DONASI untuk pengembangan profil pesantren 1.820, kitab 700, makam 634, biografi Ulama 2.577 dan silsilah, tuntunan ibadah, Al-Qur'an dan Hadis serta asbabulnya, weton, assessment kepribadian, fitur komunitas media sosial.
Seri Wayang Kebatinan Islam pada bagian ini menyampaikan Spiritualitas dalam Dunia Pewayangan.
Perkembangan wayang di Indonesia merupakan hasil dari proses yang berkesinambungan antara masa yang berbeda, sampai mengalami penyempurnaan seperti sekarang ini.
Perkembangan wayang dari masa ke masa, bagian masa Hindhu-Budha.
Sejarah perwayangan setelah masa Pra Sejarah, Hindhu-Budha, maka memasuki masa Islam yang dimulai dari kerajaan Demak dan Pajang.
Wayang di zaman kerajaan Mataram mengalami perkembangan yang signifikan dengan adanya pengembangan perwatakan pada para tokoh wayang,
Perkembangan wayang kulit di masa paska kemerdekaan menarik disimak dengan adanya pengembangan dari penerimaan perangkat modern.
Wayang kulit sebagai diamanahkan oleh Wali Sanga adalah sebagai media dakwah Islam kepada masyarakat dengan mempertimbangkan perkembangan zaman.
Perkins menceritakan sebuah pertunjukan wayang yang tragis, di mana tokoh perjuangan nasional dari Belanda, terbunuh akibat 'provokasi' dari pertunjukan wayang.
LADUNI.ID, Jakarta – Pada pergelaran wayang kulit di De’ Tjolomadoe, Karanganyar, Jawa Tengah, pada Sabtu (10/11) malam. [Gambar] Saat Mendagri RI peringati Hari Lahir Pancasila, di Lapangan Pacasila (Simpang Lima) Kota Semarang, Kamis (1/6) malam.
Mbah Paijo adalah tokoh kejawen yang dikenal ramah, sederhana dan dihormati, tapi tidak mau sholat.
Dakwah itu harus se-kreatif Wali Songo. Ketika di Jawa gandrung dengan kesenian, Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, menciptakan suatu yang karya monumental, yaitu wayang.
Pemerintah Indonesia sudah harus tegas melumpuhkan pontensi intoleransi dan radikalisme, juga potensi perusak budaya Nusantara.
Hampir sepekan jadi polemik, wayang telah menjadi target yang diharamkan oleh penceramah yang tidak punya kapasitas paham tentang hukum Islam (fikih).
Seni pertunjukan wayang yang tumbuh dan berkembang di Jawa merupakan kesenian tradisonal yang mampu bertahan dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman dengan segala aspek perubahan-perubahannya. Perkembangan seni pertunjukan wayang di pengaruhi oleh kondisi sosial, yang berpengaruh terhadap perubahan fungsi seni pertunjukan wayang.
Kepercayaan yang berkembang di Nusantara sekitar 1500 tahun sebelum Masehi adalah bentuk kepercayaan Animisme. Dalam kepercayaan ini, orang meyakini bahwa roh orang yang telah meninggal masih tetap hidup dan memiliki kemampuan untuk memberikan pertolongan kepada manusia yang masih hidup.
Abimanyu adalah putra kesayangan dari Arjuna, penengah dari Pandawa dan cucu Prabu Pandudewanata, raja Negeri Astina. Ibunya bernama Dewi Subadra dalam pewayangan lebih dikenal dengan sebutan Dewi Wara Sembadra, putri Prabu Basudewa raja negeri Matura/Madura/ Mandura dengan Dewi Dewaki.
Anggada adalah salah satu tokoh wayang yang berwujud kera berbulu merah. Dia anak tunggal Resi Subali, raja kera dari Kerajaan Guwakiskenda, sedangkan ibunya seorang bidadari ‘bernama Dewi Tara. itulah sebabnya, ia juga disebut Subaliputra atau Subalisuta.
Profil Semar memberikan gambaran tentang pentingnya kita berhubungan dengan Tuhan.
Sadewa dikenal sebagai saudara kembar Nakula dan merupakan putra Prabu Pandu Dewanata dari istrinya, Dewi Madrim.
Wayang yang kita lihat sekarang ini berbeda dengan wayang pada masa lalu, begitu pula wayang di masa depan akan berubah sesuai zamannya. Tidak ada sesuatu seni budaya yang mandeg atau berhenti. Seni budaya akan selalu berubah dan berkembang, namun perubahan seni budaya wayang ini tidak berpengaruh terhadap jati dirinya. karena wayang telah memiliki landasan yang kokoh.
Dewi Ambika (Ambalika) dan Dewi Ambaliki (Ambiki) adalah putri Raja Prabu Darmahumbara atau Prabu Darmamuka dari Kerajaan Giyantipura, yang dalam Mahabharata juga dikenal sebagai Kerajaan Kasi atau Kasipura.