Biografi Hadhratussyaikh KH. M. Utsman bin Nadi Al-Ishaqi

 
Biografi Hadhratussyaikh KH. M. Utsman bin Nadi Al-Ishaqi

Daftar Isi Profil Hadhratussyaikh KH. M. Utsman bin Nadi Al-Ishaqi

  1. Kelahiran
  2. Nasab
  3. Wafat
  4. Pendidikan
  5. Mendirikan Pesantren
  6. Menjadi Mursyid Thariqat
  7. Penggagas Haul dan Manaqiban
  8. Karomah

Kelahiran

Hadhratussyaikh KH. M. Utsman al-Ishaqi dilahirkan di Jatipurwo Surabaya pada hari Rabu bulan Jumadil Akhir tahun 1334 H sekitar tahun 1915 M.

Nasab

Menurut nasab yang sudah tersusun rapi di dalam keluarga, Hadhratussyaikh KH. Utsman al-Ishaqi adalah seorang sayyid dan seorang habib. Sebab beliau dari jalur ibu adalah keturunan Maulana Muhammad Ainul Yaqin atau yang biasa disebut sebagai Sunan Giri bin Maulana Ishaq al-Husaini. Sedangkan ayah beliau adalah keturunan Sunan Gunung Jati yang juga bermarga al-Husaini. Dengan demikian Hadhratus Syaikh KH. M. Utsman al-Ishaqi adalah anak cucu Rasulullah Saw. dengan urutan yang ke-37.

Nasab beliau adalah Muhammad Utsman bin Surati bin Abdullah bin Mbah Deso bin Mbah Jarangan bin Ki Ageng Mas bin Ki Panembahan Bagus bin Ki Ageng Pangeran Sedeng Rana bin Panembahan Agung Sido Mergi bin Pangeran Kawis Guo bin Fadhlullah Sido Sunan Prapen bin Ali Sumodiro bin Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri bin  Maulana Ishaq bin Ibrahim al-Akbar bin  Ali Nurul Alam bin Barokat Zainul Alam bin Jamaluddin al-Akbar al-Husain bin Ahmad Syah Jalalul Amri bin Abdullah Khan bin  Abdul Malik bin  Alawi bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Kholi’ Qasam bin Alawi bin Muhammad bin  Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa an-Naqib ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Uraidli bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib/Fathimah binti Rasulullah Saw.

Wafat

Hadhratussyaikh KH. M. Utsman al-Ishaqi wafat di Rumah Sakit Islam Surabaya pada saat Tarhim Shubuh di hari Ahad tanggal 8 Januari tahun 1984 Masehi yang bertepatan dengan tanggal 5 Robi’uts Tsani tahun 1404 Hijriyah dan dimakamkan di Pondok Sepuh, di Jatipurwo VII/15 Kelurahan Ujung Kecamatan Semampir.

Pendidikan

Pada suatu hari Hadhratussyaikh sampai larut malam tidak pulang dari madrasah seperti biasanya pada jam 10.00 pagi, sehingga orang-orang tua mengkhawatirkan keadaannya. Maka Imam Raudhah Kiai Nur, atas izin orang tua beliau, berangkat mencari Kiai Utsman, dan oleh karena diberitakan bahwa Hadhratussyaikh berada di pondok Kiai Khozin Panji, maka Kiai Nur pun berangkat ke sana. Tetapi sesampai Kiai Nur di Siwalan Panji, Hadhratussyaikh sudah pindah ke pondok Kiai Munir Jambu Madura. Setelah orang tua beliau mendengar kabar yang demikian itu, beliau mengatakan: “Tidak usah mencari Utsman, yang penting dia sehat.”

Setelah beberapa lama tinggal di pondok, beliau sakit keras, maka terpaksa beliau pulang ke rumah. Setelah berobat beliau akhirnya sembuh kembali. Kemudian Hadhratus Syaikh dipondokkan ke Hadhratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng.

Selanjutnya beliau dipondokkan ke Kiai Romli Peterongan Jombang. Pada waktu itu Hadhratussyaikh benar-benar terikat, beliau mengatakan: “Sewaktu saya dikirim oleh orang tua saya ke pondok, sarung saya hanya satu lembar. Apabila najis maka saya memakai tikar sebagai gantinya untuk shalat. Dan selama saya di pondok, saya tidak pernah pulang ke rumah kecuali badan saya sudah kurus benar. Sebab apabila saya pulang dan badan saya gemuk, saya dimarahi oleh orang tua dan nenek. Pernah pada suatu hari saya pulang badan saya gemuk, spontan nenek saya mengatakan: “Kalau kamu tinggal di pondok hanya untuk makan dan minum, lebih baik tinggal di rumah saja!”

Suatu hari saat kepulangan Hadhratussyaikh dari pondok, beliau menyaksikan adanya hubungan-hubungan khusus yang diselenggarakan oleh tujuh orang pemuda dan tujuh orang pemudi setiap hari di samping musholla depan rumah beliau.

Melihat hal yang tidak senonoh itu, akhirnya beliau adukan kepada Kiai Romli dengan mengatakan: “Kiai, saya melihat ada mutiara di dalam air yang keruh dan najis, apakah saya harus mengentasnya (menyelamatkanya)?”

Kiai Romli menjawab: “Entaslah wahai Utsman! Dengan syarat hatimu tidak berpaling kepadanya. Kalau hatimu berpaling kepadanya, maka kamu tidak akan berjumpa denganku besok di Mahsyar.”

Maka beliaupun mengumpulkan pemuda dan pemudi yang berjumlah 14 orang itu di rumah beliau setiap malam. Beliau ikuti pembicaraan-pembicaraan mereka yang intim itu sambil beliau masuki urusan keagamaan mereka. Dan beliau peringatkan kepada mereka akan siksa Allah Swt. Sampai akhirnya mereka pun bertaubat dengan taubat nasuha..

Kiai Utsman pernah diadukan oleh seorang ulama kepada Kiai Romli karena beliau diketahui telah mengadu ayam. Mendengar pengaduan itu Kiai Romli menjawab: “Saya tidak berani melarangnya dan Kiai tidak usah menirunya mengadu ayam.”

Mendirikan Pesantren

Ponpes Darul Ubudiyah Raudlatul Muta'allimin didirikan KH. Muhammad Usman Al-Ishaqi pada tahun 1957. Saat itu hanya 15 santri yang merupakan warga kampung sekitar. Baru pada tahun 1963 dengan menempati empat kamar, santri pondok bertambah menjadi 70 orang.

"Belasan santri itu oleh Kiai Usman diajari ilmu fikih dengan kitab Sulam Safinah sebagai bekal untuk menjalankan ubudiyah, termasuk rukun maupun wajibnya shalat," kata Kiai Minnanurrochman, putra ketiga almarhum KH Muhammad Usman.

Semasa hidupnya, Kiai Usman amat dekat dengan semua lapisan masyarakat. Hal itu tak lain karena sikap dan perilakunya yang luwes dan supel kepada semua orang, termasuk orang-orang China dan non-Muslim. Sikapnya yang santun dan menjaga perasaan orang lain membuat Kiai Usman disegani masyarakat, termasuk mereka-mereka yang suka minum minuman keras.

Menjadi Mursyid Thariqat

Kawan dekat Hadhratussyaikh yang bernama KH. Hasyim Bawean pernah bercerita: “Hadhratus Syaikh dibaiat oleh Kiai Romli pada hari Rabu tanggal 16 Sya’ban tahun 1361 H/1941 M. Setelah beliau dibaiat selama satu minggu beliau menyusun silsilah Thariqat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah atas perintah Kiai Romli yang diberi nama Tsamrat al-Fikriyyah.”

Hadhratussyaikh mengatakan: “Saya dibaiat oleh Kiai Romli atas permintaan Kiai Romli sendiri. Pada waktu itu saya dimasukkan ke kamar Kiai dan didudukkan di atas Burdah yang putih bersih di atas tempat tidur Kiai dan dipinjami Tasbih. Padahal waktu itu kaki saya berlumpur karena hujan. Karena sudah menjadi tradisi, setiap kali saya masuk ke rumah Kiai, kaki saya pasti telanjang tanpa alas kaki. Dengan demikian sebelum saya jadi Murid saya adalah Murad dan sebelum saya menjadi Thalib saya adalah Mathlub.”

Dalam kesempatan lain Hadhratussyaikh mengatakan akan menghadiri majelis khusus atau wirid khataman selama 4 tahun. “Saya terus menerus berjalan kaki memakai klompen dari Surabaya ke Paterongan. Barulah kadang-kadang saya naik kendaraan setelah ketahuan KH. Hasyim Asy’ari di Mojoagung dan beliau mengatakan: “Jangan jalan kaki terus-menerus Utsman!”

Selanjutnya Kiai Hasyim Bawean mengatakan: “Sewaktu terjadi Perang Dunia II tahun 1942 M Hadhratussyaikh sekeluarga pindah sementara ke Peterongan. Kalau siang hari berada di dalam pondok. Pada suatu hari, yakni hari Selasa, beliau disuruh menghadap Kiai Romli pada jam 2.00 malam untuk diangkat menjadi mursyid Thariqat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah”. Hadhratus Syaikh waktu itu mengatakan: “Tidak kuat Kiai.” Tetapi Kiai Romli tetap melaksanakan perintah Allah, kemudian mengusapkan tangannya di atas kepala Kiai Utsman. Seketika itu pula Hadhratus Syaikh jatuh pingsan tak sadarkan diri dan langsung jadzab.

Selama satu minggu Hadhratussyaikh mengalami jadzab, beliau tidak makan, tidak minum, tidak tidur, tidak buang air besar maupun kecil dan tidak shalat.

Setelah Hadhratusiyaikh mengalami jadzab satu minggu, beliau berkata kepada Kyai Hasyim Bawean: “Nanti malam akan datang tamu-tamu banyak sekali tidak perlu suguhan makanan atau minuman.” Maka pada jam 8.00 kurang sepuluh menit malam Hadhratussyaikh sudah siap menerima para tamu di kamar, dan menghadap ke pintu. Tidak lama kemudian beliau mengucapkan: “Wa’alaikumussalam, Wa’alaikumussalam”,selama kurang lebih lima menit dan nampak seakan-akan Hadhratus Syaikh menjabat tangan orang-orang sambil menundukkan kepala.

Kemudian beliau mengatakan: “Mulai hari ini saya ditetapkan sebagai mursyid langsung oleh Syaikh Abdul Qodir al-Jailani Ra. dan Nabiyullah Khidhir As. serta oleh sejumlah masyayikh Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dan sejak sekarang saya diizinkan untuk membaiat”, sambil menyerahkan sepucuk kertas kepada Kyai Hasyim Bawean.

Kemudian Hadhratussyaikh menghadap ke barat sekali lagi dan mengucapkan: “Na’am, na’am.” Tepat pada jam 8.00 lebih 5 menit malam itu, Hadhratussyaikh berdiri menuju ke pintu. Setelah diam sejenak, beliau mengucapkan: “Wa’alaikumussalam, wa’alaikumussalam.”

Kemudian oleh Kiai Hasyim, Hadhratussyaikh disuruh mandi setelah satu minggu tidak mandi. Dan ketika itulah Kiai Hasyim cepat-cepat pergi ke Kiai Romli untuk mengantarkan sepucuk kertas tadi. Setelah menerima kertas itu, Kiai Romli spontan menemuinya di luar rumah seraya mengatakan: “Ada apa? Ada apa? Ada apa?”

Ketika Kiai Romli membaca sepucuk kertas itu spontan Kyai mengatakan dengan bahasa Madura yang maksudnya: “Alhamdulillah sekarang saya punya anak yang bisa menggantikan saya (sampai 3 kali).”

Orang tua Kiai Utsman juga pernah menyatakan kepada salah seorang habib bahwa Hadhratussyaikh telah mendapatkan ijazah dari Syaikh Abdul Qodir al-Jailani Ra., untuk berdakwah dan diangkat sebagai khalifahnya tanpa perantara. Pernyataan ini disampaikan pada tahun 1947 M.

Penggagas Haul dan Manaqiban

“Habib Utsman Surabaya,” begitu Habib Ali Bungur menyebut kepada kiai yang kita kenal dengan KH. M. Utsman bin Nadi al-Ishaqi Jatipurwo Surabaya. Yang merupakan murid kesayangan dari Syaikhona Kholil, Hadhratus Syaikh Hasyim Asy’ari dan Mbah Romli Tamim. Semua tokoh besar ulama dan habaib waktu itu pasti mengenalnya, menyayanginya dan mengakui kewalian dan keulamaannya.

Di Jombang, saat mudanya, beliau sudah dikenal sebagai “Singa Podium”. Melanglang buana dari podium ke podium untuk memberikan ceramah. Pernah suatu hari ia diundang untuk berceramah di Jombang. Tiba-tiba di tengah ceramahnya sang guru datang, Mbah Romli Tamim. Demi menjaga adabnya terhadap guru, seketika ceramah dirubahnya menjadi pertunjukan dalang. Mendalang dipilihnya karena itu yang tidak bisa dilakukan sang guru.

Setelah sekian lama memberikan ceramah kesana kemari, ia merasa kurang mengena manfaatnya di khalayak. Akhirnya digagaslah kegiatan “Manaqiban” sebagaimana yang ramai dan kita kenal saat ini. Beliaulah penggagasnya, dan Haul.

Karomah

Semenjak kecil keistimewaan dan kekeramatan beliau sudah nampak tatkala Utsman kecil sudah bisa berjalan. Beliau selalu tidak ada di rumah setelah Maghrib, dan baru pulang setelah jam 11 malam dengan badan yang penuh berlumuran lumpur. Kejadian itu menjadi pertanyaan sendiri oleh keluarga. Setelah diselidiki, ternyata beliau berada di sungai didekap oleh seekor Buaya Putih.

Setiap malamnya Utsman kecil selalu tidur di surau (langgar) bersama sang kakek, Kiai Abdullah. Selain kakeknya, tak ada seorangpun yang berani mendampingi Utsman kecil tidur. Karena dari kedua mata Utsman memancarkan sinar yang terang seakan menembus Iangit bagaikan lampu sorot.

Sejak beliau berumur 4 tahun setiap pagi pada jam 3.00 waktu Istiwa’, beliau keluar rumah menuju Masjid Jami’ Ampel Surabaya dengan diantar oleh kakak perempuan beliau yang bernama Nyai Khadijah untuk membaca Tarhim (panggilan shalat Fajar) sampai datang waktu Shubuh di menara Masjid.

“Setiap kali beliau sampai di pintu gerbang Ampel, beliau selalu disambut banyak anak-anak kecil yang memakai kopyah berwarna putih-putih. Sesampainya di masjid anak-anak kecil tersebut hilang entah ke mana dan baru muncul kembali sewaktu beliau hendak pulang dari masjid pada jam 7.00 pagi untuk mengantarkan beliau ke pintu gerbang. Dan setelah itu mereka menghilang kembali.” Ungkap Nyai Khadijah dan Kiai Anwar.

Ketika beliau berumur 6 atau 7 tahun, pada suatu malam nampak sang rembulan atau bintang-gemintang turun dari langit seraya memancarkan sinarnya menuju Utsman kecil, dan mengitari beliau dari segala arah.

Di umur 7 tahun, beliau sudah mengkhatamkan al-Quran sebanyak 3 kali di bawah asuhan sang kakek, Kiai Abdullah. Kemudian di suia itu beliau dikhitan (sunat). Setelah itu barulah beliau berpindah mengaji kepada Kiai Adro’i Nyamplungan.

Semenjak mengaji kepada Kiai Adro’i, setiap beliau pulang dari Ampel, diteruskan menuju ke Nyamplungan untuk mengaji al-Quran. Setelah itu beliau menuju ke Madrasah Tashwirul Afkar di Gubbah untuk mengaji ilmu agama. Dan baru pulang setelah jam 10.00 pagi. Seharinya beliau hanya mendapatkan sangu (uang saku) sebesar 5 Sen yang berlobang tengahnya yang beliau tempelkan di kancing baju.

Pernah selama 4 tahun, Utsman kecil tidak memakan makanan kecuali hanya daun-daunan dan buah-buahan. Pada waktu itu beliau menentukan untuk kebutuhan belanjanya hanya 1/2 Sen perhari. Beliau mengatakan: “Pada waktu saya masih kecil, suatu hari saya bernafsu sekali ingin makan. Maka sayapun makan sekenyang-kenyangnya. Tetapi sebagai dendanya saya harus mengkhatamkan al-Quran sekali duduk.”

Dan beliau juga menceritakan: “Pada suatu hari saya menangisi diri saya sendiri, karena ketika saya shalat teringat layang-layang, padahal saya sudah berumur 12 tahun. Berarti 3 tahun lagi saya sudah baligh dan mukallaf, bagaimana kalau saya masih ingat pada layang-layang pada waktu sholat?!”

KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi (salah satu putra Kiai Utsman) menceritakan, ketika ayahanda berusia 13 tahun mempunyai kemampuan melihat Ka’bah secara nyata dari rumahnya Jatipurwo Surabaya. Beliau menganggap apa yang dilihatnya merupakan mimpi, tapi setelah berkali-kali matanya diusap, bahwa apa yang dia lihat bukan sekedar mimpi, akan tetapi benar-benar terjadi dan yang tampak hanyalah Ka’bah di Makkah. Kemudian Kiai Utsman minta dibelikan kaca mata, beliau mengira bahwa matanya sudah rusak. Setelah dibelikan dan dipakai, ternyata hasilnya sama saja.

Menurut Kiai Asrori, itulah awal kasyaf yang dialami ayahandanya dan sejak saat itu Kiyai Utsman bisa melihat orang dengan segala kepribadiannya. Ada yang menyerupai serigala, ada yang seperti ayam dan kucing tergantung pembawaan nafsu masing-masing. Akan tetapi Kiai Utsman tidak berani mengatakan terus terang, karena hal itu menyangkut kerahasiaan seseorang.

Kiai Muhammad Faqih Langitan Tuban pernah mengatakan bahwa Kiai Zubair Sarang Rembang bermimpi ketemu Rasulullah Saw. sedang menemui 2 orang laki-laki dan Rasulullah Saw. menyatakan kepada Kiyai Zubair: “Keluargaku banyak tersebar di tanah Jawa diantaranya ialah Romli dan Utsman”.

Salah seorang sopir Kiai Utsman pernah mengatakan, dalam perjalanan dari Rejoso menuju Surabaya, tiba-tiba mobil yang dikendarai Kiai Utsman bensinnya habis padahal seluruh uang sakunya telah diserahkan ke pondok. Kemudian Kiai memerintahkan kepada sopirnya: “Begini saja, tangki mobil diisi dengan air teh tanpa gula secukupnya.”

Karena sopir itu percaya dengan kiai, maka perintah itu dilaksanakan dengan sepenuh hati. Kemudian Kiai Utsman menanyakan: “Sudah kau isi bensin?”

“Mobil kami isi dengan teh sesuai dawuh Kiai,” jawab sopir.

Kiai Utsman pun segera mengajak pulang ke Surabaya. Dan atas izin Allah Swt, mobil itu bisa berjalan sampai ke Surabaya dengan bahan bakar teh.

Takluknya Sang Pengadu Ayam Kawakan di Hadapan Kiai Utsman

Pada waktu Kiai Utsman tinggal di Rejoso, ada seorang tukang adu ayam kawakan yang sangat populer di Jombang bernama Wak Sud. Dia memiliki jago-jago yang khusus untuk diadu. Hadhratussyaikh tertarik untuk menundukkan orang ini melalui adu ayam. Maka beliau membawa ayam ke Wak Sud dengan maksud untuk mengajak bertanding adu ayam.

Atas ajakan Kyai Utsman itu Wak Sud menjawab: “Apabila jagomu menang melawan jagoku maka semua kekayaanku adalah milikmu. Sebaliknya apabila jagomu kalah saya tidak menuntut apa-apa darimu.”

Maka Hadhratussyaikh menjawab: “Apabila jagomu menang kemudian kau ambil kekayaanku, memang saya tidak mempunyai sesuatu yang patut disebut. Dan apabila sebaliknya jagoku yang menang maka saya sama sekali tidak butuh kepada kekayaanmu. Pokoknya begini, apabila jagoku menang kamu harus tunduk dan patuh di bawah perintahku.” Akhirnya Wak Sud menyetujui tawaran itu.

Dengan kuasaan Allah Swt., menanglah Hadhratussyaikh dalam pertandingan itu sekalipun jago miliknya kurus kecil dan lemah sekali. Berbeda jauh dengan jago kepunyaan Wak Sud yang kekar dan gagah itu. Alhasil Wak Sud pun harus menerima kesepakatan bersama setelah kekalahannya. Kini ia tunduk dan patuh pada Hadhratus Syaikh KH. Utsman.

Maka saat Kyai Romli melihat Wak Sud melakukan shalat, Kyai Romli memegang pundak Kyai Utsman dari belakang seraya mengatakan dengan nada heran: “Apa yang kamu lakukan terhadap Wak Sud wahai Utsman, sehingga dia mendatangi shalat Jum’at. Padahal saya tidak mampu menundukkannya?”

Pindahnya dari Jombang ke Ngawi dan Berpulang ke Surabaya

Di Peterongan, Hadhratus Syaikh tinggal di Desa Ngelunggih tidak jauh dari Rejoso atas saran Kiai Romli dengan maksud agar beliau menjadi imam di Ngelunggih. Akibatnya murid-murid Kiai Romli banyak yang pindah ke Ngelunggih untuk mendapatkan barokah dari Kiai Utsman serta ilmu dari beliau. Akhirnya Hadhratus Syaikh disuruh pindah oleh Kyai Romli ke salah satu desa dekat Gunung Lawu di Ngawi.

Ketika Hadhratus Syaikh sampai di lereng Gunung Lawu, sangu (bekal) beliau tinggal Rp. 1.70 (satu rupiah tujuh puluh sen) tidak cukup untuk membeli beras 1 liter sekalipun. Maka untuk mendapatkan rizki, beliau setiap harinya mengunjungi pesarean (ziarah kubur) yang paling dikenal oleh orang di desa itu. Karena beliau cinta dan hobi melakukan ziarah kubur, akhirnya atas kemurahan Allah Swt. beliau sekeluarga mendapatkan rizki yang tidak diduga-duga sebelumnya.

Diantara orang kampung ada yang mengundang beliau untuk mengikuti tahlilan, adapula yang minta barokah doa, ada yang meminta fatwa, sampai akhirnya Hadhratussyaikh menjadi populer di desa itu dan kemudian menjadi imam di desa itu.

Di desa barunya itu, suatu hari beliau bermimpi berjumpa dengan gurunya, Hadhratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng, berpamitan kepada beliau dengan mengatakan: “Saya duluan Utsman.” Mimpinya tersebut ternyata sebuah isyarat akan berpulangnya sang guru ke rahmatullah. Karena esok harinya beliau mendengar berita bahwa KH. Hasyim Asy’ari meninggal dunia.

Menjelang meletusnya Madiun Effer (peristiwa Madiun pada tahun 1948 M) Kiai Utsman berkali-kali menerima surat serta saran agar beliau pulang saja ke Surabaya karena situasi yang tidak aman lagi di daerah itu.

Mendengar kabar pulangnya Hadhratus Syaikh KH. Utsman ini, sebagian besar penduduk di lereng Gunung Lawu itu keberatan ditinggalkan oleh beliau. Karena mereka masih amat memerlukan doa, ilmu serta barokah dari beliau. Bahkan ada warga yang berjanji memberikan 20 hektar kebun kepada Hadhratussyaikh agar beliau sudi tetap tinggal di desa itu. Tetapi setelah beliau melakukan istikharah akhirnya beliau menetapkan kembali ke Surabaya.

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya