti seorang ulama yang menyebarkan Islam dan pernah menjaga Kali sesuai perintah gurunya Sunan Bonang. Setelah menjadi wali, Sunan Kalijaga pun memiliki beberapa karomah seperti dapat mengubah rupanya hingga konon sempat bertemu Nabi Khidir Alaihissallam.

5.2 Memiliki Ilmu Berubah Wujud

Suatu ketika, di pinggiran hutan yang lebat, tatkala Kanjeng Sunan Kalijaga tengah melakukan perjalanan syiar Islam, ia dicegat oleh segerombolan perampok yang sudah terkenal kekejamannya. Dengan polos wali yang juga dikenal sebagai Syech Malaya ini mengatakan bahwa dirinya tak memiliki harta yang layak. Tetapi pemimpin perampok itu tak mempercayainya. Bahkan dengan garang ia memerintahkan anak buahnya untuk menggeledah.

Mendapat perlakuan yang tidak senonoh, Sunan Kalijaga hanya tersenyum. Ia bertekad untuk memberi pelajaran kepada para perampok itu agar kembali ke jalan yang benar. Manakala mereka mulai mendekat, dengan tenang Kanjeng Sunan Kalijaga mengibaskan kain panjang yang tersampir di pundaknya. Dan apa yang terjadi, tenaga kibasan itu ternyata mampu membuat para perampok porak-poranda. Melihat kejadian itu, Ki Jaghana, sang pemimpin perampok menjadi berang. Ia langsung memasang kuda-kuda dan bersiap-siap menyerang Kanjeng Sunan Kalijaga dengan pedangnya. Dengan gerakan yang garang, ia mulai mendekati sasarannya. Sekali ini, Sunan Kalijaga merapalkan ilmu Malih Rupa. Begitu usai, mendadak tubuh Kanjeng Sunan Kalijaga telah berada tak jauh dari Ki Jaghana. Ki Jaghana semakin bernafsu. Dengan teriakan keras ia langsung menyabetkan pedangnya ke tubuh Sunan Kalijaga. Aneh, Kanjeng Sunan Kalijaga tak menghindar. Ia membiarkan pedang yang demikian tajam itu menghantam tubuhnya.

Melihat kejadian itu, sudah barang tentu membuat para pengikut Ki Jaghana menjadi berang. Dengan ganas salah seorang anak buah Ki Jaghana melabrak. Begitu ia akan melompat, sebuah tangan yang halus telah menahan gerakannya. Tangan Kanjeng Sunan Kalijaga. Belum sempat ia membuka mulut, dengan penuh wibawa Kanjeng Sunan Kalijaga berkata, “Jangan panik, yang diserang hanyalah pohon asam. Bukan aku!”
Ketika anak buah Ki Jagahana ini akan bertanya lebih jauh, terdengar suara lembut Kanjeng Sunan Kalijaga menambahkan, “Jika ingin tahu, pejamkanlah matamu. Lihatlah dengan mata batinmu. Maka engkau akan tahu apa yang terjadi.”

Beberapa anak buah Ki Jaghana pun melakukan apa yang disarankan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Dan apa yang terjadi, mereka melihat, dengan membabi buta Ki Jaghana yang merasa membabatkan pedangnya ke tubuh Sunan Kalijaga itu ternyata hanya menetakkan pedangnya ke batang pohon asam. Karena tubuh yang ditebas tak juga roboh, akhirnya Ki Jaghana kehabisan tenaga. Dan ia menjadi terkejut bercampur malu, tatkala Kanjeng Sunan Kalijaga mulai mencabut ilmunya, ternyata ia hanya menetak sebatang pohon asam. Akhirnya, Ki Jaghana menyerah dan menyatakan taubat serta memeluk agama Islam yang disebarkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.

5.3 Mengubah Tanah jadi Emas

Ki Pandan Arang I yang dalam pemerintahannya cukup cukup merasa sangat menderita dan karana putri kesayangan yang cantik jelita menderita sakit lumpuh. Segala iktiar telah di lakukan , malangnya semua usaha beliau gagal dan tidak ada kemajuan. Putrinya tetap lumpuh. Sehingga beliau mempunyai nadzar , barang siapa dapat menyembuhkan putrinya akan diambil sebagai menantu.Pada suatu hari Sunan Kalijaga memberitahu bahwa di Gunung Gede ada orang yang pandai bernama Ranawijaya berasal dari Majapahit. Atas permintaan Ki Pandan Arang I, Ranawijaya datang ke Kadipaten. Dengan doa khusus beliau mendoakan sang putri. Akhirnya sang Putri dapat di sembuhkan . Akhirnya Ranawijaya diambil sebagai menantu.

Pada saat Ki Pandan Arang I meninggal dunia, Ranawijaya menggantikan dengan gelar Ki Pandan Arang II. Daerahnya maju pesat, rakyatnya makmur termasuk perkembangan agama Islam cukup memuaskan. Namun kemakmuran dan keberhasilan dalam pemerintahannya membuat Ki Pandan Arang II lupa diri, ia jadi congkak, sombong dan kedekut. Ia selalu mengejar harta walaupun sudah melimpah ruah. Mengetahui keadaan semacam itu Sunan Kalijaga datang menyamar sebagai penjual rumput. Dalam kesempatan tawar menawar disisipkan peringatan terhadap perilaku Ki Pandan Arang II yang telah menyimpang dari ajaran agama Islam. Berulang kali Sunan Kalijaga datang memperingatkan namun tak dihiraukan. Akhirnya Sunan Kalijaga menunjukkan kesaktiannya, setiap tanah yang dicangkulnya berubah menjadi sebongkah emas dan diberikan kepada Pandan Arang.

Pandan Arang sangat heran terhadap kesaktian penjual rumput. Setelah diketahui bahwa penjual rumput itu Sunan Kalijaga maka bersujud dan bertaubat. Pandan Arang melepaskan kedudukannya sebagai Adipati ingin berguru kepada Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menyanggupi mengajarkan ilmu di Gunung Jabalkat dengan syarat perjalanan yang di tempuh tidak boleh membawa harta benda. Setelah bulat tekadnya Pandan Arang bersama istrinya meninggalkan Semarang menuju Gunung Jabalkat.

6 Keteladanan Sunan Kalijaga

Dalam usaha menyebarkan dan mengembangkan dakwah Islam di Indonesia, Sunan Kalijaga patut menjadi teladan dalam sikap Positif yang ditunjukkan, antara lain:

6.1 Tekun, Istikamah, dan Toleran

Usia yang panjang bagi Sunan Kalijaga, memberikan waktu luang baginya mengabdikan diri menyebarkan Islam. Penyebaran Islam yang cukup meluas di tangan Sunan Kalijaga dan Wali Songo lainnya, dikarenakan ketekunannya berkeliling dakwah dari satu daerah ke daerah lain dengan pendekatan seni budaya dan kebijaksaannya menyampaikan ajaran Islam dengan cara santun, toleran tanpa paksaan. Kedatangannya menjadi dalang di sejumlah daerah tanpa mengharap upah. Baginya, ucapan dua kalimah syahadat menjadi upah yang tak ternilai harganya.

6.2 Seniman Kreatif

Berbagai peninggalan bersejarah seperti gubahan tembang, karya suluk, rancangan dan lakon wayang kulit, permainan tradisonal formasi alat-alat gamelan, rancangan alat-alat pertanian dan sumbangsih terhadap ketatan negaraan yang baik, merupakan sikap hidup bernilai positif untuk  diteladani. Sosoknya yang menjadi kreator atas perubahan wayang, menuangkan ide-ide guna pengembangan Islam patut menjadi contoh bagi muslim Indonesia untuk terus berinovasi demi kemajuan umat manusia.

Salah satu contoh tembang Sunan Kalijaga yaitu Kidung Rumekso Ing Wengi :

Teguh hayu luputa ing lara
luputa bilahi kabeh
jim setan datan purun
paneluhan tan ana wani
niwah panggawe ala
gunaning wong luput
geni atemahan tirta
maling adoh tan ana ngarah ing mami
guna duduk pan sirno

Tembang dalam bahasa Jawa ini dilantunkan sebagai pengantar tidur bagi seorang bayi yang ada di gendongan, berisi doa permohonan kepada Allah SWT agar dijauhkan dari segala gangguan dan godaan.

Sunan Kalijaga berperan penting dalam membentuk karakter Islam di Jawa, bahkan Nusantara yang lentur, toleran, dan penuh kearifan. Terlepas dari mitos atau legenda yang menyertai, Sunan Kalijaga telah meletakan dasar-dasar kehidupan masyarakat yang harmonis, produktif, dan kreatif. Dari tangan Sunan Kalijaga tumbuh wajah Islam kultural, moderat, lentur, dan menyerap beragam ekspresi budaya lokal. Bukan hanya lakon wayang dan tembang Lir-ilir. Tradisi tahlilan, sulukan, sedekat bumi, hingga arsitektur masjid yang bernuansa Jawa juga kerap dikaitkan dengan spirit dakwahnya.

7 Referensi
    
1.    Buku Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto,
2.    Buku Wali Songo: Rekonstruksi Sejarah yang Disingkirkan, Agus Sunyoto, Jakarta: Transpustaka, 2011
3.    Ajaran Sunan Kalijaga Tentang Hidup, P. Djunaedy, Sidoarjo: Amanah Citra, 2019
4.    Sunan Kalijaga Guru orang Jawa, J. Khaelany, Yogjakarta: Penerbit Araska, 2014
5.    Sunan Kalijaga Mistik dan Makrifat, Achmad Chodjim, Jakarta: PT Serambi Imu Semesta, 2013

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya