Biografi KH. M. Anwar Manshur Lirboyo

 
Biografi KH. M. Anwar Manshur Lirboyo

Daftar Isi

1          Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1       Lahir
1.2       Riwayat Keluarga 

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1       Mengembara Menuntut Ilmu
2.2      Guru-Guru Beliau
2.3      Mendirikan dan Mengasuh Pesantren 

3          Penerus Beliau
3.1       Putera dan puteri Beliau
3.2       Murid-murid Beliau

4          Karier 
4.1.      Pengasuh Pesantren 
4.2.      Ketua Yayasan IAIT 
4.3       Rais Suriyah PWNU dan Mutasyar PBNU

5          Teladan Beliau 

6          Referensi


1          Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1       Lahir

 KH. M. Anwar Manshur atau yang kerap disapa dengan panggilan Mbah War lahir di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo. Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Manshur Jombang dengan Nyai Salamah, putri ketiga pendiri Pesantren Lirboyo KH. Abdul Karim.

1.2       Riwayat Keluarga

 KH. M. Anwar Manshur melepas masa lajangnya dengan menikahi Nyai. Umi Kulsum, putri dari KH. Mahrus Aly. Buah dari pernikahannya, beliau dikaruniai delapan orang anak. Tiga anak laki-laki dan lima anak perempuan.

Di tengah perjalanan rumah tangganya yang harmonis, KH. Anwar Mansur ditinggal wafat oleh istri tercintanya. Setelah istri pertamanya meninggal dunia, KH. M. Anwar Manshur menikah dengan Nyai Husnah binti KH. Ahyat.

Namun, manusia hanyalah makhluk ciptaan Allah dan pasti akan kembali kepadanya, Nyai Husnah istri kedua beliau juga meninggal dunia.

Di tinggal oleh kedua istrinya,  KH. M. Anwar Manshur menikah untuk ketiga kalinya dengan Nyai Mahfudzotin dari Pondok Pesantren Peterongan Jombang. Dari pernikahannya yang terakhir, KH. Anwar Mansur hanya di karuniai seorang anak perempuan.

2          Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau


2.1       Mengembara Menuntut Ilmu

Sejak kecil,  KH. M. Anwar Manshur diasuh di Lirboyo. Riwayat pendidikannya dimulai dengan menimba ilmu di Pondok Pesantren Pacul Gowang Jombang (pondok ayahnya sendiri). setelah itu, menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng sampai tingkat tsanawiyah dan untuk selanjutnya meneruskan pendidikannya ke Pesantren Lirboyo, kota Kediri.

2.2      Guru-Guru Beliau

  1.  KH. Abdul Karim
  2.  KH. Marzuqi Dahlan
  3.  KH. Mahrus Aly
  4.  KH. Hasyim Asy'ari


2.3      Mendirikan dan Mengasuh Pesantren 

Sering berjalannya waktu, Lirboyo semakin dikenal masyarakat luas dan bertambah banyak santri yang berdatangan dari berbagai penjuru nusantara. Bukan hanya santri putra saja yang ingin menimba ilmu di Lirboyo, banyak dari kalangan santri putri pun ingin belajar di sana.

Pada akhirnya  KH. M. Anwar Manshur mendirikan pondok pesantren baru yang diberi nama Pesantren Hidayatul Mubtadiat khusus santri putri yang didirikan pada tanggal 1 muharram 1406 H/15 September 1985 M.

Sebenarnya gagasan ini muncul dari inisiatif KH. Mahrus Aly yang menyuruh beliau untuk mendirikan pondok putri. karena atas dasar perintah KH. Mahrus Aly, beliaupun Menjalankannya.

Di era Masyarakat Ekonomi Asia (MEA), Sistem pendidikan terus berkembang mengikuti semangat zamannya. mulai dari kurikulum, fasilitas mewah dan alat teknologi canggih yang dapat menunjang proses belajar mengajar.

Demikian pula yang terjadi pada sebagian pondok pesantren salafiyah, saat ini banyak mengalami perubahan-perubahan baik dalam sistem pendidikan maupun kurikulumnya.

Dahulu pondok pesantren kebanyakan menggunakan sistem bandongan dan hanya menjadikan kitab kuning sebagai kurikulum pendidikan. kini sudah banyak sebagian pesantren yang mengembangkan lembaganya dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi serta menambahkan pelajaran umum sebagai kurikulumnya.

Hal itu tidak berlaku bagi sebagian pesantren yang masih berpegang teguh dan konsisten pada pendidikan salaf. Salah satunya Pondok Pesantren Lirboyo (Induk) yang di asuh oleh  KH. M. Anwar Manshur.

Beliau tetap mempertahankan dan menjaga orisinitas pendidikan salaf yang telah digariskan oleh sesepuh Lirboyo. Bahkan  KH. M. Anwar Manshur sendiri tidak berani dan takut untuk merubahnya. karena dalam mengembangkan pendidikan pondok pesantren, KH. M. Anwar Manshur mempunyai prinsip "Melestarikan Pendidikan lama yang baik dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik".  

Keorisinilan itu, dibuktikan ketika ada tawaran dari kementrian Agama (KEMENAG) untuk menambahkan kurikulum pelajaran umum sebagai syarat Pesantren Lirboyo bisa diakui secara formal. Akan tetapi,  KH. M. Anwar Manshur tetap berpegang teguh terhadap pendidikan salaf yang telah diwariskan oleh sesepuh Lirboyo. Bukan hanya sistemnya yang masih terjaga.

Beberapa insfrastrukturpun peninggalan sesepuh yang dibuat untuk sarana ibadah dan tempat belajar para santri masih nampak di ponpes ini. seperti langgar angkring, pondok lama dan gerbang lama. karena Mbah Manab, sapaan akrabnya KH. Abdul karim ketika merintis pondok itu bukan hanya membangun secara fisik saja tapi disertai dengan riyadhah (usaha batin).

3          Penerus Beliau

3.1.     Putera dan puteri Beliau

   Pernikahan beliau dengan Nyai. Umi Kulsum dikaruniai tiga putera dan lima puteri. Pernikahan beliau dengan Nyai Mahfudzotin dikaruniai satu                puteri.

3.2.     Murid-murid Beliau       

        Santri dan Mahasantri di pesantren Lirboyo 

4          Karier 

4.1.    Pengasuh Pesantren

Ditengah kesibukannya dalam mengurus santri-santrinya dan anak-anaknya,  KH. M. Anwar Manshur juga aktif dalam berbagai organisasi.
 

4.2.   Ketua Yayasan IAIT Kediri

Menjadi ketua yayasan perguruan Tinggi Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri

4.3     Rais syuriah PWNU dan Mutasyar PBNU

KH. M. Anwar Manshur aktif sebagai rais syuriah PWNU Jawa Timur,dan sekarang juga tercatat sebagai salah satu mustasyar PBNU periode                  2015-2020.

5          Teladan Beliau 

Sebagai salah satu pengasuh Pesantren Lirboyo,  KH. M. Anwar Manshur sangat perhatian dan telaten kepada santri-santrinya baik putra maupun putri. sering kali  KH. M. Anwar Manshur menasehati para santrinya agar rajin dalam belajar dan tekun dalam beribadah untuk senantiasa mensucikan hati dan pikiran agar ilmu yang sedang di pelajari mudah di terima. kemudian dalam mendidik santrinya beliau lebih menekankan akhlak.

Santri itu harus mempunyai akhlak yang baik, terpuji dan berbudi luhur karena itu cerminan santri sejati dan seorang santripun harus bisa membaca al-Qur'an, sekarang ini banyak sekali santri lulusan pesantren yang tidak bisa membaca al-Qur'an. Selain itu,  KH. M. Anwar Manshur juga menanamkan dasar aqidah yang kuat dalam rangka membentengi diri dari berbagai macam aliran-aliran islam yang menyimpang.

Dalam hubungannya dengan masyarakat dapat dibilang terjalin baik,  KH. M. Anwar Manshur tak jarang menghadiri acara ketika di undang oleh tetangga ataupun masyarakat sekitar. Karena selain pengasuh pondok juga sebagai tokoh masyarakat yang memang seharusnya menjadi sosok teladan bagi mereka.

 KH. M. Anwar Manshur adalah sosok kiai sepuh yang amanah dalam menjalankan pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo.  KH. M. Anwar Manshur terus berjuang mengembangkan pondok agar bisa bertahan meskipun dengn model pendidikan salafnya. Di mata keluarga,  KH. M. Anwar Manshur adalah seorang teladan bagi anak-anaknya yang istiqomah dalam beribadah dan mengajar.

Selain itu,  KH. M. Anwar Manshur juga suka bersilaturrahmi, karena meniru kebiasaan baik yang sering dilakukan oleh KH. Marzuki dan KH. Mahrus Aly.

Sebagai seorang ayah  KH. M. Anwar Manshur sering berpesan pada putra putri nya untuk mengarahkan pendidikan anak-anaknya itu di pondok pesantren. Jika anak di didik di pesantren pasti memiliki nilai lebih entah dari sisi ahklak dan akhidah dan itu yang terpenting.

Karena melihat realita, situasi dan kondisi lingkungan masyarkat sekarang ini tidak sehat. Maka dari itu, pesantren adalah salah satu tempat pendidikan agama untuk menyelamatkan generasi muda dari pengaruh zaman dan pergaulan bebas yang dapat menghancurkan masa depan anak-anak bangsa.

Tauladan lain yang bisa kita tiru adalah ketika  KH. M. Anwar Manshur menjadi Khotib Jum'at, beliau selalu hadir lebih awal dan pulang akhir. Pada umumnya Setiap Imam Dan Khotib jumat itu datangnya lebih akhir (10/5 menit sebelum adzan pertama) dan pulang agak terakhir (cukup baca surat al Fatihah, al Ikhlas, al Mu'awidzatain masing-masing tiga kali, sholat sunnah 2 rokaat).

Berbeda dengan  KH. M. Anwar Manshur, walaupun beliau sebagai Khotib dan imam Sholat Jumat bertahun-tahun. Beliau selalu datang lebih awal, kira-kira jam 11.00 atau jam 11.30 WIB Beliau sudah berada di masjid. Diantara yang beliau amalkan saat datang di masjid yaitu:

1. Sholat Sunnah 4 rokaat

2. Membaca Sholawat Nariyah

3. Membaca Sholawat صلى الله على محمد kira-kira 5000 x sampai adzan pertama.

Setelah sholat jumat beliau membaca aurad ba'dal Jumat lengkap:

سورة الفاتحة ٧ ×، سورة الإخلاص ٧×،سورة الفلق ٧×،سورة الناس ٧×

إلهي لست الفردوس اهلا...... ٣×

الدعاء

مولاي صل وسلم.... ٣×

نرد بك الأعداء من كل وجهة ٣×

صلى الله ربنا على النور المبين ٣×

الفاتحة

Setelah itu sholat sunnah Ba'diyah Jumat. Setelah sholat sunnah Ba'diyah jumat Beliau kemudian Membaca Istighotsah/Tahlil di Maqbaroh Mbah Yai

Adul Karim sekeluarga, baru sekitar jam 13.30 Beliau pulang ke rumah.

Mudah-mudahan kita bisa meneladani akhlak Beliau, mencontoh ke istiqomahan Beliau. Amin.

Untuk  KH. M. Anwar Manshur semoga tetap dalam keadaan yang sehat wal ‘afiyat dan panjang umur. Al Fatihah.

6         Referensi

                 https://lirboyo.net/

 

Lokasi Terkait Beliau

List Lokasi Lainnya