Biografi Syekh Yasin Al-Fadani

 
Biografi Syekh Yasin Al-Fadani

Daftar Isi

1        Riwayat Hidup dan Keluarga
1.1     Lahir
1.2     Riwayat Keluarga  
1.3     Wafat

2         Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau
2.1      Mengembara Menuntut Ilmu 
2.2      Guru-Guru Beliau
2.3      Mendirikan dan Mengasuh Madrasah Darul-Ulum

3         Penerus Beliau
3.1      Putera-puteri Beliau
3.2      Murid-murid Beliau

4         Karya Beliau

5         Kisah Teladan
5.1      Sosok Sederhana
5.2      Tawadu dan Alim

6         Karomah
6.1      Menguji Kewalian Syekh Yasin Al Faddani
6.2      Memberi Petunjuk KH. Hamid dari Mekkah

7         Referensi

 

1        Riwayat Hidup dan Keluarga

1.1     Lahir

Abu Al-Faidh’ Alam Ad Diin Muhammad Yasin bin Isa Al-Fadani atau yang kerap dipanggil dengan sapaan Syekh Yasin Al-Fadani lahir di Mekkah pada tahun 1915.

1.2     Riwayat Keluarga

Begitu giatnya Syekh Yasin al-Faddani menuntut ilmu sampai-sampai hampir “lupa” menikah. Padahal, saat itu usianya sudah mau menginjak kepala empat. Ini lantas menjadi pikiran orang tuanya dan juga para rekan sejawat. Demikian pula, tidak sedikit kalangan elite terpelajar Haramain yang berkeinginan menjadikannya menantu lantaran besarnya nama baik yang melekat pada diri Syekh Yasin al-Faddani. Syekh Yasin al-Faddani menikah di usia 40 tahun, beliau meninggalkan seorang istri dan empat orang putra.

1.3     Wafat

Tahun 1990 Syekh Yasin Al-Fadani dipanggil menghadap Allah SWT, seluruh dunia merasa kehilangan sosok ulama hadist yang mumpuni dan menjadi sumber rujukan ilmu. Dan kebesaran Allah ditampakan oleh para hadirin yang hadir dalam prosesi penguburan ulama besar tersebut.

Begitu Jenazah dimasukkan ke liang lahat bukan liang yang sempit dan lembab yang tampak tapi liang tersebut berubah menjadi lapangan yang luas membentang disertai dengan semerbak wewangian yang harum dan menyegarkan.

2         Sanad Ilmu dan Pendidikan Beliau

2.1      Mengembara Menuntut Ilmu 

Syekh Yasin mulai belajar dengan ayahnya Syekh Muhammad Isa, kemudian dilanjutkan ke Ash-Shautiyyah guru-gurunya antara lain Syekh Muhktar Usman, Syekh Hasan Al-Masysath, Habib Muhsin bin Ali Al-Musawa.

Sekitar tahun 1934 terjadi konflik yang menyangkut nasionalisme, direktur Ash-Shautiyyah telah menyinggung beberapa pelajar asal Asia Tenggara terutama dari Indonesia, maka Syekh Yasin mengemukakan ide untuk mendirikan Madrasah Darul Ulum di Mekkah, banyak dari pelajar Ash-Shautiyyah yang berbondong-bondong pindah ke Madrasah Darul Ulum, padahal madrasah tersebut belum lama didirikan.

Syekh yasin kemudian ditunjuk untuk menjabat sebagai wakil direktur Madrasah Darul Ulum Mekkah, disamping itu Syekh Yasin mengajar di berbagai tempat terutama di Masjidil haram.

Materi materi yang disampaikan Oleh Syekh Yasin mendapat sambutan yang luar biasa terutama dari para pelajar asal Asia Tenggara. Syekh Yasin juga dikenal sebagai sosok ulama yang sering minta Ijazah dari para ulama-ulama terkemuka sehingga Beliau memilki sanad yang luar biasa banyaknya.

2.2      Guru-Guru Beliau

Adapun guru-guru beliau saat masih muda mencari ilmu adalah:

  1. Syekh Umar Hamdan al-Mahrusi
  2. Syekh Muhammad Ali Husain al-Maliki
  3. Syekh ‘Umar Bajunaid (Mufti Syafi’iyyah Makkah)
  4. Syekh Sa’id bin Muhammad al-Yamani
  5. Syekh Hasan al-Yamani
  6. Qawaid al-Fiqhiyyah
  7. Syekh Muhsin ibn ‘Ali al-Falimbani al-Maliki 
  8. Sayid ‘Alwi bin ‘Abas al-Maliki al-Makki
  9. Syaikh khalifah an-Nabhani.

2.3      Mendirikan dan Mengasuh Madrasah Darul-Ulum

Syekh Yasin Al-Fadani merupakan pencetus ide berdirinya Madrasah Darul-Ulum sekaligus menjadi murid pertama madrasah itu. Konon sebab tercetusnya ide membangun Madrasah tersebut disebabkan karena tindakan dan perlakuan direktur Madrasah Shaulatiyyah yang sangat menyinggung (hususnya) pelajar yang kebanyakan dari Asia Tenggara saat itu. Hal ini terbukti dengan berpindahnya 120 orang pelajar dari Shaulatiyyah ke Madrasah Darul-Ulum yang baru didirikan.

Ini hampir tidak pernah dialami oleh Madrasah-madrasah yang baru dibuka mendapat murid yang begitu banyak sebagaimana Darul-Ulum. Dalam sebuah situs dinyatakan bahwa pada tahun 1934, karena suatu konflik yang menyangkut kebanggaan nasional orang Indonesia, guru dan murid ‘Jawah’ telah keluar dari Shaulatiyah dan mendirikan madrasah Darul Ulum di Makkah.

3         Penerus Beliau

3.1      Putera-puteri Beliau

Putera-puteri beliau adalah:

  1. Muhammad Nur ‘Arafah Yasin Al Fadani
  2. Fahad Yasin Al Fadani
  3. Ridha Yasin Al Fadani
  4. Nizar Yasin Al Fadani

3.2      Murid-Murid Beliau

Syekh Yasin Al-Fadani tampil sebagai sosok ulama yang mampu mencetak murid-murid yang sangat mencintai ilmu diantara murid Beliau adalah

  1. Syekh Muhammad Ismail Zaini Al-Yamani
  2. Syekh Muhammad Muhktaruddin
  3. Habib Hamid Al-Kaff
  4. KH. Ahmad Damhuri (Banten)
  5. KH.  Abdul Hamid (Jakarta)
  6. KH. Maimun Zubair (Rembang)
  7. KH. Sahal Mahfudz (Pati, Jateng)
  8. KH. Ahmad Muthohar (Mranggen, Demak)
  9. KH. Ahmad Muhajirin (Bekasi)
  10. KH. Zayadi Muhajir
  11. KH. Syafi’i Hadzami

Dan di antara murid-murid yang pernah berguru dan mengambil Ijazah sanad-sanad Hadits dari beliau adalah

  1. Al-Habib Umar bin Muhammad (Yaman)
  2. Prof. Dr. Syekh Ali Asshabuni (ulama ahli tafsir, Syam)
  3. Doctor M. Hasan Addimasyqi
  4. Syekh Isma’il Zain Alyamani
  5. Prof. DR. Ali Jum’ah (Mufti Mesir)
  6. Syekh Hasan Qathirji
  7. Tuan Guru H. M. Zaini Abdul-Ghani (Kalimantan)

Masih banyak murid beliau yang tersebar di pelosok penjuru dunia yang meneruskan perjuangan Syekh Yasin Al-Fadani.

Termasuk bangsa Indonesia boleh berbangga bahwa bangsa kita memilki Ulama-ulama yang sangat terkenal dan diakui ketinggian ilmunya di Mekkah maupun di dunia Sebut saja Syekh Muhammad Nawawi Al Bantani, Syekh Mahfudz Termas, Syekh Baqir bin Nur Al Jogjawi, Syekh Yasin Al-Fadani (Padang), Syekh Ahmad Khatib Sambas (Kalimantan), Syekh Muhammad Zainuddin Al-Fanshuri (Lombok) dan lain-lain.

4         Karya Beliau

Jumlah karya beliau mencapai lebih dari 97 Kitab, di antaranya 9 kitab tentang Ilmu Hadits, 25 kitab tentang Ilmu dan Ushul fiqih, 36 buku tentang ilmu Falak, dan sisanya tentang Ilmu-ilmu yang lain.

Dan semua karyanya tersebar dan menjadi rujukan lembaga-lembaga Islam, pondok pesantren, baik itu di Mekkah maupun di Asia Tenggara. Susunan bahasa yang tinggi dan sistematis serta isinya yang padat menjadikan karya Syekh Yasin banyak digunakan oleh para ulama dan pelajar sebagai sumber referensi :

  1. Al-Durr al-Mandlud Syarh Sunan Abi Dawud, 20 Juz
  2. Fath al-'Allam Syarh Bulugh al-Maram, 4 jilid
  3. Nayl al-Ma'mul 'ala Lubb al-Ushul wa Ghayah al-wushul
  4. Al-Fawaid al-Janiyyah Ala Qawa'idil Al-Fiqhiyah
  5. Jam'u al-Jawani
  6. Bulghah al-Musytaq fi 'Ilm al-Isytiqaq
  7. Idha-ah an-Nur al-Lami' Syarh al-Kaukab as-Sathi'
  8. Hasyiyah 'ala al-Asybah wan an-Nazhair
  9. Ad-Durr an-Nadhid
  10. Bulghyah al-Musytaq Syarh al-Luma' Abi Ishaq
  11. Tatmim ad-Dukhul Ta'liqat 'ala Makhdal al-Wushul ila 'Ilm al-Ushul
  12. Nayl al-Ma'mul Hasyiyah 'ala Lubb al-Ushul wa syarhih Ghayah al-Wushul
  13. Manhal al-Ifadah
  14. Al-Fawaid al-Janiyyah Hasyiyah 'ala al-Qawaid al-Fiqhiyyah
  15. Janiyy ats-Tsamar Syarh Manzhumah Manazil al-Qamar
  16. Mukhtashar al-Muhadzdzab fi Istikhraj al-Awqat wa al-Qabilah bi ar-Rubi'i al-Mujib
  17. Al-Mawahib al-Jazilah syarh Tsamrah al-Washilah fi al-Falaki
  18. Tastnif al-Sami'i Mukhtashar fi Ilmi al-Wadh'i
  19. Husn ash-Shiyaghah syarh kitab Durus al-Balaghah
  20. Risalah fi al-Mantiq
  21. Ithaf al-Khallan Tawdhih Tuhfah al-Ikhwan fi 'Ilm al-Bayan
  22. Ar-Risalah al-Bayaniyyah 'ala Thariqah as-Sual wa al-Jawab
  23. Al-Ujalah fi al-Ahadith al-Musalsalah

5         Kisah Teladan

5.1         Sosok Sederhana

Dan yang sangat menarik adalah sosok Syekh Yasin Al-Fadani adalah kesederhanaannya, walaupun beliau seorang ulama besar namun beliau tidak segan-segan untuk keluar masuk pasar memikul, dan menenteng sayur mayur untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Dengan memakai kaos oblong dan sarung, Syekh Yasin juga sering nongkrong di warung teh sambil menghisap Shisah (rokok arab).

Tak ada seorang pun yang berani mencelanya karena ketinggian ilmu yang dimiliki Syekh Yasin. Dan jika musim haji tiba Syekh Yasin mengundang ulama-ulama dunia dan pelajar untuk berkunjung kerumahnya untuk berdiskusi dan tak sedikit dari para ulama yang meminta Ijazah Sanad hadist dari Syekh Yasin. Namun biarpun lewat dari musim haji rumah Syekh Yasin pun selalu ramai dikunjungi para ulama dan pelajar.

Mengenai kesehari-harian Syekh Yasin, ada salah seorang Kiai, Sukarnawadi H. Husnuddu’at mengatakan:

“Syekh Yasin orangnya santai, sederhana, tidak menampakkan diri, sering muncul menggunakan kaos biasa, sarung, dan sering nongkrong di “Gahwaji” untuk Nyisyah (menghisap rokok arab) tak seorangpun yang berani mencela beliau karena kekayaan ilmu yang beliau miliki”.

5.2         Tawadu dan Alim

Syekh Yasin juga sering mengadakan kunjungan-kunjungan keberbagai negara terutama di Indonesia, tak sedikit dari para ulama-ulama yang bertemu Syekh Yasin ingin dianggap murid oleh beliau dan minta ijazah sanad hadist.

Dan kejadian yang menarik adalah sewaktu Syekh Yasin berkunjung ke Indonesia banyak dari para ulama dari berbagai daerah di Indonesai berbondong-bondong menemui Syekh Yasin untuk dianggap murid salah satunya adalah KH. Syafi’i Hadzmi.

KH. Syafii datang menemui Syekh Yasin Al-Fadani untuk diangkat sebagai murid namun Syekh Yasin menolaknya, bukan karena tidak suka tapi karena dirinyalah yang pantas menjadi Murid KH. Syafi”i Hadzami.

Namun Syekh Yasin Menganggap bahwa dirinya tidak pantas menjadi guru dan beliau mengatakan bahwa kedalaman ilmu yang dimiliki KH. Syafi’i Hadzami tak diragukan lagi. KH Syafi’i Hadzami begitu terkenal namanya di Mekkah sebagai sosok ulama Indonesia yang memiliki keluasan ilmu.

Begitulah sosok Syekh Yasin Al-Fadani yang sangat menghargai para ahli ilmu.

6         Karomah     

6.1         Menguji Kewalian Syekh Yasin al Faddani  

Ini kisah tentang Syekh Yasin al Faddani seorang ulama masyhur Mekah dan santrinya yang iseng Cerita ini adalah tentang santri yang ingin mengetahui kewalian gurunya. Kisah ini datang dari Kiai Zakwan Abdul Hamid yang mengenang sosok gurunya itu.

Suatu hari Zakwan ingin sekali menguji kebenaran tentang kewalian syekh Yasin al Faddani. Ulama asal Padang itu memang sangat populer di Mekkah. Muridnya banyak dan datang dari berbagai penjuru. Peritiwa ini bermula di kediaman Syekh Yasin. Saat itu bertepatan dengan hari Jumat dimana gurunya itu sering melaksanakan sholat Jumat di masjid terdekat tidak di Masjidil Haram.

Dasar usil, Zakwan punya niat iseng agar Syekh Yasin terlambat sholat Jumat. Diajaklah Syekh yasin ngobrol ngalor ngidul hingga akhirnya mengabaikan kumandang adzan tanda Jumatan sudah dimulai. Teman Zakwan sengaja mengulur waktu hingga khutbah kedua. Zakwan dan temannya kemuduan pergi ke masjid sambil berlari. Mereka berfikir Syekh Yasin tidak mungkin sholat Jumat, karena jarak ke masjid agak jauh.  Apalagi kalau Syekh Yasin sholat ke Masjidil Haram tentu tidak mungkin karena rumahnya berjarak sangat jauh. Sedangkan semua mobil pengantar susdah berangkat.

Akhirnya Zakwan dan temannya bisa sholat Jumat sambil berfikir bahwa syekh Yasin tidak jumatan. Mereka kemudian sampai di rumah dan bertemu dengan gurunya.  Saat berjumpa, wajah Syekh Yasin tampak gembira bahkan tidak merasa bersalah tertinggal sholat Jumat. Kedua santrinya itu menjadi tertawa geli. 

Sejurus kemudian, Syekh Yasin memanggil Zakwan dan berkata,” Tolong siapkan teh ada tamu yang mau datang.”

“Bagaimana Syekh Yasin bisa tahu ada tamu yang mau datang kerumahnya,” batin Zakwan Namun tanpa pikir panjang ia segera menyiapkan apa yang menjadi dawuh gurunya itu.

Sejenak kemudian datanglah dua orang Arab. Mereka kemudian diperilahkan duduk dan menyantap hidangan yang disuguhkan. Kemudian Zakwan mendengar bahwa salah seorang dari tamu itu mengatakan bahwa setelah sholat Jumat di Masjidil Haram  ada satu hadis yang belum diijazahkan oleh Syekh Yasin. Sedangkan yang satunya Syekh Yasin berjanji akan mengijazahkan semuan di rumah.  

Mendengar kedua tamu itu berdialog dengan Seykh Yasin al Fadani, Zakwan kaget, Ia bertanya-tanya dalam dirinya, ” Jumatan di Masjidil Haram? Bukankah tadi Syekh Yasin tidak berangkat sholat Jum’at? Rasanya tidak mungkin Syaikh Yasin bisa menjangkau Masjidil Haram jika di Utaibiyyah saja khutbah sudah masuk sesi kedua?”

Tidak lama kemudian Syekh Yasin masuk ke kamarnya, Zakwan kemudian memberanikan diri bertanya kepada kedua tamu gurunya itu. “ Apa benar kalian berdua tadi bertemu Syekh di Masjidil Haram?”

Salah satu dari mereka kemudian menjawab, ” Betul, tadi kami melihat beliau duduk bersandar di tiang dekat Babul Shofā.”  Setelah mendengar penjelasan tersebut, Zakwan yakin bahwa gurunya merupakan seorang waliyullah. 

6.2         Memberi Petunjuk KH. Hamid dari Mekkah

 

Dikisahkan ketika KH. Abdul Hamid di Jakarta sedang mengajar dalam ilmu fiqih “bab diyat”, beliau menemukan kesulitan dalam suatu hal sehingga pengajian terhenti karenanya. Malam hari itu juga, beliau menerima sepucuk surat dari Syekh Yasin, ternyata isi surat itu adalah jawaban kesulitan yang dihadapinya. Ia pun merasa heran, dari mana Syekh Yasin tahu…? Sedangkan KH. Abdul Hamid sendiri tidak pernah menanyakan kepada siapapun tentang kesulitan ini..! Syekh.

8         Referensi

https://wiki.laduni.id/Syekh_Yasin_Al_Fadani

 

 

 

Lokasi Terkait Beliau

    Belum ada lokasi untuk sekarang

List Lokasi Lainnya