DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.

50rb
100rb
Rp

Sosial Budaya

 

Membaca Kembali KH. A. Wahid Hasyim, "Mengapa Saya Memilih Nahdlatul Ulama?"

Ia justru melihat kekurangan NU pada saat itu 1953 (lambat, minim akademisi, tuntutan agama ketat) sebagai kelebihan yakni mentalitas yang kokoh, organisasi rapi, dan hasil nyata di lapangan.

Kapan Pertama Kali Naik Haji dari Indonesia dengan Pesawat?

Dengan layanan penerbangan modern dan sistem digitalisasi haji yang canggih, kita nyaris lupa bahwa perjalanan ini dulu dimulai dari kapal kayu dan pelabuhan-pelabuhan yang penuh harap. Namun sejarah mencatat, dari laut hingga angkasa, semangat umat Islam Indonesia untuk menunaikan rukun Islam kelima tak pernah surut.

Sejarah Mencatat Kelayakan Santri Menjadi Pemimpin Nasional

KH. Abdurahman Wahid sebagai presiden keempat juga berusaha menggabungkan kekuatan budaya dan agama. Beliau secara intelektual menggelorakan pribumisasi Islam dan secara sosial keagamaan adalah seorang kyai, yang juga seorang ulama dalam arti sebenarnya.

Peristiwa Bersejarah di Bulan Syawal yang Perlu Diketahui

Bulan Syawal merupakan bulan kesepuluh dalam penanggalan kalender hijriyah. Kehadiran bulan ini selalu dinanti umat Islam di seluruh dunia.

Gus Dur, “Bapak Tionghoa Indonesia” yang Menjadi Simbol Perjuangan untuk Kesetaraan dan Pluralisme

Bagi Gus Dur, masyarakat Tionghoa adalah bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia. Beliau menekankan pentingnya membuka semua pintu kehidupan bagi mereka agar dapat berkontribusi sepenuhnya sebagai warga negara Indonesia.

H. Masagung, Mualaf Tionghoa yang Mengukir Sejarah dalam Bisnis dan Dakwah

Haji Masagung menjalankan prinsip ini hingga akhir hayatnya. Bahkan, di Multazam, ia berdoa agar dirinya selalu bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi bangsa dan agama.

“Sêngit ndulit, gêthing nyanding”

Mengapa membenci? Itu lebih merupakan pertanyaan filsafat ketimbang psikologi. Tak pernah ada penjelasan yang mudah untuk setiap kasusnya. Bahkan lebih sering yang didaku sebagai penjelasan sesungguhnya hanyalah pembenaran.

Membaca Kembali Tulisan Husni Djamaluddin "Muballigh, Menyihir dengan Syair"

Dengan mengaku hanya menulis puisi-puisian, Mustofa Bisri justru mendemonstrasikan bagaimana dengan puisi ia mampu melemparkan kritik sosial sambil bercanda. Bagaimana mengeritik tanpa rasa marah.

Kepribadian di Media Sosial: Membaca Watak Lewat Respons, Bukan Sekadar Postingan

Di era media sosial, citra diri dapat dibangun dengan rapi dan terukur. Foto dipilih, caption dipoles, narasi disusun sesuai persona yang ingin ditampilkan ke publik.

Cara Gus Dur Menerangkan Pluralisme, Demokrasi, dan Islam dengan Bahasa Bayi

Bagi Gus Dur, pluralisme itu sederhana “Yang penting bisa hidup bersama, saling kenal, dan saling bermanfaat. Seperti kata Nabi, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat manusia.”

Menampilkan 1 - 10 dari 800 Sosial Budaya