Mengucapkan Insya Allah Ketika Khotib Mengucapkan Ittaqullah

 
Mengucapkan Insya Allah Ketika Khotib Mengucapkan Ittaqullah

Mengucapkan Insya Allah Ketika Khotib Mengucapkan Ittaqullah

Pertanyaan :

Apakah hukumnya pernyataan pendengar khotbah dengan mengucapkan Insya Allah, sewaktu khatib menyerukan Ittaqullah?

Jawaban :

Hukumnya boleh. Asalkan tidak bermaksud menggantungkan takwa kepada kehendak Tuhan, karena ta’liq demikian itu berlaku terhadap apa yang akan dikerjakan. Seyogyanya tidak usah menyatakan ta’liq (insya Allah), karena bertobat dan bertakwa itu seharusnya dilaksanakan seketika.

Keterangan, dari kitab:

  1. Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil[1]

وَلاَ تَقُوْلَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا إِلاَّ أَنْ يَشَآءَ اللهُ ... أَيْ مُلْتَبِسًا بِمَشِيْئَتِهِ قَائِلاً إِنْ شَآءَ اللهُ بِمَعْنَى إِنْ يَأْذَنْ لَكَ فِيْهِ وَلاَ يَجُوْزُ تَعْلِيْقُهُ بِفَاعِلٍ  ِلأنَّ اسْتِثْنَاءَ اقْتِرَانِ الْمَشِيْئَةِ بِالْفِعْلِ غَيْرُ سَدِيْدٍ وَاسْتِثْنَاءَ اعْتِرَاضِهَا دُوْنَهُ لاَ يُنَاسِبُ النَّهْيَ

Imam Baidhawi dalam menafsirkan firman Allah (surat al-Kahfi: 23) “Dan jangan sekali-kali kamu menyatakan saya akan melakukan hal tersebut besok, (tanpa menyatakan) kecuali jika Allah menghendaki”, yakni bahwa ia harus melibatkan kehendak Allah dalam arti: “Jika memang Allah menghendaki Anda melakukan hal tersebut”. Dan tidak diperbolehkan mengaitkan suatu tindakan kepada pelaku (saja). Sebab, mengecualikan (tidak memperhatikan) kebersamaan kehendak Allah dengan suatu tindakan (manusia) itu tidak benar, dan pengecualian (tidak memperhatikan) dengan menampakkan kehendak Allah tanpa (memperhatikan) tindakan manusia itu tidak sesuai dengan larangan (dalam ayat tersebut).

[1]   Nasiruddin al-Baidhawi, Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil, (Mesir: Mathba’ah Musthafa al-Halabi, 1358/1939), Cet. Ke-1, Jilid II, h. 7.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 12

KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-1

Di Surabaya Pada Tanggal 13 Rabiuts Tsani 1345 H. / 21 Oktober 1926 M.